Kenapa The Dark Knight Rises Laku Keras

Saya kebagian deret kursi L sewaktu menonton film ini. Sial! Bagaimana lagi, dari hari ke hari bioskop yang memutar The Dark Knight Rises penuh. Daripada pulang dengan tangan hampa, terpaksalah menonton pemandangan Gotham City dengan mendongak sepanjang 2 jam 44 menit. Untungnya, film ini benar-benar layak tonton.

Butuh biaya berapa untuk jadi Batman? Totalnya Rp 6,4 triliun!Seperti dua film Batman sebelumnya, The Dark Knight Rises bukan hanya hadir sebagai film superhero yang adegan-adegan aksinya luar biasa, melainkan juga dilengkapi dengan jalan cerita yang menyentuh. Di sini, Anda akan menjumpai pembantu setia Bruce Wayne, Alfred, diberhentikan. Anda juga akan menjumpai aksi Bane, penjahat bertopeng yang bahkan Batman pun bukan tandingannya.

Lalu muncul pertanyaan, bisakah film ini masuk juga dalam jajaran box office sepanjang masa seperti The Dark Knight? Terlalu dini untuk menyimpulkan. Sekadar mengingatkan, film kedua dari trilogi Batman besutan Christopher Nolan itu dulu menduduki posisi ketiga film terlaris sepanjang masa (sebelum dipukul mundur oleh The Avenger). Mengapa?

Yang pertama, tentu saja karena filmnya memang bagus. Bahkan terbukti moncer juga di ajang Oscar tahun 2009.

Yang kedua, ada aktor yang mati tidak jauh dari waktu produksi. Kematian selalu menimbulkan rasa penasaran dan menciptakan buzz marketing. Tapi, harus aktor yang perannya besar dalam film yang meninggal.

Contohnya banyak. Bela Lugosi di Dracula. Bruce Lee di Enter the Dragon dan The Game of Death. Brandon Lee, anaknya, di The Crow yang waktu itu membukukan pendapatan kotor 50.693.162 dollar untuk wilayah Amerika saja.

Di film Gladiator (Ridley Scott, Amerika Serikat: 2000) juga ada aktor yang meninggal, namun tidak sampai menciptakan buzz marketing. Karena Oliver Reed waktu itu hanya memerankan Proximo, tokoh yang tidak terlalu utama.

Nah, dalam The Dark Knight yang tewas adalah Heath Ledger, pemeran Joker. Sebabnya? Overdosis! Konon, aktor muda Australia ini mati lantaran usahanya yang terlalu maksimal dalam memainkan tokoh badut tidak lucu itu. Maka semakin meledaklah rasa penasaran penonton.

Dan memang, kualitas akting nominator Academy Awards 2006 lewat film Brokeback Mountain ini pada akhirnya mengilap. Dialah tokoh utama The Dark Knight, bukan Christian Bale.

Sementara dalam The Dark Knight Rises, ada kematian lagi, meski bukan dari pihak kru atau cast. Anda pasti sudah tahu, terdapat aksi penembakan massal di bioskop Century 16 Colorado, Amerika Serikat, oleh orang gila bernama James Holmes yang mengaku-aku sebagai Joker.

Faktor Nolan saya pikir juga berpengaruh sebagai penglaris film. Christopher Jonathan James Nolan itu sutradara yang punya sentuhan lain. Garapannya yang sudah saya tonton, The Dark Knight (2008), Batman Begins (2005), Memento (2000) dan Insomnia (2002). The Prestige? Belum nonton, tapi saya suka dengan tema yang diambil, jadi suatu hari pasti saya pinjam DVD-nya.

Di antara karya-karya Nolan, saya paling kagum pada Memento yang alurnya sinting itu. Plus, tentu saja The Dark Knight dan The Dark Knight Rises yang kelam, paling kelam di antara film-film Batman yang lain.

Pada tahun-tahun belakangan ini tren film superhero memang tidak lagi mengeksploitasi kekuatan supernya, bahkan tren ini juga melanda feature kartun (ingat The Incredibles?). Sekarang tokoh super hampir selalu diperlihatkan sisi lemahnya, sisi manusiawinya. Para sineas (yang genah) senantiasa berlomba-lomba untuk menerangkan logika dalam menjelaskan sisi dilematis setiap tokoh hebat itu.

