Tarzan Pronoun

Tarzan languageI think, this is Malayan language family typical. One uses his own name in dialog, instead of “I”. Like Tarzan when he said, “Tarzan see Jane in danger.” It’s real people dialog, especially in Malayan culture. However, very few people practice this weird style. What kind of people are they?

  1. One whose language system has not been completed. For example, a child, or the king of the jungle itself: Tarzan.
  2. One who worries to become unpopular if his name is not said repeatedly.
  3. A selfish, narcissist, or spoiled person.
  4. One who tries to be polite. One who cannot says “you” or “I” in direct. Seriously, people like this do exist.

* * *

“Chika mau makan nih,” kata Chika.

Menyebut nama sendiri ketika berdialog. Pernahkah Anda menemukan gaya bicara semacam ini? Saya sering. Di cerpen, novel, film, apalagi sinetron. Kebiasaan menyebut nama sendiri ini “lazim” di negeri rumpun Melayu. Saya membaca di koran tentang Siti Nurhaliza. Penyanyi dari Malaysia itu berkata, “Saat Siti berumur 10 tahun, Siti keliling kampung dan pasar dengan membawa bakul.”

Kenalan saya, seorang sastrawan Malaysia, juga begitu. Pertama, saya pikir dia berbahasa seperti itu hanya di dialog karya-karyanya. Tapi ternyata, saat bercakap-cakap pun dia menyebut namanya sendiri, alih-alih menggunakan kata ganti orang pertama.

Rasanya, gaya bicara semacam ini tidak ada di akar budaya lain. Anak kecil Prancis dengan tegas mengatakan, “Merci, Maman, je l’adore vraiment” (Terima kasih, Mama, aku benar-benar menyukainya). Bocah balita Amerika bernama Inggrid tegas bicara, “No, that’s mine!” bukannya, “No, that’s belong to Inggrid!”

Setiap bahasa pasti memiliki aturan mengenai kata ganti orang pertama (aku/kami), kedua (kamu/kalian) dan ketiga (dia/mereka). Ketika saya mengatakan, “Anindito mau makan”, timbul pertanyaan, yang berbicara itu orang pertama atau ketiga? Tapi keanehan ini di tatabahasa Indonesia tak seberapa kentara.

Coba kalau bahasa Inggris. “She goes” beda penulisannya dengan “I go”. Perhatikan tambahan “es” di kata kerjanya, padahal artinya sama-sama “pergi” kan. Dalam bahasa Prancis, satu kata kerja malah berubah-ubah disesuaikan kata gantinya. Je vais (saya pergi), il va (dia pergi), tu vas (kamu pergi), vous allez (kalian/Anda pergi), nous allons (kami pergi), ils/elles vont (mereka pergi).

Windy Ariestanty, penulis Shit Happens, berpendapat, “Itu hanya masalah cara berbicara sehari-hari. Tentunya dipengaruhi faktor pergaulan dan lingkungan mereka. Bahasa kan luwes. Tak ada yang salah dan tak ada persoalan yang muncul karena kebiasaan ini kan?”

Memang tidak ada masalah. Lagipula, “Aku bener-bener pernah ketemu orang-orang yang memang kebiasaannya manggil nama sendiri kayak gitu. Menurutku, kalau memang dimasukkan ke karya, justru bagus buat karakterisasi,” Farida Susanty, peraih Khatulistiwa Award 2007 kategori Penulis Muda Berbakat, urun opini.

Namun tidak ada salahnya kita mengurai, orang-orang seperti apa sih yang punya gaya bicara semacam itu. Saya menemukan empat tipe. Orang-orang yang menyebut namanya sendiri, dalam kehidupan nyata, biasanya:

Pertama, orang yang perkembangan bahasa dan orientasinya belum sempurna. Contohnya, anak kecil. Rani merengek sejadinya, “Rani takut, Pa, Rani takuuut….” Tapi perkembangan bahasa dan orientasi diri yang tidak sempurna bukan monopoli anak kecil. Orang yang jauh dari peradaban sosial juga.

Kedua, orang yang khawatir tidak terkenal, karakternya tidak kuat, dan, “Takut orang lupa sama nama mereka kalau nama itu tidak disebutkan bolak-balik,” komentar Nang Eddri Sumitra, penulis novel Rahasia Meede dan Negara Kelima. Sepakat! Coba, seberapa kerap di TV kita mendengar Betty (nama generik), “Jangan lupa dukung Betty ya malam grand final nanti.” Atau di radio, “Jangan kemana-mana, pendengar. Betty akan kembali setelah pesan-pesan berikut ini.”

