Ketergantungan Film Komedi Kita terhadap Tokoh Waria

Ketergantungan Film Komedi Kita terhadap Tokoh Waria

Kepada yang terhormat penulis skenario komedi dan aktor komedi. Kalau boleh, izinkanlah saya di sini berpesan sedikit kepada Anda. Sebuah pesan sederhana dari lubuk hati yang terdalam:

Tolong, melawaklah sebagai lelaki (atau perempuan) sejati. Kocoklah perut kami, penggemar kalian, dengan silat logika yang kreatif. Bukan dengan tokoh pria yang didandani perempuan. Bukan dengan mengeksploitasi tokoh waria. Bukan dengan adegan-adegan “jeruk” mengejar “jeruk”.

Tokoh Waria dalam Perfilman

Masih kurangkah tokoh waria (wanita pria), alias wadam (wanita adam), alias banci, alias bencong, di pertelevisian, film, maupun reality show kita? Baik pemerannya bencong sungguhan maupun dibuat-buat.

Masih kurangkah? Berapa tokoh waria lagi yang harus disajikan sampai Anda puas?

Saya kehilangan jejak, kapan tepatnya trik mengeksploitasi ketidaknormalan waria sebagai alat pencipta tawa ini pertama dipergunakan di jagat perfilman kita. Namun, memang, Anda bukan yang pertama.

Saya lupa berapa kali Dono, Kasino dan Indro (DKI) menjadi tokoh waria dalam film-filmnya. Entah itu di zaman keemasannya maupun di era film Warkop yang diproduksi untuk layar gelas. Anda mungkin masih ingat salah satu sekuens di Makin Lama Makin Asyik (A. Rachman, Indonesia: 1987). Tokoh Timbul terpesona dengan DKI yang menyamar jadi trio pendendang lagu Mama Yukero.

Tanyakan kepada saya, kocakkah adegan itu? Saya akan menggeleng. Yang kocak justru Timbul. Kenapa juga ia masih terpesona dengan tiga wanita jadi-jadian itu? Padahal les triplettes de belleville tersebut (apalagi Indro yang masih kelihatan kumis lebatnya) jelas-jelas berdandan berantakan meniru wanita (lebih tepatnya meniru waria, karena siapapun tahu perempuan tidak sebombastis itu dalam menampilkan keanggunannya).

Inilah adegan pria (DKI) dianggap menarik secara seksual oleh pria lainnya (Timbul).

Sekedar info, menurut Perfin, Makin Lama Makin Asyik ialah film bioskop terlaris di Jakarta tahun 1987 dengan 504.220 penonton. Adakah penonton anak-anak di film-film Warkop DKI yang rata-rata boxoffice itu?

Banyak. Jadi nilai “pria boleh tertarik pada pria, asalkan pria itu berdandan mirip perempuan” ini tentunya tersosialisasikan dengan gemilang ke alam bawah sadar anak.

Tokoh Waria dalam Layar Kaca

Setelah lebih dari dua dasawarsa, adegan setipe rasanya makin menjamur. Lihat saja sinetron-sinetron kita, terutama yang komedi. Buat dewasa, buat remaja, buat anak-anak, semua ada warianya.

Atau seperti yang kemarin sore saya lihat di sinetron stripping Cerita SMA, tokoh Baim dijadikan perempuan, lengkap dengan rambut palsu dan pakaian cewek. Aih, anak sekecil itu sudah dikenalkan dengan “penyimpangan”.

Memerankan tokoh waria sendiri seolah tantangan terdahsyat dalam dunia keaktoran. Baru-baru ini, saya menonton sebuah talkshow yang pembawa acaranya menanyai si bintang tamu bagaimana seandainya dia diberi peran bencong dalam sebuah film. Laki-laki itu menjawab setelah berpikir beberapa detik, “Enggak papa lah. Demi tuntutan naskah.”

Ya, memang inilah tren kita sekarang. Jika seorang aktor menolak memerankan waria, ia akan dicap tidak profesional, terlalu jaga imej, kemampuan akting dan mentalnya meragukan, bla bla bla. Makanya pada kontes-kontes pelawak (macam API TPI atau Audisi Extravaganza TransTV) senantiasa ada tokoh banci. Dalam naskah-naskah acara komedi, tokoh waria tak pernah absen.

Coba, bisakah Anda menyebutkan nama anggota Extravaganza pria yang belum pernah memerankan tokoh banci? Takkan bisa! Sebab semua pernah. Bahkan pernah ada sketsa Luna Maya jadi bencong. Ini pasti terinspirasi peran Luna sebagai tokoh waria di film layar lebar Jakarta Undercover (Lance, Indonesia: 2007). Namun, ikon banci di Extravaganza, siapa lagi kalau bukan Aming.

Bagaimana menurut Anda tokoh Pinky Boy atau tokoh-tokoh waria yang diperankan Aming di Extravaganza? Aming Sugandhi adalah jenius di bidangnya, the raising star yang baru kita temukan pada awal milenium ini. Namun, saya jauh lebih banyak tertawa ketika dia melawak sebagai laki-laki, meskipun terkadang celetukan-celetukannya sarkas.

Kecuali bila skrip cerita di mana Aming memerankan waria benar-benar baru dan kreatif, paling-paling apa yang disuguhkan:

  • Aming mengharap cinta dari rekan-rekan prianya
  • Aming agresif menggoda bintang tamu cowok
  • Aming bergoyang high impact ala biduanita dangdut
  • Aming pakai BH yang kemudian sengaja diguncang-guncangkan (mengingatkan saya pada trik baheula Tessy dalam mencipta ger-geran penonton studio)

Oh ya, ini satu lagi formula pakem: Si tokoh waria awalnya terlihat feminim, konsisten dengan “kewanitaannya”. Namun ada satu titik picu yang membuatnya tiba-tiba berlaku dan bersuara seperti fitrahnya (pria). Penonton hampir selalu tergelak jika si banci memainkan skenario ini.

Padahal, saya ingat benar, trik lawak begini sudah dipraktikkan teman-teman SMP di pentas sandiwara sejak kami masih berpakaian putih-biru.

Dahulu saja, waria sudah populer di mata bocah-bocah. Apalagi sekarang saat ada 10 stasiun televisi nasional, ditambah stasiun televisi lokal (yang juga berpeluang memakai tokoh waria sebagai pemicu tawa) yang jumlahnya puluhan, bahkan ratusan.

Normalisasi Tokoh Waria

Melihat fenomena ini, seorang teman tiba-tiba bertanya, “Apa enggak ada yang takut kalau dengan tayangan-tayangan ini jumlah waria bisa meningkat? Apa enggak ada yang prihatin, waria bakalan makin mendapat tempat di masyarakat.”

“Telat, men!” sahut saya, “Where’ve you been?”

Semua itu sudah dan sedang terjadi. Saya pikir kaum queer (termasuk gay dan lesbi) diterima secara apa adanya di masyarakat merupakan sebuah keniscayaan. Toh, mereka bukan orang jahat (faktanya jauh lebih banyak orang normal yang jahat). Tinggal tunggu waktu saja.

Jangankan sekadar eksistensi, pernikahan sesama jenis yang saat ini dilarang di Indonesia pun, cepat atau lambat, pasti akan dibolehkan.

Di negara bersistem demokrasi, apapun bisa asalkan tidak melanggar HAM, bukan kriminal, dan–ini poinnya–telah disepakati bersama oleh (wakil) rakyat. Pelacuran dan perjudian pun bisa jadi legal, kalau mau. Seandainya pemerintah menghalangi pernikahan sesama jenis, itu artinya mengekang HAM calon pengantin. Tidak boleh, itu! Beginilah konsekwensi negara demokrasi, mau bagaimana lagi?

Di kutub lain, tatkala acara yang menampilkan seorang waria atau tokoh fiktif waria kian marak, keinginan orang yang punya kecenderungan itu untuk sembuh pun menurun. “Ah, itu ada temen waria sukses di TV. Ngapain juga eyke susah-susah berusaha balik jadi lekong. Enggak unik lagi, dong, eyke. Ntar enggak bisa dipakai buat cari duit, dong, Boooo’!”

Lantas, anak-anak yang terdeteksi punya kecenderungan seksual bengkok makin sulit diluruskan, sebab makin banyak contoh yang menginspirasinya.

Jangan heran bila suatu hari, Thomas yang berumur 12 tahun memprotes ibunya, “Ngapain sih, Ma, paksa aku main sepak bola sama anak-anak kasar itu! Aku ini sukanya main sama si Manda, Indah, Rosa, Yuni. Eh, Rosa baru beli rok bagus, lo, Ma! Aku juga lagi nabung, buat beli rok kayak gitu. Soalnya kalau minta Mama enggak mungkin dikasih. Pasti alasannya, ‘Anak laki kok pakai rok!’ Mama enggak pernah nonton TV, sih. Lihat tuh Aming, kayak aku. Pakaiannya juga rok mini. Dia tuh lucu, Ma. Temennya banyak. Terkenal. Penggemarnya se-Indonesia. Enggak ada yang protes lihat tingkah laku kemayunya. Mereka malah terhibur. Enggak ada yang bawel kayak Mama! Coba deh, Ma, sekali-kali hargai, dong, kesukaan aku, pilihan aku, hidup aku!”

Pejamkan mata Anda sejenak. Seandainya buah hati Anda sendiri yang mengucapkan kalimat-kalimat maut itu, bagaimana perasaan Anda?

Berharap Yang Terbaik

Persoalannya, apakah menjadi bengkok merupakan takdir permanen atau masih bisa diluruskan? Saya tidak tahu persisnya, karena saya tak pernah mengalaminya sendiri.

  • Ada versi yang mengatakan itu genetis, sehingga untuk mengembalikannya adalah sebuah mission impossible.
  • Ada yang bilang dengan mantap: Bisa disembuhkan!
  • Ada lagi yang bilang bisa, tetapi lihat-lihat dulu berapa derajat kebengkokannya.
  • Ada yang bilang faktor lingkunganlah yang paling dominan.
  • Ada yang bilang niat sembuhlah yang paling berpengaruh.

Entahlah….

Yang jelas, wahai penulis skenario dan aktor komedi yang saya kagumi, saya masih percaya, tidaklah bijak terus-terusan menghadirkan tokoh waria di mata penonton kita, sekalipun dalam konteks humor.

Sebab, dengan tontonan semacam itu, mereka yang normal (tetapi agak goyah) bisa-bisa jadi melenceng, sementara yang sudah melenceng jadi enggan balik lurus. Semua kebengkokan ini akan menjadi common sense. Mungkin tidak secara langsung dan seketika. Karena yang terserang oleh tayangan-tayangan tersebut adalah alam bawah sadar penonton.

Saya lebih menghargai yang dilakukan Dorce. Dia tetap lucu dan cerdas, tanpa mempertontonkan kelakuan-kelakuan waria di acara-acaranya. Anak-anak kecil, kalau tidak dikasih tahu, pasti berpikirnya, “Bunda Dorce itu perempuan.”

Saya bukannya membenci queer persons, Saudara-saudara. Bagaimana mungkin? Dosen saya dulu pendiri Gaya Nusantara. Rambut saya kadang dipotong di salon yang dikelola para waria. Sewaktu kuliah, saya pun pernah meneliti komunitas waria (dua kali malah), homoseksual, dan kelompok sadomasokis.

Penelitian-penelitian saya tersebut cenderung beraliran subyektivisme, yang artinya saya berada di pihak yang diteliti. Alih-alih menjijikkan atau menakutkan, sebagian besar mereka adalah orang-orang yang menyenangkan.

Saya tak pernah bermasalah dengan mereka. Di mata saya, kecenderungan orang menjadi bengkok merupakan cobaan Tuhan. Jadi, ini tergantung bagaimana orang itu menghadapi cobaan tersebut. Saya berdoa demi kebaikan mereka.

Namun, ada satu pernyataan yang bikin saya terkesan. Irma Soebechi, yang saat itu menjabat sebagai Wakil Ketua Persatuan Waria Kota Surabaya (Perwakos), berpesan dalam film dokumenter saya, “Mudah-mudahan, ke depannya, tidak ada lagi orang yang ditakdirkan menjadi waria. Cukup kami saja.”