Jadi, jangan heran bila tokoh Batman trilogi Nolan tidak pernah seputih Batman yang Anda kenal di masa kecil kita dulu. Penokohan hitam-putih hanya untuk anak-anak atau penonton dewasa yang malas berpikir.

The Dark Knight trilogi bukan tipikal itu. Batman versi Nolan adalah tontonan superhero yang Anda takkan malu (karena berpeluang dikatai “udah gede kok nontonnya Batman”) sewaktu keluar dari pintu teater bioskop. Hm, mungkin ini juga salah satu yang menyebabkan penonton The Dark Knight banyak, dari berbagai kalangan.


Synopsis of The Dark Night (2008): When Batman, Gordon and Harvey Dent launch an assault on the mob, they let the clown out of the box, the Joker, bent on turning Gotham on itself and bringing any heroes down to his level.


Synopsis of The Dark Night Rises (2012): Eight years on, a new terrorist leader, Bane, overwhelms Gotham’s finest, and the Dark Knight resurfaces to protect a city that has branded him an enemy.


43 Replies to “Kenapa The Dark Knight Rises Laku Keras”

  1. pasha

    Best Movie of The Year! Saya nonton baru dua kali (tenang, di bioskop, bukan bajakan!) dan berencana nonton lagi asalkan budgetnya masih cukup (hehehe).
    Tadinya nonton hanya gara2 ini film terakhir aktor favorit saya, Heath Ledger (penampilannya di The Patriot dan A Knight’s Tale ngegemesin!). Tapi akhirnya saya balik lagi ke bioskop di dekat rumah (kenapa sih, Depok selalu telat memutar film2 bagus? Ups, ketahuan deh, saya orang Depok…yang keren, tapinya) karena dua hal : mau nonton lagi aktingnya Ledger dan terutama, karena saya terkagum-kagum bercampur sirik dengan cerita yang disuguhkan Mr. Nolan beserta timnya. Uuugh! Seandainya saya bisa membuat alur cerita sekeren itu! Nih dia, skenario kelas dunia.
    Special FX biasalah untuk ukuran Hollywood (tapi scene truk terpental bikin saya melotot), scoring-nya OK, mencekam. Eh, aktingnya Bale juga bagus, apalagi menjelang ending film pas Two Face berteriak (kira2) “mengapa hanya saya yang paling kehilangan?!”. Di situ, sebagian muka Om Batman menyiratkan kesedihan kaya mau balas teriak, “emangnya cuma elo, kutu kupret?! Gue juga ga jadi kawin sama Rachel!” Saya jadi ikutan sedih…Hiks.
    Bravo, bravo!
    Sudah dulu ah, saya mau nonton lagi di bioskop… Ga papa deh, budget ke warnet kepake, yang penting bisa nonton film yang bikin saya ga minta lagi sama Hancock ini. Yukk…

    Reply
  2. Brahm

    Trims, Isfiya, Pasha dan Zank. Apa kabar, Depok? Hehehe …. Wah, nonton dua kali belum puas? Ini film 2,5 jam lho. Apa nggak belekan tuh? Yah, memang kalau nonton film action yg dramanya bagus, adegan action (tabrakan, kejar2an, tembak2an) nggak akan terasa menggigit. Kita lbh fokus pd psikologi tokoh, alur dan konfliknya. Setidaknya itu buat aku. Tp ngomong2, Pasha, masa’ Heath Ledger di The Patriot dan A Knight’s Tale ngegemesin? Yg bener aja. *_*

    Buat Zank, aku nggak tahu jawaban tepatnya. Tp di Indonesia ini kita masih belajar; Sineasnya belajar bikin film, penontonnya belajar menonton (memilih tontonan). Di samping itu, kita belum jd negara maju. Film (dan produk2 fiksi) bisa meledak, sepengetahuanku, hanya di negara2 maju, dimana rakyatnya sudah tidak disibukkan dg pikiran “makan apa ya hari ini?”. Jawaban yg politis ^_^.

