Kata Ganti Orang Pertama ala Tarzan

February 14, 2008
By Brahmanto Anindito

Chika mau makan nih,” kata Chika.

Menyebut nama sendiri ketika berdialog. Pernahkah Anda menemukan gaya bicara semacam ini? Saya sering. Di novel, cerpen, film, apalagi sinetron. Sang tokoh tidak menggunakan kata “saya”, “aku” atau “gue”. Malah memakai kata ganti orang ketiga. Padahal yang dirujuknya adalah orang pertama. Aaah, bahasa kita memang “hebat”.

Konon kebiasaan menyebut nama sendiri ini hanya terjadi di negeri rumpun Melayu. Baru-baru ini saya membaca di koran tentang Siti Nurhaliza. Penyanyi dari Malaysia itu berkata, “Saat Siti berumur 10 tahun, Siti keliling kampung dan pasar dengan membawa bakul.”

Gaya bicara semacam ini di akar budaya lain tidak ada, saya rasa. Anak kecil Prancis dengan tegas mengatakan, “Merci, Maman, je l’adore vraiment” (Terima kasih, Mama, aku benar-benar menyukainya). Bocah balita Amerika bernama Inggrid tegas bicara, “No, that’s mine!” bukannya, “No, that’s belong to Inggrid!” Kalau ini sampai diucapkan, mungkin lawan bicaranya akan bertanya balik, “Who’s Inggrid?”

Setiap bahasa di planet ini pasti memiliki aturan mengenai kata ganti orang pertama, kedua dan ketiga. Begitupun di tatabahasa Indonesia: Aku/kami, kamu/kalian, dia/mereka. Ketika saya mengatakan, “Anindito mau makan”, maka kalimat itu menjadi aneh bagi orang-orang tertentu. Masalahnya, yang berbicara itu orang pertama atau ketiga? Tapi keanehan tersebut di tatabahasa kita tak seberapa kentara. Bahasa Indonesia memang gampang (setidaknya ini kata beberapa bule kenalan saya). Karena itu kita selalu enak melanggar dan menyalahinya tanpa perlu terlihat bodoh di mata lawan bicara.

Coba kalau bahasa Inggris! “She goes” beda penulisannya dengan “I go”. Perhatikan tambahan “es” di kata kerjanya, padahal artinya sama-sama “pergi” kan. Dalam bahasa Prancis, satu kata kerja malah berubah-ubah disesuaikan dengan kata gantinya. Je vais (saya pergi), il va (dia pergi), tu vas (kamu pergi), vous allez (kalian/Anda pergi), nous allons (kami pergi), ils/elles vont (mereka pergi).

Windy Ariestanty, penulis Shit Happens, berpendapat, “Itu hanya masalah cara berbicara mereka sehari-hari. Tentunya dipengaruhi faktor pergaulan dan lingkungan mereka. Bahasa kan luwes. Tak ada yang salah dan tak ada persoalan yang muncul karena kebiasaan ini kan?”

Memang tidak ada masalah. Saya rasa itu hak asasi penulis untuk menciptakan tokoh yang berbicara begitu. Lagipula, “Aku bener-bener pernah ketemu orang-orang yang memang kebiasaannya manggil nama sendiri kayak gitu. Menurutku, kalau memang dimasukkan ke karya, justru bagus buat karakterisasi,” Farida Susanty, peraih Khatulistiwa Award 2007 kategori Penulis Muda Berbakat, urun opini.

Namun tidak ada salahnya kita mengurai, orang-orang seperti apa sih yang punya gaya bicara semacam itu. Saya menemukan empat tipe. Anda bisa menambahkan, mengurangi, atau mendebat temuan saya ini kapan saja. Orang-orang yang menyebut namanya sendiri, dalam kehidupan nyata, adalah:

Pertama, orang yang perkembangan bahasa dan orientasinya belum sempurna. Contohnya, anak kecil. Rani merengek sejadinya, “Rani takut, Pa, Rani takuuut ….” Tapi perkembangan bahasa dan orientasi diri yang tidak sempurna bukan monopoli anak kecil. Orang yang jauh dari peradaban sosial juga. Saya akan memberikan contohnya sebentar lagi.

Kedua, orang yang takut tidak terkenal, karakternya tidak kuat, dan merasa orang lain takkan ingat namanya kalau nama itu tidak disebutkan bolak-balik. “Anak rumahan kan emang suka nyebut nama, soalnya takut orang lupa ama nama mereka,” komentar Nang Eddri Sumitra, novelis Rahasia Meede dan Negara Kelima. Saya sepakat dengan Uda Eddri. Coba, seberapa kerap di TV kita mendengar si Betty (ini cuma nama generik lho) mengucap, “Jangan lupa dukung Betty ya malam grand final nanti.” Atau di radio, “Jangan kemana-mana, pendengar. Betty akan kembali setelah pesan-pesan berikut ini.” Padahal Betty ini kalau lagi tidak siaran ngomongnya ya tetap pakai lu/gue.

Ketiga, orang manja atau egois. Jules César, kaisar Romawi terbesar, sering menyebut namanya sendiri dalam percakapan. Barangkali untuk memperlebar jarak dengan orang yang diajaknya bicara. Bahwa yang diajaknya bicara (bahkan dirinya sendiri) lebih rendah dari karismanya. Atau mungkin juga si César itu cuma seorang narsis. “Ini terkait dengan ego yang besar, dalam artian individu itu terpaku dengan dirinya sendiri. Sedikit bocoran nih, kalau orang melamar pekerjaan dan menyebut dirinya dengan namanya, susah buat diterima! Soalnya pewawancara akan menganggap dia selfish,” terang Pritha Khalida, co-writer sitkom The Coffee Bean Show yang sekaligus Sarjana Psikologi.

Keempat, orang yang canggung atau berusaha sopan. Ini terjadi, masih menurut Pritha, salah satunya pada, “Seorang anak terhadap ortu atau orang yang umumnya masih saudara tapi lebih dewasa. Ketimbang bilang ‘Mas, aku mau pergi’ biasanya lebih sering anak itu bilang ‘Mas, Desi mau pergi.’” Di sisi berlawanan, saya juga menemukan orang dewasa yang canggung terhadap lawan bicaranya yang di bawah umurnya (atau sebaya). Canggung untuk mengamu-kamukan, maka kalimat yang dia pilih adalah, “Kalau Pipit sudah laper, bilang aja, nanti saya bisa berhenti di restoran di sepanjang perjalanan ini.” Yang ini kata ganti orang ketiga untuk mengganti orang kedua (orang yang diajang ngomong).

Ini memang gaya bicara yang riil! Dalam bahasa Farida, “Bukan reka-rekaan atau eksperimen novelis/cerpenis semata.” Tapi tetap saja harus ada pertanggungjawaban penulis untuk memasukkan motivasi atau latar belakang seorang tokoh bikinannya hingga menjadi jelas, kenapa tokoh A berbicara seperti itu.

Contohnya, tokoh Tarzan. “Tarzan see Jane in danger,” said Tarzan to Jane. Entah, pengarangnya menulis “see” dengan diakhiri huruf “s” atau tidak. Tarzan berbicara seperti itu sebab memang dikisahkan orientasi diri dan bahasanya tidak sempurna. Tarzan dibesarkan di hutan sejak orok.

Di Harry Potter: The Chamber of Secret terdapat tokoh Dobby. Tokoh ini pernah berkata pada Harry Potter, “Dobby has to come, Dobby has to protect Harry Potter.” Hmm, ternyata yang digunakan adalah “has” (orang ketiga) bukan “have” (orang pertama). Sebagaimana tokoh Tarzan, tokoh Dobby juga sesuai dengan empat tipe di atas, terutama tipe pertama (perkembangan bahasa tak sempurna) dan ketiga (egois).

Kalau kita perhatikan, tokoh Tarzan dan Dobby, sependek pengetahuan saya, merupakan satu-satunya tokoh yang menyebutkan nama sendiri di sepanjang karya fiksi itu. Dan dalam pengamatan sehari-hari pun saya jarang sekali menemukan orang-orang yang menyebut namanya sendiri saat bercakap-cakap. Jadi J.K. Rowling tidak salah menciptakan hanya satu tokoh yang bergaya bicara seperti Dobby. Karena itu penggunaan bahasa yang aneh, terutama dalam bahasa Inggris.

“Saya pikir itu sebisa-bisanya penulisnya saja. Saya sendiri menggunakan semua itu, kadang tokoh menyebut nama bagi diri sendiri, kadang ‘saya’, ‘aku’, atau ‘gue’. Tergantung kesan pribadi macam apa yang ingin penulis tampilkan,” terang Ratih Kumala, juara III Sayembara Penulisan Novel DKJ 2003.

Setuju, Mbak Ratih. Kesan pribadi apa yang hendak kita tampilkan pada diri si tokoh? Masalahnya, saya banyak menjumpai tokoh-tokoh seperti ini dalam perfiksian kita. Tidak peduli bagaimana karakter itu, seberapa dewasa dia, perlakuan terhadapnya dipukul rata: Tokoh itu menyebutkan namanya sendiri. Namun apa latar belakang dan motivasi si tokoh? Kenapa dia sampai bicara seperti itu? Saya sulit menemukannya.

Lucunya, yang saya temukan justru motivasi penulisnya. Dalam bayangan saya, penulis itu takut tokoh ciptaannya tidak dikenali pembaca/pemirsa jika namanya tidak diulang-ulang. Jadi si penulis mengambil jalan pintas dalam mengenalkan tokohnya. “Ngapain repot-repot mengenalkan karakter tokoh dengan adegan-adegan yang pasti lama kalau ada cara yang instan: Buatlah tokoh itu menyebut namanya sendiri setiap kali berdialog!” mungkin begitu benak si penulis.

Saya tidak mempersoalkan kata ganti ala Tarzan ini sebagai dialog khas tokoh fiksi. Namun harus jelas karakterisasinya. Jangan sampai tokoh cewek dewasa yang cerdas dan mandiri menggunakan kata ganti ala Tarzan untuk berbicara dengan rekan atau bahkan saudaranya.

Di kantor saya, ada teman yang namanya Icang. Orangnya brewok, posturnya mirip Rhoma Irama pas umur 20-an. Tapi suara Icang ini menggelegar tanpa cengkok. Saya minta dia berbicara seperti ini. Icang pun spontan mencoba sensasinya. “Brahm, Icang mau liputan dulu ya,” katanya begitu saja. Kami ngakak berjamaah. Busyet! Lalu saya larang dia untuk menyebut namanya dengan cara begitu lagi, atau saya akan muntah di hadapannya.

Tags: , ,

20 Responses to “ Kata Ganti Orang Pertama ala Tarzan ”

  1. antok on February 14, 2008 at 10:58 am

    Wah, bahasa Prancis-nya apik yo, Bram. Pernah ke Paris?

    Hm, paling BT kalo dalam diskusi seorang cewek bilang begini,”Menurut Bunga sih nggak banget kalo…..” sambil menggelendot manja, sok kecakepan.

    Bram, mungkin ini pertanyaan konyol tapi penting: dimana sih alamat perpus kota dan perpus provinsi?

    antok

  2. Brahm on February 15, 2008 at 4:17 am

    Thanks, Antok. Prancisku pas2an kok dibilang apik. Ngenyek yo?! :P Hahaha, kadang2 memang memanggil nama sendiri gini terkesan sok centil.

    Bukan pertanyaan konyol kok. Perpus Provinsi: Jl. Menur Pumpungan 32 (5947830). Perpus Kota: Jl. Rungkut Asri Tengah 5-7 (8707329). Selamat berburu!

  3. c.i.t.r.a on February 17, 2008 at 1:07 am

    1 ini artikel yang menarik bgt. trus terang citra ga pernah kepikiran sampe sana lho,
    2 so, citra minta izin buat save artikel ini.yah meskipun citra bukan penulis fiksi, buat di baca** doang. boro** nulis fiksi, nulis komen kek gini aja jarang** :>
    3 mo tanya sekalian, neh. jadi dari ke 4 tipe diatas, sitinurhaliza masuk tipe** yang mana, dong??? hehehehe.. itu blom ditulis, kan mas bram?
    4 tq

  4. Brahm on February 18, 2008 at 3:09 am

    1. Terima kasih.
    2. Silakan.
    3. Dugaan terbaikku, tipe keempat (berusaha sopan).
    4. Sama2. Eh, btw, kamu sendiri termasuk tipe yg mana? :P

  5. Sawali Tuhusetya on February 19, 2008 at 11:28 am

    mas brahm, ttg penggunaan kata ganti, lebih2 dalam fiksi, menurut hemat saya memang seperti apa yang dikemukakan ratih kumala. pengarang bisa mengambil dari sudut pandang apa pun. yang bikin saya resah, halah, pengaruh penggunaan kita yang sudah mewabah di kalangan selebritis kita, hiks. semuanya menggunakan kata ganti “kita” untuk menggantikan kata “aku” atau “kami”. walah, orang lain yang ndak tahu apa2 kok dilibatkan jugak! repot!

  6. Brahm on February 20, 2008 at 4:54 am

    Benar, aku sendiri nggak ada masalah. Tergantung karakter si tokoh fiktif itu spt apa. Dan terserah pengarangnya, memang. Tp nggak lucu dong kalau karakter2 dlm karya yg bercerita kehidupan sehari2 banyak pakai gaya bicara semacam ini. Mendengarnya jd aneh. Gaya ini spt gaya bicara khas. Ada “kelompok”2 tertentu yg memang menggunakannya. Nah, kalau orang2 di luar “kelompok” itu menggunakan gaya bicara tsb, rasanya aneh. Saya mencontohkan teman saya, Icang (tokoh nyata), yg coba2 pakai gaya begitu.

    Oh, iya ya. Masalah “kita” itu jg. Mungkin ini adaptasi dari bahasa daerah “kitorang” (kita orang?) yg dipakai utk mengganti “aku”, kadang2 jg “kami”. Dlm kehidupan sehari2 malah aku lebih banyak ketemu orang yg suka menyamakan “kami” dan “kita”. Dg catatan: Kata “kita” lbh sering dipakai, sekalipun yg dimaksud pembicara adalah “aku dan dia”. Mungkin kata “kita” terkesan lbh tidak kaku ketimbang “kami”. Pdhl yg bener, “kita” = “aku” + “kamu”. Kalau yg dibicarakan nggak ada “kamu”-nya, ya nggak boleh pakai kata “kita” dong.

    Walah, kok jd bahas pelajaran bahasa nih. Btw, thx banget atas sumbang pendapatnya, Pak Guru Sawali. Blognya tambah keren aja tuh ^_^

  7. brahmastagi on February 21, 2008 at 3:12 am

    Menurut saya ya, dari sisi bisnis, menyebut nama sendiri bisa menjadi cara jitu agar namanya di ingat. Terutama dikalangan artis, atau pegawai perusahaan besar. Seperti memasarkan diri sendiri (dalam tulisan seperti penyiar TV itu).

    Mungkin untuk membangun personal brand gaya bahasa seperti ini bisa membantu.

  8. Brahm on February 21, 2008 at 3:38 am

    Bener, Mas Brahmastagi. Salah satu motivasinya yg saya lihat memang begitu. Thx ya udah mampir.

  9. karna on February 24, 2008 at 8:12 am

    kitorang dan korang di pake di m’sia, tp utk pembicaraan non formal dan jg di komik2, biasanya di ‘tebelin’ (bold).

  10. Brahm on February 25, 2008 at 3:24 am

    Oooh, gitu ya. Thx buat penjelasan tambahannya, Mas Karna.

  11. aghoose on February 27, 2008 at 4:51 am

    dengar aja kalo orang malaysia atau melayu (daerah Kepulauan Riau),
    mereka kebanyakan menggunakan nama, seperti halnya tarzan.

  12. Brahm on February 28, 2008 at 4:13 am

    Terima kasih udah mampir, Aghoose. Hm, berarti gaya bicara ini jg dipengaruhi budaya ya.

  13. Calvin Michel Sidjaja on March 31, 2008 at 3:33 pm

    wah bagus sekali artikelnya, saya agak jarang membaca novel pop dewasa ini, jadi kurang ngeh dengan perkembangan gaya sastra terbaru.

    Sejauh ini saya hanya menemui orang-orang yang mengucapkan nama mereka sewaktu bicara yang tampaknya jatuh ke kategori keempat, soalanya mereka memang anak rumahan sekali, jadi kalau bicara pun sangat sopan.

    penggunaan tipe percakapan ini menurut saya tidak masalah, asal tidak berlebihan. Misalnya mungkin untuk memperdalam karakterisasi tokoh tertentu (yang diperlihatkan memiliki kesopanan atau kemanjaan luar biasa).

  14. Brahmanto Anindito on April 1, 2008 at 10:37 am

    Thanx, Calvin. Persis seperti itulah yg kumaksud. Lihatlah sinetron2 kita, beberapa tokoh yg mandiri, kuat dan dewasa) ternyata juga mengucap namanya sendiri waktu bercakap2. Kalau sedikit sih nggak papa, lha ini banyak yg kayak gitu. Maksudnya apa?

  15. ratihkumala on April 2, 2008 at 3:47 pm

    Ya, saya ingat Brahm pernah menanyakan perihal kata ganti orang pertama ini beberapa waktu lalu.

    Mengutip kalimat Anda [Masalahnya, saya banyak menjumpai tokoh-tokoh seperti ini dalam perfiksian kita. Tidak peduli bagaimana karakter itu, seberapa dewasa dia, perlakuan terhadapnya dipukul rata: Tokoh itu menyebutkan namanya sendiri. Namun apa latar belakang dan motivasi si tokoh? Kenapa dia sampai bicara seperti itu? Saya sulit menemukannya.], saya ingin kasih pendapat.

    Ada dua unsur besar dalam fiksi kita yang kerap tak dikuasai penulis: 1) konflik/masalah, dan 2) penokohan. Biasanya, jika ‘konflik/masalah’ yang diangkat kuat, ‘penokohan’ karakter belum tentu. Begitu pula sebaliknya. Dengan menyesal saya harus bilang, banyak dari penulis kita yang belum punya kemampuan untuk membuat penokohan yang baik, itulah sebab semua dipukul rata.

    Nah, soal kata ganti orang pertama, itu salah satu permasalahan di dalam ‘penokohan’. Itu baru hal yang sederhana, saya sering menemukan kesalahan yang lebih besar di cerpen para penulis pemula, yaitu: memasukkan pengetahuan penulis ke dalam tokoh. Padahal ‘tokoh yang diciptakan’ dan ‘penulis’ adalah orang yang berbeda. (Btw, kok ngomongnya jadi melenceng ya!? :P hehehe, sorry…)

    Ya, begitulah kira-kira. Mungkin teman-teman punya pendapat lain.

    -rk-

  16. Brahm on April 3, 2008 at 5:44 am

    Trims udah mampir di warung sederhana ini, Mbak Ratih. Yap, pendapat kita sama dan sebangun (halah, apaan sih?!). Satu2nya hal yg berusaha kutulis: Karakter Tarzan ini bisa dimanfaatkan buat memperkuat penokohan, tp pergunakan dg bijak (tidak berlebihan).

    Btw, Mbak Ratih, udah terima emagz-nya kan? Atau setidaknya udah download kan?

  17. aris on August 23, 2008 at 3:08 pm

    wow pengamatan yang bagus

  18. Dessy on March 16, 2009 at 5:19 pm

    ngomentarin komen citra yang pertama…

    siti nurhaliza menyebut namanya sendiri di perkataanya karena itu sudah khas nya orang melayu. selain itu juga agar terdengar sopan.

    jadi kata orang ketiga, dll itu tergantung dari penataan epik bahasa nya. memang ada beberapa (tapi jarang) negara – negara yang mempunyai budaya seperti itu dalam bahasa formal. tapi tolong di check lagi takut salah ;D

  19. Brahmanto Anindito on March 17, 2009 at 8:22 am

    Trims jawabannya, Dessy. ^_^

  20. Miphz on September 6, 2009 at 10:20 am

    Nice, very nice…

    Ini die tips yang gw cari, sampai2 saya beli 3 buku tips nulis – tetep saja aku tidak menemukannya!

    Thanks, very thanks from the bottom of my heart :)

Leave a Reply

CommentLuv Enabled