Sebuah harapan yang mengharukan. Spontan, saya mengamininya dalam hati.

Akan tetapi, semua itu menjadi ironis manakala kita memencet tombol “on” di remote control. Tampaklah tokoh waria di sana-sini. Sebagian aktor-aktris, yang bahkan dilahirkan normal, justru berlomba-lomba membencongkan diri di televisi.

BAGIKAN HALAMAN INI DI

31 thoughts on “Ketergantungan Film Komedi Kita terhadap Tokoh Waria”

  1. Yup.
    Jadi semakin susah cari kawan main sepak bola di kosan. Takut kotor-lah, takut hujan-lah. Ugh!

    Btw,
    Salam kenal. Aku tau blog ini dari pdf Para Pencari Fiksi yang ditinggal user warnetku.
    Jadi tau kemana, karya-karyaku harus ku kirim
    😀
    Thanks!

    Reply
  2. Oh, gitu ya. Tp takut kotor takut hujan kan bukan berarti banci. Bisa aja mereka sekedar pria metorseksual, 🙂

    Wah, Para Pencari Fiksi udah nyampe warnetmu ya. Semoga e-book itu bermanfaat ya. Trims udah mampir sini, Pradna.

    Reply
  3. saya malah lebih kasihan pada karakter yang memainkan karakter waria tersebut. Setelah memainkan satu karakter waria, biasanya image terus menempel, dan dia akan mendapat role yang tidak jauh-jauh dari situ. Itu akan berpengaruh pada psikologi si aktor tersebut, langsung maupun tidak langsung akan menjadi waria. Mudah2an sih tidak.

    Saya lebih suka kalau karakter waria digantikan karakter homoseksual. Tapi apa ada sineas yang berani?

    Reply
  4. Tante saya beserta suami dan anak2nya demeeeen banget sama Irfan Hakim kalo lagi jadi waria di acara Ngelenong Nyok! di Trans TV. Saya heran, lucunya di mana, sih? Kalo gila, memang iya! Tapi gila bukan berarti lucu, kan?

    Mana dialog dan tingkah laku pemainnya setali tiga uang dengan Extravaganza dan Ceriwis (kasar-kasar, maksudnya), lagi. Memang, sudah saatnya “ketergantungan sesat” kayak gini dibatasi. Soalnya, di luar film dan TV, yang namanya waria justru jarang memancing tawa (kalo pun ketawa, paling sekali doang) karena orang pada umumnya lebih baik menghindar daripada dekat2 mereka. Jangan sampe deh, ada anak atau keponakan kita yang coba2 ngetawain mereka kayak di TV, bisa diuber, tuh! Waria kan manusia juga, bisa tersinggung kalo merasa dilecehkan. Ini yang membedakan antara waria di dunia nyata dengan “rekan” mereka di TV dan film.

    Reply
  5. Thx, Calvin & Pasha. Karakter waria diganti homoseksual? Wah, idem aja dong. Tp karakter gay jg udah banyak kok. Kebanyakan sih buat lucu2an jg. Dan tetap, aku jarang ketawa dg lucu2an kyk gini. Yah, kalau setiap hari dpt peran gitu, jiwanya lama2 bisa kyk gitu, krn dituntut hrs menghayati peran. Kasihan, emang. Makanya lwt tulisan ini aku mengajak para aktor yg biasa dibentuk menjadi waria oleh industri film untuk sadar, sebelum telat. Minta aja peran laki2. Masa’ dg menolak memerankan banci rejeki jd turun sih? Jg menghimbau para penulis skenario utk menciptakan kelucuan (sebisa mungkin) tanpa tokoh bencong. Bisa dong.

    Pasha, yg bikin tokoh waria2 marak di TV ya memang krn lbh banyak orang yg kayak tante, suami dan anak2nya. Orang yg prihatin kyk kita justru minoritas. Alasan yg sama terjadi pd segenap tetek bengek yg klise di sinetron2 kita. Kita tahu itu tdk mendidik, tp krn banyak yg suka, trik2 yg sama trs dipraktikkan. Yg minoritas itu kita, Pasha, bukan bencong2 dadakan itu.