    Reply
  3. Calvin Michel Sidjaja

    hmm, anda suka menonton anime mas brahm? saya tidak terlalu demen nonton hollywood, jadi maaf kalau jawabannya kurang nyambung, tapi pada intinya sama, pemeran utama yang ambivalen (memiliki sisi baik dan jahat, sisi lemah dan kuat) akan lebih disukai oleh penonton.

    Salah satu yang cukup terkenal mungkin adalah Death Note, pemeran utama Death Note, Light Yagami lebih mirip antagonis daripada protagonis. Dia mau menciptakan dunia ideal dengan membunuh kriminil (doank) tapi ujung2nya dia menjadi korup dengan kekuatan yang ia miliki. Mungkin mas brahm bisa membaca death note kalau mau mencari archtype hero2 “tidak biasa”.

    Tapi semenjak Heroes, memang harus diakui, akhirnya karakter hero2 amerika diperlihatkan sisi lemahnya. Dan tokoh2 seperti itulah yang disukai penonton (karena tidak satu sisi).

    Kalau kakak saya dulu sih mengatakan salah satu film indonesia yang lumayan bagus adalah Bella Vista (sinetron jadul, sctv) soalnya banyak karakter dalam film tersebut yang campuran baik dan jahat. Waktu saya masih kecil saya juga suka menonton film Janji Hati (adaptasi novel mira w. bukan sih?) dan menurut saya lebih banyak sinetron berkualitas dibandingkan sekarang.

    Reply
  4. Brahm

    Trims, Vin. Tokoh2 seperti itu yg disukai penonton? Penonton mana dulu nih? Di Indonesia rasanya penontonnya masih suka dg tokoh hitam-putih. Oh, itu istilahnya tokoh ambivalen ya.

    Death Note aku nonton anime-nya. Ya, kelakuan tokoh protagonisnya emang lbh mirip antagonis (but somehow, penonton masih bisa tahu kalau dia protagonis). Soal sinetron, aku nggak tahu kalau yg dulu lbh bagus dari sekarang. Dulu aku nggak suka sinetron (dan tdk mengamati), sekarang pun aku tetep tidak suka (tp mengamati). Dulu, sekarang, menurutku nggak ada beda yg signifikan. Yg beda cuma fashion tokoh2nya.

    Reply
  5. imey gtu loh..................!!!!!!!!!

    waduh, mas…………
    krjaan kmu tetep ae deh, hehheheeee……………………
    tmbh sip ae wong iki……………………………………………..

    yawis, ttp brkarya y………………………………………………..

    ada reuni x-GLOCAL Mas,……………………………………..

    ikut y………………………………………………………………………

    Reply
  6. Goegi

    Film Indonesia tak selaris film asing? Wah, sepertinya, kita harus melihat lokasi distribusinya dulu. Perasaan saya, film Indonesia laris di negerinya sendiri dan seiiring itu pula muncul selentingan-selentingan miring mengenai kualitas film Indonesia dari penontonnya yang kecewa terhadap film yang ditontonnya. Herannya, penonton tersebut ga kapok-kapoknya nonton film Indonesia di bioskop bahkan membeli VCD dan DVD originalnya, padahal film sebelumnya sudah mengecewakan. Hal ini menimbulkan pertanyaan, apa sih yang membuat mereka ga kapok datang ke bioskop untuk menonton film Indonesia? Apakah karena kualitas atau hanya ingin tahu sambil berharap-harap cemas dikecewakan lagi. Bila karena kualitas, mengapa banyak muncul selentingan-selentingan miring dari penonton-nya?

    Sekadar ide gila, kalau memang film Indonesia ditujukan untuk kepentingan bisnis semata, ibaratnya konsumen, hak-hak konsumen film di Indonesia sepertinya diabaikan oleh para produsen film Indonesia. Seandainya ada lembaga atau LSM yang dibentuk dan berfungsi sebagai lembaga perlindungan konsumen film, pastilah banyak protes yang masuk ke lembaga itu.