Ketiga, orang egois. Jules César, kaisar Romawi terbesar, sering menyebut namanya sendiri dalam percakapan. Barangkali untuk memperlebar jarak dengan lawan bicaranya. Atau, mungkin juga si César itu cuma seorang narsis. “Ini terkait dengan ego yang besar. Sedikit bocoran nih, kalau orang melamar pekerjaan dan menyebut dirinya dengan namanya, pewawancara akan menganggapnya selfish,” terang Pritha Khalida, penulis prolifik yang sekaligus Sarjana Psikologi.

Keempat, orang yang berusaha sopan. Ini terjadi, masih menurut Pritha, salah satunya pada, “Seorang anak terhadap ortu atau orang yang umumnya masih saudara tapi lebih dewasa. Ketimbang bilang ‘Mas, aku mau pergi’ biasanya lebih sering anak itu bilang ‘Mas, Desi mau pergi.’” Di sisi berlawanan, saya juga menemukan orang dewasa yang canggung terhadap lawan bicaranya, “Kalau Pipit udah laper, bilang aja, nanti saya bisa belikan.”

Ini memang gaya bicara yang riil, atau dalam bahasa Farida, “Bukan reka-rekaan novelis/cerpenis semata.” Tapi, tetap saja harus ada pertanggungjawaban penulis, kenapa tokoh A sampai bergaya bicara seperti itu.

Lihatlah tokoh Tarzan. “Tarzan sees Jane in danger,” said Tarzan to Jane. Tarzan berbicara seperti itu sebab memang dikisahkan orientasi diri dan bahasanya tidak sempurna (tipe pertama). Tarzan dibesarkan di hutan sejak orok.

Di Harry Potter: The Chamber of Secret terdapat tokoh Dobby. Tokoh ini pernah berkata pada Harry Potter, “Dobby has to come, Dobby has to protect Harry Potter.” Sebagaimana tokoh Tarzan, tokoh Dobby juga sesuai dengan empat tipe di atas, terutama tipe pertama dan ketiga.

Tokoh Tarzan dan Dobby merupakan satu-satunya tokoh yang menyebutkan nama sendiri di sepanjang dua karya fiksi itu. Dalam pengamatan sehari-hari pun saya jarang sekali menemukan orang-orang yang menyebut namanya sendiri saat bercakap-cakap. Jadi J.K. Rowling tidak salah menciptakan hanya satu tokoh yang bergaya bicara seperti Dobby. Karena itu penggunaan bahasa yang aneh, terutama dalam bahasa Inggris.

“Saya sendiri menggunakan semua itu,” terang Ratih Kumala, juara III Sayembara Penulisan Novel DKJ. “Kadang tokoh saya menyebut nama bagi diri sendiri, kadang ‘saya’, ‘aku’, atau ‘gue’. Tergantung kesan pribadi macam apa yang ingin ditampilkan.”

Masalahnya, saya banyak menjumpai tokoh-tokoh seperti ini dalam perfiksian kita. Tidak peduli bagaimana karakter itu, seberapa dewasa dia, perlakuan terhadapnya dipukul rata: tokoh itu menyebutkan namanya sendiri.

Dalam bayangan saya, penulis itu takut tokoh ciptaannya tidak dikenali pembaca/pemirsa jika namanya tidak diulang-ulang. Jadi dia mengambil jalan pintas dalam mengenalkan tokohnya, “Ngapain repot-repot mengenalkan karakter tokoh dengan adegan-adegan yang pasti lama kalau ada cara yang instan: buatlah tokoh itu menyebut namanya sendiri setiap kali berdialog!”

Saya tidak mempersoalkan kata ganti ala Tarzan ini sebagai dialog khas tokoh fiksi. Namun harus konsisten karakterisasinya. Jangan sampai tokoh wanita dewasa yang cerdas dan mandiri menyebut-nyebut namanya sendiri saat berbicara. [comic from RESCOL]

24 Replies to “Tarzan Pronoun”

  1. antok

    Wah, bahasa Prancis-nya apik yo, Bram. Pernah ke Paris?

    Hm, paling BT kalo dalam diskusi seorang cewek bilang begini,”Menurut Bunga sih nggak banget kalo…..” sambil menggelendot manja, sok kecakepan.

    Bram, mungkin ini pertanyaan konyol tapi penting: dimana sih alamat perpus kota dan perpus provinsi?

    antok

    Reply
  2. Brahm

    Thanks, Antok. Prancisku pas2an kok dibilang apik. Ngenyek yo?! 😛 Hahaha, kadang2 memang memanggil nama sendiri gini terkesan sok centil.

    Bukan pertanyaan konyol kok. Perpus Provinsi: Jl. Menur Pumpungan 32 (5947830). Perpus Kota: Jl. Rungkut Asri Tengah 5-7 (8707329). Selamat berburu!

    Reply
  3. c.i.t.r.a

    1 ini artikel yang menarik bgt. trus terang citra ga pernah kepikiran sampe sana lho,
    2 so, citra minta izin buat save artikel ini.yah meskipun citra bukan penulis fiksi, buat di baca** doang. boro** nulis fiksi, nulis komen kek gini aja jarang** :>
    3 mo tanya sekalian, neh. jadi dari ke 4 tipe diatas, sitinurhaliza masuk tipe** yang mana, dong??? hehehehe.. itu blom ditulis, kan mas bram?
    4 tq

    Reply
  4. Brahm

    1. Terima kasih.
    2. Silakan.
    3. Dugaan terbaikku, tipe keempat (berusaha sopan).
    4. Sama2. Eh, btw, kamu sendiri termasuk tipe yg mana? 😛

    Reply
    • Orang ndeso

      Orang melayu termasuk sumatera.. didik untuk menyebutkan namanya dalam biasa sehari.. so itu budaya kami .. mungkin kedengaran so centil.. kanak2.. atw sopan.. dll

      Reply
  5. Sawali Tuhusetya

    mas brahm, ttg penggunaan kata ganti, lebih2 dalam fiksi, menurut hemat saya memang seperti apa yang dikemukakan ratih kumala. pengarang bisa mengambil dari sudut pandang apa pun. yang bikin saya resah, halah, pengaruh penggunaan kita yang sudah mewabah di kalangan selebritis kita, hiks. semuanya menggunakan kata ganti “kita” untuk menggantikan kata “aku” atau “kami”. walah, orang lain yang ndak tahu apa2 kok dilibatkan jugak! repot!

    Reply
  6. Brahm

    Benar, aku sendiri nggak ada masalah. Tergantung karakter si tokoh fiktif itu spt apa. Dan terserah pengarangnya, memang. Tp nggak lucu dong kalau karakter2 dlm karya yg bercerita kehidupan sehari2 banyak pakai gaya bicara semacam ini. Mendengarnya jd aneh. Gaya ini spt gaya bicara khas. Ada “kelompok”2 tertentu yg memang menggunakannya. Nah, kalau orang2 di luar “kelompok” itu menggunakan gaya bicara tsb, rasanya aneh. Saya mencontohkan teman saya, Icang (tokoh nyata), yg coba2 pakai gaya begitu.

    Oh, iya ya. Masalah “kita” itu jg. Mungkin ini adaptasi dari bahasa daerah “kitorang” (kita orang?) yg dipakai utk mengganti “aku”, kadang2 jg “kami”. Dlm kehidupan sehari2 malah aku lebih banyak ketemu orang yg suka menyamakan “kami” dan “kita”. Dg catatan: Kata “kita” lbh sering dipakai, sekalipun yg dimaksud pembicara adalah “aku dan dia”. Mungkin kata “kita” terkesan lbh tidak kaku ketimbang “kami”. Pdhl yg bener, “kita” = “aku” + “kamu”. Kalau yg dibicarakan nggak ada “kamu”-nya, ya nggak boleh pakai kata “kita” dong.

    Walah, kok jd bahas pelajaran bahasa nih. Btw, thx banget atas sumbang pendapatnya, Pak Guru Sawali. Blognya tambah keren aja tuh ^_^

    Reply
  7. brahmastagi

    Menurut saya ya, dari sisi bisnis, menyebut nama sendiri bisa menjadi cara jitu agar namanya di ingat. Terutama dikalangan artis, atau pegawai perusahaan besar. Seperti memasarkan diri sendiri (dalam tulisan seperti penyiar TV itu).

    Mungkin untuk membangun personal brand gaya bahasa seperti ini bisa membantu.

    Reply
  8. aghoose

    dengar aja kalo orang malaysia atau melayu (daerah Kepulauan Riau),
    mereka kebanyakan menggunakan nama, seperti halnya tarzan.

    Reply
  9. Calvin Michel Sidjaja

    wah bagus sekali artikelnya, saya agak jarang membaca novel pop dewasa ini, jadi kurang ngeh dengan perkembangan gaya sastra terbaru.

    Sejauh ini saya hanya menemui orang-orang yang mengucapkan nama mereka sewaktu bicara yang tampaknya jatuh ke kategori keempat, soalanya mereka memang anak rumahan sekali, jadi kalau bicara pun sangat sopan.

    penggunaan tipe percakapan ini menurut saya tidak masalah, asal tidak berlebihan. Misalnya mungkin untuk memperdalam karakterisasi tokoh tertentu (yang diperlihatkan memiliki kesopanan atau kemanjaan luar biasa).

    Reply
  10. Brahmanto Anindito

    Thanx, Calvin. Persis seperti itulah yg kumaksud. Lihatlah sinetron2 kita, beberapa tokoh yg mandiri, kuat dan dewasa) ternyata juga mengucap namanya sendiri waktu bercakap2. Kalau sedikit sih nggak papa, lha ini banyak yg kayak gitu. Maksudnya apa?

    Reply
  11. ratihkumala

    Ya, saya ingat Brahm pernah menanyakan perihal kata ganti orang pertama ini beberapa waktu lalu.

    Mengutip kalimat Anda [Masalahnya, saya banyak menjumpai tokoh-tokoh seperti ini dalam perfiksian kita. Tidak peduli bagaimana karakter itu, seberapa dewasa dia, perlakuan terhadapnya dipukul rata: Tokoh itu menyebutkan namanya sendiri. Namun apa latar belakang dan motivasi si tokoh? Kenapa dia sampai bicara seperti itu? Saya sulit menemukannya.], saya ingin kasih pendapat.

    Ada dua unsur besar dalam fiksi kita yang kerap tak dikuasai penulis: 1) konflik/masalah, dan 2) penokohan. Biasanya, jika ‘konflik/masalah’ yang diangkat kuat, ‘penokohan’ karakter belum tentu. Begitu pula sebaliknya. Dengan menyesal saya harus bilang, banyak dari penulis kita yang belum punya kemampuan untuk membuat penokohan yang baik, itulah sebab semua dipukul rata.

    Nah, soal kata ganti orang pertama, itu salah satu permasalahan di dalam ‘penokohan’. Itu baru hal yang sederhana, saya sering menemukan kesalahan yang lebih besar di cerpen para penulis pemula, yaitu: memasukkan pengetahuan penulis ke dalam tokoh. Padahal ‘tokoh yang diciptakan’ dan ‘penulis’ adalah orang yang berbeda. (Btw, kok ngomongnya jadi melenceng ya!? 😛 hehehe, sorry…)

    Ya, begitulah kira-kira. Mungkin teman-teman punya pendapat lain.

    -rk-

    Reply
  12. Brahm

    Trims udah mampir di warung sederhana ini, Mbak Ratih. Yap, pendapat kita sama dan sebangun (halah, apaan sih?!). Satu2nya hal yg berusaha kutulis: Karakter Tarzan ini bisa dimanfaatkan buat memperkuat penokohan, tp pergunakan dg bijak (tidak berlebihan).

    Btw, Mbak Ratih, udah terima emagz-nya kan? Atau setidaknya udah download kan?

    Reply
  13. Dessy

    ngomentarin komen citra yang pertama…

    siti nurhaliza menyebut namanya sendiri di perkataanya karena itu sudah khas nya orang melayu. selain itu juga agar terdengar sopan.

    jadi kata orang ketiga, dll itu tergantung dari penataan epik bahasa nya. memang ada beberapa (tapi jarang) negara – negara yang mempunyai budaya seperti itu dalam bahasa formal. tapi tolong di check lagi takut salah ;D

    Reply
  14. Miphz

    Nice, very nice…

    Ini die tips yang gw cari, sampai2 saya beli 3 buku tips nulis – tetep saja aku tidak menemukannya!

    Thanks, very thanks from the bottom of my heart 🙂

    Reply
  15. Olin

    Sampai sekarang saya sering tanpa sadar menyebutkan nama sendiri dalam berbicara di antara kawan dekat atau keluarga :)) (terkadang juga pada orang yg baru kenal)

    Entah karena kebiasaan, ato alasan terakhir yg mas sebutkan ato entah apa, tapi yg berbicara macam begini hanya saya dan tante saya seorang lohhh. (sering pula bapak sm ibu saya ato anggota keluarga lain saat merespon saya. Oh tapi kecuali kakak saya, dia bakal respon dengan kata ‘gw’)

    Ohya, saya juga mau menambahkan. Ternyata orang jepang (biasanya juga anak2) juga mengadopsi kebiasaan ini loh biasanya…

    Apakah ini jangan” ciri khas bahasa asia secara general? (.__.) hahah

    Reply
  16. nisa

    Ya liat situasi lah bray.. Klo situasi formal ya ga mungkin nyebut pake nama.
    Itukan cuma digunakan pada saat2 tertentu seperti sama orang yg dihormati saudara/orang yg lbh tua.
    Klo formal kaya kerja atau sekolah ya pake kata “saya”
    Intinya semua ada tempatnya.
    Tergantung dr kita bisa nempatin gak. Hehe

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.