    Reply
  6. Dear Brahmantyo, artikel Anda ini sungguh menggelitik dan tajam terarah ke sasaran. Bagi saya, inilah wajah “krisis kreativitas” yang parah bagi komunitas penulis komedi kita. Mereka sibuk mengejar tawa dengan “weird” tetapi tidak pernah mengejar “wisdom.” Apa wisdom itu ? Kejujuran.

    Hal aneh-aneh yang paling gampang adalah “main bencong” itu. Karena tak usah mikir. Tinggal memoles hal-hal luar, dan tak perlu melakukan inner journey untuk menemukan humor yang jujur, yang menyangkut hajat orang banyak (tak semua orang itu banci kan ?), tempat kita bercermin adn menertawai diri sendiri.

    Humor terbaik itu harus berbasis pada realitas, kejujuran, sementara penulis komedi klas bencong itu menganggap semua audiens adalah bencong pula semuanya ?

    Reply
  7. Trims udah mampir ke sini, Bambang. Ahhh … senangnya punya teman yg sepemikiran. Mari kita jadikan komedi Indonesia komedi bermutu. Nggak perlu komedi secerdas insinyur roket (nanti malah nggak ada yg ketawa). Tapi yah, setidaknya, jangan sampai komedi2 rendahan berjaya di Indonesia.

    Reply
  8. kalau hanya sekedar profesi bisa di maklumi kok..

    mereka juga butuh makan…

    asal jangan sampai merendahkan jender waria yang dalam realita nyata sangat berbeda dengan yang ada di televisi..

    Reply
  9. Hai, Endru. Trims sudah datang ke warung ini. Hm, “mereka juga butuh makan” itu rasanya alasan yg kualitasnya seperti “saya telat karena jalanan macet” saat kita terlambat ngantor/kuliah. Aku yakin artis2/penulis2 itu nggak bakal mati kelaparan gara2 menghilangkan peran waria.

    Sekali lagi, yg aku prihatinkan adalah penonton anak2. Aku pernah nonton “Padamu Negeri” di MetroTV. Di sana banyak pengakuan langsung dari anak2 kecil (SD), betapa mrk suka nonton sinetron remaja/dewasa. Kenapa? Karena lucu (baca: Memakai logika anak2), shg mrk pikir itu memang sinetron buat mrk.

    Kenapa aku prihatin? Pertama, karakteristik alamiah anak2 yg suka meniru (dlm hal ini kelakuan waria). Kedua, masa anak2 adalah masa yg tepat utk menanamkan idealisme dasar. Entah itu agama, antiagama (“agama itu buang2 waktu dan tdk logis!”, jangan kira nggak ada keluarga yg mendidik anaknya dg doktrin semacam ini), norma Jawa, atau nilai2 lainnya. Dlm hal ini idealisme bahwa menjadi waria itu bukan sesuatu yg patut dipersoalkan, bahkan waria itu lucu! Alam bawah sadar anak2 yg akan diserang (bolehkah aku menggunakan kata “dikontaminasi”?).

    Aku nggak tahu kalau kamu, tapi aku nggak ingin ada semakin banyak waria di Indonesia gara2 menjamurnya tayangan semacam ini. Pemikiran kuno, mungkin. Primordial, barangkali begitu. Tp inilah opiniku, Endru, inilah hati nuraniku. ^_^

    Reply
  10. saya pernah membuat naskah sebuah film pendek tentang waria yang di produksi teman2 di kota kendari,saya menampilkan adegan waria hanya dalam beberapa scen,dan berusaha memancing tawa penonton dengan tokoh cowok yang yang normal.namun lebih berhasil membuat penonton terpingkal2 dengan beberapa adegan bencong tadi,sebagai penulis saya jadi binggung apa memang penonton kita lebih suka menertawakan bencong,ehh padahal adegan bencong yang ada dalam film tersebut cukup serius….pusing saya jadinya…

    Reply
  11. Halo salam kenal. Aku nemuin blog ini pas iseng… kukasih tanggapan yach~

    Secara pribadi, kurasa ketertarikan sama queer person itu karena gaya hidupnya berbeda. Aku jaga jarak dari mereka juga karena nggak tahu gaya pemikiran mereka seperti apa (takutnya kalau disenggol ngamuk. Cewek kalau disenggol kan lempar pandangan tajam).

    Tawa biasanya terpancing karena hal-hal yang tidak lazim, dan mereka bagaikan bentuk nyata ketidak-laziman.

    Cowok kan biasanya pakai sepatu rata, tapi banci pakai sepatu hak. Merah muda lagi. Kan beda dari sepantasnya.

    Nah, kalau semua komedi pakai banci, berarti nggak lucu lagi.

    Gimana kalau nonton genre komedi baru aja: komedi politik? 😀

    Thx

    Reply
  12. wah, senang saya bisa ikutan terdampar di blog ini….

    Bicara mengenai trend tayangan di televisi, saya memiliki pandangan yang serupa dengan penulis bahwa betul-betul kita tengah bahaya hegemoni televisi yang kian menggerogoti. Dengan dalih rating dan trend pasar penonton dicekoki tayangan-tayangan yang tidak mendidik.

    keep posting….

    Reply
  13. Terima kasih, Cecep, Arick, Nadeer dan Rhakateza. Selamat datang di warung yg sederhana ini. Silakan masuk, silakan duduk. Yah itulah, Arick, masyarakat kita masih menganggap mjd waria sbg target tertawaan, bukan sbg cobaan yg menimpa saudara kita.

    Betul kata Nadeer, tawa biasanya terpancing karena hal-hal yang tidak lazim. Tp seharusnya itu tawa spontan, kalau kejadiannya diulang, seharusnya kita tdk tertawa lg. Misalnya, waktu antre di bank kita tiba2 melihat orang yg celananya melorot. Reflek, kita tertawa, entah itu melorotnya disengaja atau tidak. Tp kalau itu terjadi lg, seharusnya kita sdh nggak ketawa lg dong, seharusnya kita prihatin dg nasib orang itu, bahkan kasihan.

    Oh ya, Nadeer. Kyknya waria tuh sama aja dg kita. Kalau nyenggolmu keterlaluan, jls mrk ngamuk. Cowok aja jg gitu kan? Tp utk hal2 tertentu, waria mmg lbh sensitif dari cewek. Perasaan mrk jg sehalus wanita. Selebihnya biasa saja selain tingkah laku yg kemayu itu, Intinya, kalau mrk ada di lingkunganmu, nggak perlu lah jaga jarak dg mrk. Tp jg jgn mengeksploitasi keanehan mrk kyk sineas kita. Hegemoni (sineas) televisi, kata Rhakateza.

    Reply
  14. Wah, kemasukan orang gila ^_^. _a kyknya dari Bali (Denpasar) nih.

    Bos, saya tahu mulut Anda selalu kotor. Tp setidaknya suarakan opini Anda dg bahasa yg jelas, biar semua ngerti maksud kemarahan Anda. Dan satu lg: Pakai nama & email asli dong, kalau memang ksatria.

    Reply
  15. Om Brahm ( maaf yah saya panggil Om ) .. terima kasih banyak untuk tulisannya .. Saya sudah lama khawatir sama masalah ini terutama krn saya punya dua anak balita dan terus terang khawatir sama masa depan generasi mereka besok ..

    Apa perlu kita usul kan sama pemerintah supaya mencekal atau mengeluarkan RUU untuk mencekal penulis skenario , artis , komedian yg selalu menghadirkan Waria di TV atau kalau perlu stasiun TV nya sekalian yg di cekal ..

    Yg saya tauk , di malaysia itu ada UU yg melarang artis2 WARIA atau bertingkah seperti WARIA untuk muncul di depan Public baik itu TV , panggung hiburan dsb , mereka hanya boleh tampil untuk acara private saja dan itu terserah mau nge”mc , ngelawak atau apa aja .. tp tidak di depan public apalagi di depan anak anak …

    Saya harap , bangsa ini segera sadar dan klo gga sadar2 , mungkin memang harus ada undang2 nya yg mengatur dengan jelas urusan ini …

    Thanks yah ..

    Reply
  16. Terima ksh dukungannya, Mamah Naya. Rasanya nggak perlu UU, krn mencegah yg begini2 ini tugasnya KPI. Tinggal KPI lbh tegas aja. Selama ini KPI blm tegas sih, jd msh banyak stasiun TV yg ngulang2 kesalahan tanpa sanksi.

    Perdebatan tema waria ini sdh pernah ada di Debat TvOne. Yg aku tangkap sih, argumen mrk yg pro pelarangan waria lbh kuat dan berdasar. Fakta yg menyegarkan, bukan?

    Sebenarnya nurani bangsa ini blm hilang kok. Cuma kapitalis2 itu yg membuatnya seolah sudah tidak ada. Jd, mari dukung KPI menjalankan tugasnya, ya menertibkan kapitalis2 itu.

    Reply
  17. hallo om, slm knal yeh….
    gue farel, gue sependapat banget ma lo, klo mnurut gue sich para pembuat naskah2 ini harus banyak belajar lagi ke om Deddy Mizwar yang bisa bikin film2 komedi tanpa harus menghadirkan tokoh2 waria dalam film’y.. iya ga??? yaach… wlopun gue gak tau gimana caranya bikin film, tapi gue sedikitnya maniak film komedi+blue,,, heee (bo’ong gue becanda)

    Reply
  18. Halo, Farel … thx ya.

    Dedy Mizwar kan spesialis film komedi tp religi. Wajar kalau steril dari tokoh banci. Susah membayangkan film religi mengekspoitasi waria untuk menciptakan kelucuan (yg menurutku nggak lucu). Tantangan sebenarnya ada pd film komedi murni (nggak ada embel2 agama). Bisa nggak penulisnya melawak tanpa tokoh bencong?

    Reply
  19. Saya sangat setuju dengan apa yang anda tulis, sebenarnya bencong itu sama sekali nggak lucunya, lha apanya yang lucu, kalau ada yang bilang orang dengan dandanan bencong itu lucu, berarti selera humornya banci!!!

    Reply
  20. Yap, yap, yap. Tp waria2 itu jangan dimusuhi krn “ketidaknormalan” mrk. Kita berdoa sj bg kebaikan mrk. Sedangkan buat orang normal yg bilang dandanan bencong itu lucu, mungkin selera humornya memang banci.

    Reply
  21. yupy… sepakat mas!!! aku tu juga rada gimana gitu kalo lihat peran peran kyak gitu di tv, e… lha kok sekarang malah sering dan makin bnyak aja ntu peran2 kyak gitu. pa emang dunia ini ah hampir kiamat beneran ya???? tanda-tandanya dah banyak tu….dari yang mulai bencana dimana-mana. korupsi merajalela, aborrsi juga mendunia, perzinaan pun dah jadi adat biasa…. kapan indonesia akan maju kalo kayak gini terus????? cayo mas…tegakkan kebenaran!!!!!

    Reply
  22. Saya iseng2 surfing, taunya nemu tulisan ini. Saya telat ya komennya? 😀
    tapi keren tulisannya, Om. Terkadang, sesuatu yang kita lakukan dan nggak kita sadari dalam waktu yang lama, bakalan ‘menyatu’ dlm diri kita.. Hiihh.. 😀
    dunia pertelevisian kita butuh banyak rombakan ya?

    satu lagi, Om. saudara _a itu dr Jawa, bukan Bali (soalnya saya paham arti bahasa yg dipakainya)

    Salam kenal 🙂

    Reply
  23. Seumur-umur, sejak kecil tidak terhitung banyaknya saya dan orang2 lain menonton adegan pria berperilaku “normal”, perempuan berperilaku “normal”, ditambah adegan percintaan heteroksekual dari yang romantis, mesra sampai panas, baik di TV dan di layar lebar. Namun demikian ya tetap saja saya seorang homoseksual, dan orang lain yang memang heteroseksual ya heteroseksual, yang homoseksual ya homoseksual, yang transgender ya transgender, yang cisgender ya cisgender.

    Reply

Leave a Comment

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Don't do that, please!