    Bila bukan kualitas, sepertinya, film Indonesia laris, karena orang-orang Indonesia, sebenarnya ‘kangen’ dengan filmnya sendiri. Sejak, kebangkitan film Indonesia yang diawali oleh kesuksesan Jelangkung(2001) dan AADC(2002), film Indonesia banyak diproduksi dan berhasil menyedot ratusan ribu penonton, hingga sekarang di tahun 2008. Menurut saya, kondisi penonton yang seperti saat ini kurang dimanfaatkan. Jangan-jangan, bila kualitas film Indonesia tidak mengalami perubahan, tidak ada lagi kepercayaan terhadap film Indonesia dan konsumen film Indonesia menjadi kapok menonton film di Bioskop, lalu, film Indonesia kembali mati. Kalau hal ini dibiarkan, konsumen film Indonesia bisa saja beralih membeli bajakan bahkan bisa menyuburkan pembajakan atau hanya sekadar menyewa di rental saja untuk menonton film Indonesia.

    Bila sekarang penonton kecewa dengan film Indonesia yang ditontonnya, besok mereka kembali nonton dengan harapan filmnya lebih baik dari yang kemarin, tapi, ternyata mengecewakan, besok nonton lagi, kecewa lagi, nonton lagi, kecewa lagi, hingga malas ah, ngapain nonton film Indonesia di bioskop, mendingan sewa aja VCD-nya di rental. Jangan sampai konsumen film Indonesia berada di titik ini. Ini sangat berbahaya bagi perkembangan film Indonesia. Bisa dikatakan konsumen film Indonesia adalah konsumen yang paling sabar, bayangkan saja, sudah dikecewakan berkali-kali, tapi masih memberi kesempatan kepada para industri film untuk selalu memperbaiki kualitas filmnya. Tapi, sampai kapan penonton film Indonesia bersabar dan berharap? Katanya sih, kesabaran itu ada batasnya.

    ***

    Belajar? Sewaktu belajar, pelajarannya masuk telinga kanan, keluar telinga kiri barangkali. Lalu, langsung praktik produksi film. Hasilnya?

    Reply
  7. Goegi

    Bila laris tidaknya film Indonesia dibandingkan dengan film-film asing ( Hollywood), pertanyaannya, apakah film-film Indonesia sudah dapat disejajarkan dengan film-film asing? Rasanya sih masih sulit jika film-film Indonesia harus bersaing secara komersil dengan film-film asing (Hollywood) atau berbicara di tingkat internasional, seperti Oscar. Paling tidak, ada kritikus sekelas Roger Ebert misalnya, yang melirik film Indonesia.

    Anehnya, kalau film Indonesia memang ditujukan untuk kepentingan bisnis semata, berarti film disamakan dengan produk-produk dagangan. Lalu, apakah para produsen film tersebut memiliki Quality Control terhadap produk dagangan-nya yang akan dilepas ke pasar, seperti halnya produsen penghasil produk-produk dagangan, bagaimana mutunya atau layak tidaknya mutu dari sebuah produk untuk diekspor. Tentunya, akan selalu ada perbaikan-perbaikan untuk meningkatkan mutu guna mempertahankan dan meningkatkan pemasaran produknya di pasar.

    Bila produsen tak dapat melakukan Quality Control, pihak luarlah yang akan melakukannya, dalam hal ini kritikus film yang berpengalaman tentunya. Namun sayang, belum ada kritikus yang mampu berfungsi sebagai Quality Control-nya film Indonesia.Tanpa adanya kritikus film yang berpengalaman, film Indonesia selamanya berada di titik yang sama. Festival-lah contohnya. Bagaimana mungkin lembaga atau ajang festival film berkelas di Indonesia, di dalam mengapresiasi film-film yang masuk ke festival dapat dipengaruhi oleh kepentingan promosi produk yang dimiliki oleh organisasi bisnis. Pemahaman dan pengetahuan bentuk, gaya, tema dan tehnik film menjadi semakin terabaikan saja.

    Memang sih, beberapa film Indonesia telah bermain-main dengan visual, seperti : pergerakan kamera,komposisi atau sinematografi yang indah, tapi, tehnik tersebut masih digunakan di dalam konteks dan kejadian yang kurang tepat. Akibatnya, semua yang sudah dibuat dengan indah tadi menjadi sia-sia dan kurang berarti. Apalah artinya sinematografi yang indah, bila plot-nya lemah dan dialog yang sebenarnya tidak perlu misalnya.

    Kelemahan-kelemahan inilah diantaranya yang dapat menyebabkan film Indonesia belum selaris dengan film-film asing(Hollywood). Terlepas dari baik dan buruknya film-film asing, setidaknya mereka ada yang memahami tentang bagaimana pencapaian tematik dan estetik dari sebuah film. Sehingga, banyak film asing yang dijadikan acuan akademis di perguruan-perguruan tinggi film. Paling tidak, kalau mau laris, film Indonesia harus melalui fase perbaikan kualitas dulu deh.

    Reply
  8. Goegi

    Pertanyaanya, untuk memproduksi film yang memiliki pencapaian tematik dan estetik yang tinggi, apakah harus dengan budget yang ‘woooow’? Terlepas dari segala bentuk genre film yang akan diproduksi.

    Reply
  9. Goegi

    Buzz Marketing? Hehehehe…aku ga terpengaruh tuh. Cuma pengen tahu aja versi Batman yang lain. Mas Bhanto, piye kabare? Sorry, aku dorong jawab email-mu. Eh, tulisan komentar film seng positif iso mlebu nang Wufi opo ora? Contohne tak kirim nang email-mu. Tapi yo ngono, tulisane ga sehebat penulis-penulis Wufi.

    Tim Burton kok dorong ditulis Mas Bhanto? Aku arep moco, tak enten-eteni nang Wufi lho.

    Kesibukkan, aku sibuk menjemput rejeki dan memperluas ekspansi usaha. Swausaha atau Mati. Kenyataan memang di luar dugaan, berubah-ubah terus. Tapi, tetep rencana seng biyen melaku terus pantang mundur. Menciptakan pasar, mendidik konsumen dan sistem distribusi yang baru nan innovasi memang melelahkan dan berliku iki. Tapi, tetap semangat. Wufi tidak sendiri kok. Ketok e kita mesti bahu-membahu, entah untuk kepentingan profit atau tidak. Bos Kebab Turki Baba Rafi ae iso, kenopo adewe ora, biyen yo tahu sak mejo, bareng-bareng mangan sate opo ngobrol-ngobrol nang kantin, salah satu contoh motivasi kesuksesan yang paling dekat.

    Reply
  10. Brahm

    Matur nuwun, Gi. Wah, aku bahas film Batman kok merembet ke film Indonesia nih? Tp kekhawatiranmu beralasan. Cuma, sepertinya msh akan lama sampai para penonton Indonesia sadar dan jenuh. Perhatikan saja, di bioskop2 msh menggelegar tawa penonton utk adegan2 slapstik dan banyolan2 yg menurutku klise. Msh banyak yg tercekam dg trik lawas hantu2an, adegan action yg heri (heboh sendiri), dsb.

    Kalau menggunakan parametermu, Gi, memang sdh lama film Indonesia habis. Tp untungnya/sialnya (silakan pilih), mayoritas penonton tampaknya memakai parameter yg jauh lbh rendah dari itu. Jd, kelangsungan hidup industri film Indonesia (termasuk di pertelevisiannya) rasanya msh aman2 saja dlm beberapa tahun ini. Betapa melegakannya/mengecewakannya (silakan pilih lg).

    Lho … utk Tim Burton, aku sengaja nunggu kamu, Gi. Soale aku baru sempat nonton sedikit film2nya. Sing jelas, aku lbh suka Batmannya Nolan ketimbang Burton, hehehe. Soal tulisan nang Wufi, wis ta’jawab via email yo.

    Reply
  11. Goegi P Atmojo

    O, aku cuma nerusno si Zank.

    Wah, nek aku seneng seng Batman-nya Tim Burton. Yang membuat aku seneng, kekonsistenan Tim Burton dengan gaya Ekspresionis yang selalu diusung ke film-filmnya. Rasanya lebih indah. Ketimbang content dari Batman-nya si Nolan. Karena, film sebelumnya seperti Spiderman atau Iron Man juga sudah memperlihatkan sisi humanis-nya. Jadi, ga ada yang spesial. Bisa jadi, garapan Nolan ini merupakan film Batman yang content-nya lebih daripada film Batman yang lain.

    Reply
  12. pasha

    Belekan gara-gara nonton The Dark Knight (TDK) dua eh tiga kali? Ya enggaklah Mas Brahm! Buktinya, tempo hari nonton Janji Joni (meskipun Joni-nya agak nyebelin karena sok idealis kelewat naif, scoring-nya OK!) di bioskop sampe enam kali, saya masih baik2 aja tuh. Kecuali isi kantong saya, jadi ‘sakit’ dan bikin saya beneran harus puasa. Hanya, emang bener sih, abis nonton TDK (iya ya, panjang amat durasinya) saya selalu kena efek yang satu ini : LAPAR! Kriukkk kriukkk. Buruan ‘ngetem’ di tukang batagor samping mall, soalnya jajanan di bioskop mahal2 huhuhu…
    Heath Ledger ngegemesin karena ya… saya emang suka nonton film2 dari aktor2 yang gak cakep2 banget (maaf buat yang ga sependapat) tapi aktingnya bagus kaya Ledger. Gitu aja…
    Yang pasti, nonton TDK bikin saya iriiii banget sama mereka yang ada di balik pembuatan skenarionya. Saya jadi pengen nih, bikin skenario yang bikin penasaran (dan tegang) penonton film kaya gini.
    Kalo ada penulis Indonesia yang bisa bikin skenario dengan cerita mencekam kaya gini, bagus banget tuh! Ga usah pake adegan action deh, (entar eksekusinya malah jelek karena duitnya kurang hehehe), yang penting alur cerita dan karakter-karakter di dalamnya kuat kaya anime Jepang. Kalo eksekusinya masih susah, mendingan dibikin animasi aja yang sekelas Avatar. Jadi meskipun mahal juga, ada-lah action yang bisa diwujudkan ke layar…
    Sori ya kalo omongan terakhir saya agak2 off topic. Saya tau, bikin film tuh rumit dan mahal. Tapi, masa’ sih, bikin film thriller yang mencekam (bukan sekadar ngagetin kaya film2 Koya Pagayo), Indonesia ga bisa? Yukkk…

    Reply
  13. Goegi P Atmojo

    Memang sih, Christopher Nolan mampu menyajikan konflik fisik dan batin para karakter tokoh dengan prima dan dialog-dialog yang kuat. Tapi, ketika menonton, mood kota Gotham menjadi hilang, dapat dirasakan setting The Dark Knight yang realistik. Mengapa mood setting yang gelap, suram, sekaligus modern seperti di Batman Begins dihilangkan? Di Batman Begins, Christopher Nolan mampu memadukan unsur fantasi dan nyata dalam menampilkan Kota Gotham yang modern.

    Kalau dikaitkan dengan logis dan tidak logisnya setting cerita Batman, setting The Dark Knight yang dibuat Nolan, apakah menyalahi logika setting di cerita Batman?Karena di film ini kita benar-benar kehilangan mood setting kota Gotham yang gelap, suram dan modern atau bila dibandingkan dengan setting di Batman Begin yang juga disutradarai oleh Nolan.Kalau dilihat dari kacamata teori logika yang konsisten, gimana? Apakah logis atau tidak Mas Bhanto? Nolan tidak konsisten di dalam membuat setting kota Gotham yang gelap, kelam, suram dan modern.

    Plot The Dark Knight lebih kompleks dari Batman Begins, minim adegan aksi dan penuh dengan dialog-dialog konflik psikologis tokoh-tokohnya. Penonton dibuat penasaran, tapi, durasi membuat film ini terasa membosankan. Nolan menampilkan adegan aksi-aksi seru yang begitu realistik, seperti aksi yang sangat seru di bawah jalan layang yang melibatkan truk-truk besar. Aksi ini dibuat sangat realistik dan meyakinkan, seperti film-film action lainnya. Kemudian, instrumen yang menjadi ciri khas Batman tidak terlalu ditampilkan seperti dalam film-film Batman sebelumnya.

    Sepertinya, penampilan Ledger sebagai Joker membuat film ini lebih gelap dan kelam. Bisa dibilang, kekuatan The Dark Knight terletak pada penampilan Heath Ledger sebagai Joker yang memiliki senjata bersilat lidah. Ledger mampu memerankan sosok Joker yang dingin, dan kejam meski karakter Joker yang diperankan oleh Ledger berbeda dengan penampilan Joker di Batman (1989).

    Reply
  14. Brahm

    Menarik, Gi! Memang nggak logis dlm kehidupan riil. Tp dlm film, logis aja. Logika bertutur dlm fiksi berkaitan dg memandang ketidaklogisan dari tiga hal: Definisi kefiktivan, ketelakan, dan signifikansi thd cerita.

    Definisi kefiktivan tdk berubah. Soal setting yg berubah, bukankah ada peluang bhw Nolan mendefinisi ulang Gotham City? Ini kan film baru, yg tdk terikat dg produk (definisi kefiktivan) sebelumnya. Lagipula dlm kehidupan riil, kota kan memang selalu berubah: Tambah ramai, tambah terang, tambah maju, tambah kacau, dst. Sementara itu, kita tidak tahu kapan rentang waktu-fiktif antara saat Bruce Wayne menerima kartu Joker (di ending Batman Begins) sampai setting The Dark Knight.

    Dari segi definisi tidak ada masalah, dari segi ketelakan pun tidak terlalu telak (debatable). Dari segi signifikansi? Apakah ketidaklogisan itu berpengaruh secara signifikan terhadap alur? (Juga) tidak.

    Reply
  15. Goegi P Atmojo

    O gitu ya. Tapi, di cerita Batman, definisi kota Gotham kan sudah didefinisikan dengan kota yang gelap, suram, kelam dan modern. Kalau di The Dark Knight, kota Gotham berubah definisi menjadi kota yang terang dan realistik seperti kehidupan riil. Apakah Nolan tidak merubah definisi kota Gotham tersebut? Kalau film Spiderman atau Iron Man kan memang mengambil setting seperti kehidupan yang riil, berbeda dengan setting Batman.

    Reply
  16. Brahm

    Aku pas nonton nggak memperhatikan itu secara detail. Tp sepertinya kamu bener juga. Tp sungguhpun definisi kefiktivan melenceng, dua syarat CL yg lain tidak terpenuhi. Jd ini ketidaklogisan yg biasa, bukan CL.

    Reply
  17. pasha

    Mas Brahm,

    Saya sudah membalas e-mail-nya. Oke. Tapi jangan marah ya soal ‘my secret identity’ hehehe. Juga makasih buat komen-nya di blog saya.

    Ngomong2, Goegi P Atmojo siapa ya? Kayaknya tau banget soal Batman dan film. Boleh dong, kenalan dan bagi-bagi ilmunya? Soalnya, saya sih baru sampai pada taraf ‘penonton film’, ga paham teori2 dan sejarahnya, apalagi sampai menilai atau meresensi sebuah film.

    Saya tahunya The Dark Knight (TDK) bagus. Soal set lokasi yang tidak mendekati versi asalnya (kelam, gelap dst), saya tidak begitu peduli. Yang penting bisa memaksa saya menonton dengan penuh konsentrasi sampai selesai dan bahkan balik lagi, itu sudah cukup. Jadi, meskipun sebuah film alur ceritanya tidak masuk akal macam Janji Joni, kalau ada unsur lain (seperti scoring yang bagus dan mencekam kayak TDK) yang menarik, saya sih asik2 aja. Pokoknya, asal film itu tidak bikin ‘sakit hati’ karena merasa duit saya ‘dirampok’ kayak Apa Artinya Cinta? dan Mendadak Dangdut (ampun deh Mas Rudi, nge-shot Titi Kamal kalo lagi nyanyi ga usah pake teknik hand held, ngerusak mata!) sih, kesalahan segajah apa pun akan tampak seperti semut di mata saya…

    Mas (atau Mbak?) Goegi, kenalan dong…

    Reply
  18. Goegi P Atmojo

    Seperti di ‘say it’ saya sebelumnya, “Memang sih, beberapa film Indonesia telah bermain-main dengan visual, seperti : pergerakan kamera,komposisi atau sinematografi yang indah, tapi, tehnik tersebut masih digunakan di dalam konteks dan kejadian yang kurang tepat. Akibatnya, semua yang sudah dibuat dengan indah tadi menjadi sia-sia dan kurang berarti. Apalah artinya sinematografi yang indah, bila plot-nya lemah dan dialog yang sebenarnya tidak perlu misalnya.” Mendadak Dangdut adalah salah satu contoh perkataa saya tadi. Sebenarnya, ketika Titi Kamal dan Kinaryoshi dikejar-kejar polisi, penggunaan tehnik hand held memang pas, tapi, bukan berarti penggunaan tehnik han held pas digunakan pada konteks yang lain, malah mengganggu, misalnya pada saat yang seperti Mas Pasha bilang. Di Felon(2008), Ric Roman Waugh menggunakan tehnik ini dengan konsisten sejak di awal film hingga di separuh film yang saya tonton. Namun, baik di filmnya Rudi atau Waugh, saya belum menemukan maksud yang berarti dari penggunaan tehnik hand held ini untuk konteks yang tepat, atau memang tehnik ini digunakan untuk sekadar gaya saja.

    Kalau mau yang lebih gila lagi di dalam penggunaan hand held, coba tengok di Breathless(1960) punya Jean Luc Godard. Penggunaan tehnik hend held yang gila di scene pertemuan Patricia dan Michel, di sebuah jalan raya, lalu berlanjut, di scene ketika Michel berada di bank hingga kedatangan polisi internasional dari Amerika ke bank itu untuk mencari Michel. Coba diperhatikan cara penggunaan hand held dan pergerakannya pada scene tersebut.

    Reply
  19. Goegi P Atmojo

    Felon…baru saya tonton separuh, saya belum meneruskan menonton Felon hingga selesai. Jadi, saya ga tahu apa Waugh tetap konsisten dengan hand held-nya hingga akhir film. Tapi, dari awal hingga separuh film yang saya tonton, dia masih konsisten dengan hand held.

    Reply
  20. bowie

    yup, setuju kalo akhirnya dibilang kalo tokoh utama dalam dark knight ini heath ledger, bukan christian bale. tokoh joker yang diperankannya sangat kuat. bahkan meski durasi film agak kelamaan, saya tertarik buat nonton lagi, khususnya permainan ledger.

    Reply
  21. pasha

    Alhamdulillah… ternyata bukan cuma saya yang ngerasa teknik hand held yang sering ga pada tempatnya itu mengganggu. Misalnya ya itu tadi, pas Titi Kamal lagi nyanyi. Kalo pas lagi dikejar the police sih bolehlah, jadi mirip2 (kalo ga salah nih) Narc (nih film ga pernah saya tonton sampe selesai).
    Teknik Jump Cut, apaan lagi tuh? Kameranya dilempar-lempar? Atau operator kameranya yang lompat-lompat? Ngos2an dong hehehe.
    Sekali lagi, Alhamdulillah… ternyata bukan cuma saya yang doyan banget TDK sampe mau nonton berkali2. Bowie ternyata sama ya…

    Reply
  22. reza heikal

    Saya nonton TDK sampe 3x di bioskop, plus 1x DVD bajakannya :D. Btw, boleh ijin copy-paste ke blog saya? 🙂

    Reply
  23. Rie

    The Dark Night Rises ini bikin aku puas nggak puas nontonnya. Puas krn ceritanya emang seru, nggak percumalah nonton di bioskop. Nggak puas krn Batmannya kurang nunjukkin ke-superhero-annya.

    Reply
  24. Pingback: Tips Dasar Membuat Infografik | Warung Fiksi ®

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge