Keniscayaan E-Book

Read an e-book via notebook

Di penghujung 2006, Rachmania Arunita meluncurkan Lost in Love. Mendistribusikan melalui bluetooth ponsel, Nia menyebutnya e-book. “Ya hitung-hitung bikin gebrakan, sekaligus menggalang budaya membaca dan menulis,” katanya waktu itu. Media e-book dipilihnya untuk menghindari kerepotan dan membengkaknya biaya produksi-distribusi seperti yang pernah dia alami saat memasarkan Eiffel I’m in Love. Sayang, kalangan pembaca adem ayem saja menyambutnya. Novel digital memang belum populer. Tapi, siapa berani menyangkal, kita sedang menuju ke sana.

Pada Oktober lalu, panita Frankfurt Book Fair 2008 merilis hasil survei yang melibatkan lebih dari seribu profesional industri buku dari 30 negara. Dalam laporan tersebut, lebih dari 70% responden menyatakan sudah sangat siap menghadapi era buku digital.

Tren pencarian di search engine pun mendukung temuan itu. Sebelum menayangkan tulisan ini, saya iseng mencari kata “buku” di Google, hasilnya ada kurang-lebih 42.800.000 halaman situs dan blog. Sedangkan pencarian kata “e-book” jauh lebih marak, menghasilkan kira-kira 107.000.000 halaman situs dan blog! Popularitas e-book memang lagi naik daun.

Orang mulai melihat e-book sebagai media yang efisien. Umpamanya kita hendak menjual sebuah cerita dalam bentuk e-book, maka tak perlu lagi repot-repot mencari distributor. Sungguh pun masih perlu, masalahnya takkan selama, serumit dan seriskan berurusan dengan distributor buku konvensional.

Untuk menjual e-book, hanya dibutuhkan situs e-commerce. Situs semacam ini bisa berjalan dengan serba otomatis, layaknya vendor machine. Anda pun dapat meletakkan vendor machine serupa di domain Anda. Meski belum pernah menjajalnya sendiri, saya melihat ada beberapa software e-commerce gratisan di internet. Silakan diinstal dan dicobai sendiri.

Namun jika memiliki situs dengan fitur e-commerce dirasa terlalu rumit, sebenarnya kita juga bisa mendaftarkan e-book novel atau komik kita pada situs atau toko online profesional. Tapi tentu saja berlaku sistem konsinyasi di sana. Misalnya, 40% dari hasil penjualan akan diambil pemilik gerai maya itu.

Ada alternatif yang lebih gampang, sebetulnya. Bila Anda betah dengan sistem penjualan yang bersahaja, menjual novel atau komik via blog gratisan semisal Blogspot atau Multiply pun tak ada masalah. Saya pernah beberapa kali menemukan “lapak jualan” yang sederhana begitu di internet. Pembeli tinggal memilih e-book yang disukainya, lalu membayarnya lewat Paypal, e-gold, atau cukup transfer bank. Barang pun dikirim. Tidak seprofesional Amazon atau eBay. Tidak canggih. Tapi siapa peduli. Yang penting produk dan pelayanannya kan.

Seolah tak mau kalah, Pemerintah pun menggunakan e-book untuk menyiasati mahalnya harga kertas, khususnya di buku-buku pelajaran. Cuma, lantaran internet belum merata di seantero Indonesia, e-book program BSE (Buku Sekolah Elektronik) tersebut pada akhirnya diprint dulu sebelum dijual ke murid-murid. Jatuhnya tetap lebih murah daripada buku yang sejak awal dicetak secara fisik oleh penerbit.

Lebih lengkapnya, inilah keunggulan e-book dibanding buku konvensional (setahu saya):

  1. Cepat dikirim kemana saja di seluruh dunia (karena bentuknya digital).
  2. Hemat tempat (kita bisa membangun sebuah perpustakaan hanya dengan flashdisk, laptop atau PDA).
  3. Dapat interaktif (memungkinkan hyperlink yang langsung menghubungkan pembaca ke halaman-halaman lain di dalam e-book maupun di luarnya).
  4. Ilustrasi bisa multimedia (gambar bergerak, bersuara).
  5. Efisiensi bagi penerbit (biaya produksi jauh lebih murah, tak ada istilah e-book yang tidak laku harus ditumpuk di gudang sampai dikencingi kecoak).
  6. Mengurangi dampak global warming (sebab secara signifikan menekan penebangan pohon untuk produksi kertas, dan mengurangi kepulan asap knalpot untuk mendistribusikannya).

Namun apakah pembaca sudah benar-benar siap membaca buku digital? Sebanyak 66% responden dari megasurvei Frankfurt Book Fair 2008 tidak yakin jaman e-book akan terjadi dalam waktu dekat. Tapi e-book niscaya akan menjadi sumber penghasilan terbesar industri buku dalam lima tahun ke depan. Setidaknya itu yang dipercaya sekitar 7% responden.

Nah, kalau Anda, bagaimana keyakinan Anda terhadap e-book?

.


WRAP-UP FOR “The Certainty of E-Book”

E-book's coverThe result of Frankfurt Book Fair 2008’s survey says, more than 70% of 1.000 book industry’s professionals from 30 countries are ready to deal with digital book era. And 7% are even sure that e-book will become the biggest source of income for the book industry in five years. In other hand, Google I’ve been observed says that result pages for the word “book” is always far few than for “e-book”. Why is e-book getting more popular than its old brother? Simply because it easy to send anywhere-anytime. It needs very small storage (even for a library of e-books). It can be interactive with the hyperlinks. You can put the multimedia things on it (movie, sounds). It’s very efficient for the publisher (no more storehouse for the unsold books). And finally, produce it rather than conventional books will reduce the effect of global warming. What do you think?

29 Replies to “Keniscayaan E-Book”

  1. Ririn P.Y.

    Oooo gitu, ya ? Ebook itu file yang mirip-mirip buku biasa, bisa dibolak-balik kaya halaman buku itu ? Saya suka dengan ide ‘mengurangi dampak global warming’. Cuman masalahnya, bacanya harus didepan komputer. Ini masalah, terutama bagi pegawai yang keseharianya jarang dekat dengan komputr seperti saya.

    Reply
  2. Brahmanto Anindito Post author

    Trims udah mampir, Mbak Ririn.

    Ada dua bentuk file e-book yg paling banyak digunakan, yaitu .PDF dan .EXE. E-book yg Anda lihat itu mungkin e-book .EXE. Penampilan e-book .EXE biasanya memang lebih mentereng (ada efek-efek yg bisa membuat file tampil spt buku sungguhan, halamannya bisa dibuka seperti kita membalik kertas buku). Tp ekstensi .EXE rentan kena virus, Mbak Ririn. Lagipula, file-nya nggak bisa dibuka di komputer selain ber-OS Windows. Mac atau Linux nggak bisa buat buka e-book .EXE.

    Tp selain itu ada e-book .PDF. Penampilannya sederhana, serasa baca Microsoft Word gitu deh. Minim efek. Tp file-nya enteng. Contoh2 novel .PDF bisa diunduh di sini. Hehehe, sekalian promosi. Anda hrs punya software reader untuk menikmatinya. Software ini bisa diunduh gratis.

    Soal budaya membaca e-book, ya, itu memang problem. Gadget pembaca e-book (e-reader) msh belum praktis untuk, misalnya dibawa ke angkot, WC, apalagi ditenteng sewaktu kerja. Tp seiring berjalannya waktu, nggak sampai lima tahun, kita pasti sudah menemukan alat yang portabel, tipis, baterenya irit dan nggak cepet panas (sehingga kita bisa tetep nyaman baca novel yg biasanya panjang).

    Reply
  3. ericbdg

    Hmm… menurut saya alat baca itu sebaiknya memang pasaran dan banyak produk tiruannya (yang made in china), sehingga bisa sesukses mp3 player dan flashdisk, dari situ baru revolusi kertas menjadi elektrik bisa benar2 terjadi.

    Reply
  4. Brahm

    Betul banget, Rick. Kalau dipikir2, budaya mendengarkan MP3 dulu kan hanya di komputer. Sekarang, begitu alatnya pasaran, dimana2 kita bisa lihat orang yg kupingnya disumpel kabel. Dan aku setuju dg hasil survei FBF itu, lima tahun lg, gadget utk baca e-book pasti sdh marak. Semoga sj revolusi itu segera terjadi.

    Tp yg lbh penting budaya baca kita. Meski kertas jd elektronik dan dimana2 tersedia gadget reader, kalau orang2 nggak doyan baca, ya tetep aja e-book nggak laku.

    Reply
  5. rie yanti

    Numpang komentar. Aku pake bahasa Indonesia aja ya… hehehe…

    Rak bukuku hampir penuh. Ga tau kalo beli buku lagi bakal aku taruh di mana. Sementara ebook praktis banget. But it means, aku harus mengorbankan mataku. Pegal juga kalo musti melototin monitor berjam-jam. Musti sering2 rehat. Nah, kalo kayak gitu, kapan selesai bacanya ya? :p Tapi demi mengurangi dampak global warming, aku dukung deh adanya ebook. ^_^

    Ebook juga bisa jadi alternatif bagi para penulis pemula buat nyari eksistensi. Contohnya… aku. Kan 2 cerpenku dijadiin novel trus dibikin ebook. Hehehe…

    Reply
  6. Brahmanto Anindito Post author

    Trims, Rie. Kok pake Indonesi sih, nggak seru. Mungkin sdh saatnya kita mengoleksi e-book, alih2 bikin perpus konvensional. Pasti lbh keren. Tp jangan sampai yg dikoleksi e-book2 ilegal/kopian. Pembajakan itu membunuh penulis, ‘tul nggak?

    Ini menarik. Tren e-book mungkin nggak cuma pengemasannya yg lbh murah dan praktis, jumlah halamannya jg akan lbh ringkas. Isinya nggak diulur2 kyk buku konvensional (langsung ke poin!). Pertimbangannya ya spt yg kamu bilang, mata pembaca cpt lelah bila melihat piksel2 digital. Semoga ke depannya, ada gadget yg layarnya adem di mata, kalau bisa mendekati ademnya kertas.

    Reply
  7. Calvin

    selain pdf, ada juga format .lit, ini juga lumayan enak buat jadi format masa depan, tapi sayangnya, membaca buku di komputer terkadang lebih melelahkan, blom lagi kalau software pembacanya tidak ada fitur bookmark.

    saya berharap ada ebook reader yang murah seperti amazon kindle, itu sebabnya saya ngiler2 ngeliat OLPC (one laptop per child) laptop karena bisa menampilkan ebook walau cuma monokrom, tapi harganya cuma sejuta.

    amazon kindle sendiri harganya 3,5 juta-an, masih agak kemahalan.

    Reply
  8. Brahmanto Anindito Post author

    Betul, betul, betul. Gadget semacam ini harganya msh nggak rasional. E-book2 atau media massa yg khusus terbit scr elektronik (termasuk vendor machine-nya) gitu msh sgt jarang. Jd kita (khususnya di Indonesia) perlu waktu. Mungkin dua kali pergantian presiden baru kita masuk era e-book, hehehe.

    Bagiku ini seperti jaman prasejarah. Setiap budaya perlu waktu berbeda2 untuk meninggalkannya. Yg paling cepat Cina (th 4.000 sM sdh meninggalkan era prasejarah dan mengenal aksara, koreksi aku kalau keliru ya). Nah, negara2 mana yg kira2 paling cepat meninggalkan era kertas dan masuk era aksara digital ini?

    Reply
  9. Brahm

    Dari IP address & cara manggilnya, Diena ini jls temen sekantor. Hahahaha, usil banget sih. I-book kan laptop, jangan gila doooong ….

    Reply
  10. Wahyudi

    Saya sangat yakin ebook akan menggantikan peran buku dalam kurun waktu 10 tahun ke depan. Apalagi sekarang sudah ada teknologi E-ink, yang bikin membaca ebook senyaman membaca buku. Hanya saja harga gadgetnya masih mahal untuk ukuran kantongku, min US$299 itu belum termasuk bea cukainya lagi. mudah-mudahan harganya bisa seperti HP, dulu 5jt-an, sekarang 300rb udah dapat.Ulasan mengenai ebook ada di blog saya. Kunjungi ya!!

    Reply
  11. Brahmanto Anindito Post author

    Trims udah mampir sini, Wahyudi. Popularitas e-book rasanya memang tinggal tunggu waktu. Begitu gadget-nya murah, semua akan bergerak. Tp prediksiku, di Indonesia, ya memang msh sekitar 10 tahun lg.

    Btw, kampanye penggalakan e-booknya keren, Mas. Terus posting ya.

    Reply
  12. Resti

    Tp keamanan ebook minim donk,buku dbjak hrus pke biaya ngeprint,tp ebook tgl di copas bs dinikmati slruh orang tanpa membayar.Gmn dnk?

    Reply
  13. Brahmanto Anindito Post author

    Trims udah berkunjung kemari, Resti. Kalau copas sih udah ada fasilitas enkripsi yg mencegah itu terjadi. Yah, mungkin msh bs ditembus sih, tp rasanya di selurh dunia ini hanya segelintir orang yg tahu caranya. Kalau digandakan file-nya, itu yg sulit dicegah.

    Tp ingat, kita selalu punya programmer2 “putih” yg semakin canggih dlm mengamankan hak cipta seiring berjalannya jaman. Meski aku yakin pembajak2 itu jg semakin canggih. Ini seperti polisi dan penjahat yg sama2 terus memperbarui metode kerjanya. Sampai kapanpun kedua pihak itu akan ada terus.

    Jadi? Kalau aku sih mikir yg positif aja ^_^.

    Reply
  14. Brahmanto Anindito Post author

    Yg bikin tampilan e-book.exe menarik adalah kemampuannya yg spt situs (dg basis .html atau bahkan flash). Yah, .doc bisa jg sih, tp kalau cuma .doc mending e-book.pdf aja kan.

    Buatlah situs intern, lengkap dg link, gambar, lagu, video, special effect, atau lainnya. Terus compile ke .exe. Nah, meng-compile-nya tentu saja pakai software. Ada banyak software pembuat e-book.exe. Mulai dari freeware, shareware (dg keterbatasan kemampuan atau minimal ada watermark-nya di setiap e-book yg dihasilkan), sampai yg berbayar (paling murah 100$ setahuku). Silakan cari, beli atau download di internet, Terry.

    Reply
  15. haerulsohib

    Hallo mas, maaf baru kali ini aku koment, padahal aku lihat artikel ini sudah lama, maaf ya. untuk ebook aku juga dukung, cuman aku punya pertanyaan, gimana caranya agar ebook yg kita buat memiliki kekuatan hukum yang kuat, tanpa perlu mendaftarkannya di DITJEN HKI, ini semua hanya untuk mengurangi biaya-biayanya, lagian aku punya ebook juga, akan kubagikan secara gratis. tetapi, tidak bisa dibajak. terimakasih…
    .-= haerulsohib´s last blog ..Scuba TV =-.

    Reply
  16. haerulsohib

    Gini mas, aku udah punya tulisan dan akan menyebarkannya secara gratis dalam bentuk ebook. Kalau aku urus ISBN ada kendala yaitu harus ada penerbitnya, sedangkan aku ngak punya, hanya ingin menyebarkan sendiri(untuk sementara). Yang aku khawatirkan, jika aku menyebarkannya, kemudian ada yang copas isinya dan mengklaim itu karyanya padahal bukan, apakah kemudian hari, hal itu bisa dituntut secara hukum walau ngak ada ISBN nya, dan bukti yang aku miliki berupa file digital tetap ada yg secara forensik bisa diketahui kebenarannya.

    Makasih mas atas tanggapannya. semoga ebook semakin digemari…amin
    .-= haerulsohib´s last blog ..Inikah Orang Kaya? =-.

    Reply
  17. Brahmanto Anindito Post author

    Cobalah bikin di PDF yg di-lock (nggak bisa di-copas). Soal ISBN, kan bisa aja penerbitnya apa gitu, terserah. Atau mau coba Lulu.com. Mrk nerima pengurusan ISBN jg. Penerbitnya kalau nggak salah bisa Lulu sendiri, atau bisa customize. Dan kayaknya e-book di situ jg ada DRM-nya. Coba deh akses ke sana dan pelajari sendiri.

    Tp, in my opinion, kalau orang memang niat bajak, dibendung kayak apa juga nggak mempan. E-book itu bisa dibaca, terus diambil idenya, dan di-twist sbg karyanya sendiri. How can you prevent that? Impossible.

    Reply
  18. noorholic

    mas tau softwere cara buat ebook dengan format exe tapi yg bentuknya hampir mirip kaya buku asli.. bisa di bolak-balik githu…

    Reply
  19. Ijul

    Maaf, tapi saya agak kurang sreg dengan perbandingan ini, mas:

    Sebelum menayangkan tulisan ini, saya iseng mencari kata “buku” di Google, hasilnya ada kurang-lebih 42.800.000 halaman situs dan blog. Sedangkan pencarian kata “e-book” jauh lebih marak, menghasilkan kira-kira 107.000.000 halaman situs dan blog!

    “buku” adalah sebuah kata dalam Bahasa Indonesia sedangkan “e-book” merupakan kata dari bahasa Asing yang mulai diserap ke dalam bahasa kita, tapi kalau di dunia maya, tentu saja e-book masih terasosiasikan bahasa Asing, jadi perbandingannya kurang sepadan.

    Saya mencoba search nih: (data tgl 29-07-2010 dari Google)
    untuk kata “buku” = 22.200.000
    kata “book” = 1.800.000.000
    “e-book” = 644.000.000
    “ebook” = 83.800.000

    Hehehe, terlepas dari itu, it was nice article….thanks fo sharing..

    Reply
  20. Brahmanto Anindito Post author

    Coba pakai E-book Producer, Exe-ebook Creator, atau Flip Printer. Tp software/freeware gitu selalu ada embel2nya, selalu ada yg nggak sesuai keinginan kita. Dulu saya pakai Spotbit meski jg ada embel2nya, tp sekarang Spotbit nggak eksis lg (eh, bener ya?)

    Makanya, saya biasanya minta tolong temen yg bisa Flash utk bikin .SWF lalu di .EXE-kan. Efek2nya pun sesuai keinginan kita, krn biasanya ada script gratisannya di internet (tinggal ambil dan kompilasi).

    Saya sendiri nggak bisa Flash, Pak Hari. Jd, daripada ngerepotin temen, kalau nggak terpaksa banget saya cenderung menghindari bikin e-book .EXE. Hehehe.

    Reply
  21. Pingback: Where do You Put Your Books? | WARUNG FIKSI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge