Is Join A Writer Community That Important?

Discussion in writing community

Nah, I don’t think so. You don’t have to join a writer community to become a writer. However, if you want to enhance your writing, this is not a bad idea at all. It doesn’t matter whether it’s physical community or online community, the writing community has always following advantage.

  1. Learn to write in conducive. The members will critique your work, give the input, motivation, even benchmark the achievements each other.
  2. As you have already fans. If your novel is about to be published, you can ask them to be first buyers.
  3. Get more recommendations. Many heads will share with you about the proper media, publishers for your work, even you can discuss the latest promotion tricks.
  4. Join a community makes a writer look serious. This is one of editor’s considerations to publish one’s work.

* * *

Saya yakin di Indonesia ada banyak komunitas atau klab menulis. Salah satu yang paling banyak dikenal dan banyak cabangnya yakni Forum Lingkar Pena (FLP). Di Bandung dan sekitarnya pun ada Institut Nalar Jatinangor, gank menulis Mnemonic, Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) UPI, Komunitas Sastra Indonesia, Komunitas Sastra Bandung Utara, Klab Nulis Tobucil. Masih banyak lagi. Bahkan November kemarin, saya dan beberapa teman sesama penulis di Cicalengka mendirikan Balé Sastra Cicalengka (BSC).

Biasanya, di sana ada penulis senior yang bertugas sharing cara-cara menulis. Dengan begitu, komunitas itu bisa menjadi tempat yang kondusif untuk belajar menulis.

Dalam klab menulis, kita belajar teori-teori menulis terlebih dahulu sebelum kita disuruh menulis. Namun ada juga yang menggunakan metode learning by doing. Ujung-ujungnya sama saja: tulisan kita dikomentari, diberi saran dan kritik.

Sebetulnya, kalau hanya untuk meminta komentar pembaca sih tak bergabung di komunitas menulis pun tak masalah. Mungkin ada penulis yang lebih nyaman atau lebih suka belajar menulis secara otodidak atau malas berinteraksi dengan orang banyak biarpun sesama penulis (orang semacam ini popular dengan sebutan shy writer). Saat membutuhkan komentar pembaca, dia tinggal minta kepada orang terdekatnya untuk menjadi proofreader.

Tanpa komunitas bisa saja. Tapi, bergabung dengan komunitas menulis tentu memiliki manfaat lebih.

  1. Belajar menulis dengan kondusif. Karya kita akan dikritik, diberi saran, dibandingkan dengan sesama anggota. Sehingga akan jelas pencapaian kita. Pun, ketika semangat mulai luntur, anggota-anggota lainnya biasanya akan memberi suntikan motivasi.
  2. Seperti sudah mempunyai fans. Jika karya kita (umpamanya novel) diterbitkan, yang pertama kita beritahu ya teman-teman sesama anggota. “Novel saya terbit bulan depan. Beli ya.”
  3. Mendapat banyak rekomendasi. Misalnya kita menulis cerita remaja dengan bahasa populer. Warga komunitas bisa memberitahu naskah itu sebaiknya dikirim ke majalah remaja ABC atau ke penerbit DEF. Mereka juga dapat menyarankan trik promosi yang termutakhir.
  4. Nama komunitas adalah pertimbangan redaktur koran atau pihak penerbit untuk memuat atau menerbitkan karya kita. Saya sering membaca biodata singkat penulis di surat kabar seperti ini, “Penulis bergiat di komunitas menulis XYZ”.

Tapi jangan salah, komunitas tidak bisa dikekang tembok geografi. Membangun dan menggiatkan komunitas menulis secara online pun bisa saja. Seperti blogging di Thoughts (yang ini pesan sponsor). Di sana ada forum diskusi, dengan komunitas yang interaktif. Ini seperti kredo, “Apapun yang offline kelak akan menjadi online.” Yah, termasuk komunitas menulis.

Anda sendiri bagaimana? Bergabung dengan komunitas menulis juga atau tidak? Offline atau online? Ceritakan pengalaman dan kesan-kesan Anda.

22 Replies to “Is Join A Writer Community That Important?”

  1. Brahmanto Anindito

    Pernah gabung dg komunitas sastra, komunitas komik, komunitas film. Semuanya nggak terstruktur. 90% ngomong, membahas karya orang lain, bercanda. 10% baru berkarya. Jarang ada sharing dari senior. Jd menurutku malah buang2 waktu dan tenaga. Mungkin aku salah masuk komunitas aja kali ya.

    Gmn dg Balé Sastra Cicalengka? ^_^

    Reply
  2. WP Robot

    Hi, Can i copy a few sentences from your this article, i find somes are very good! i’m want to write the same as yours. But don’t worry, if i copy, i wll add your links in my blog posts!

    Reply
  3. jalaindra

    menulis saja lah.
    kadang sebuah komunitas bisa menjadi candu.
    senior menjadi patron. dan ketika karya kita tak sehebat karya senior, selamanya akan berada dalam bayang2 sang senior.
    ketika kita bisa berkarya sendiri tanpa bayang-bayang sebuah komunitas, kenapa nggak?
    .-= jalaindra´s last blog ..Kisah Sehelai Bulu =-.

    Reply
  4. rie

    Temanteman, aku udah sembuh kok. Cuma ngerasa aneh aja pas keluar rumah dan online lagi.

    @Brahm
    BSC lagi vakum, sebenernya. Nggak tau kapan mulai ngumpul2 lagi. Aku sendiri masih belum boleh mondarmandir sanasini.
    Tapi ya, Brahm, nyari tempat yang cocok buat kita tuh emang susah. Aku juga keluar masuk beberapa komunitas. Jujur aja, ampe sekarang aku belum nemu tempat yang gue banget. Di BSC aku ambil enaknya aja: proofreading naskahnaskah kecil kayak cerpen, puisi ato esey. Jadi kalo aku nulis yg nggak sefaham dgn mereka, aku paksa aja mereka buat suka tulisanku hehehe.

    @Acep
    Hai, temen sekampung hehehe.
    Kalo mau tau BSC, obrolin di Fb aja.

    @jalaindra
    Salam kenal juga.
    Mau berkomunitas ato nggak, itu masalah pilihan aja. Kalo cocok, ya silakan. Kalo nggak, terserah. Tapi di komunitas pun, kita juga bisa belajar menjadi diri sendiri. Kalo orangorang komunitas bisa nerima kita, ya bagus. Tapi kalo nggak ato mereka maksa kita buat seperti mereka, mendingan cabut aja.
    .-= rie´s last blog ..Airport in Indonesia =-.

    Reply
  5. acep

    Sudah dicari di Fb, tapi Aku bingung. Soalnya ada lima Rie Yanti. Empat diantaranya tak berfoto. Sedangkan yang satu sepertinya bukan Rie Yanti yang kucari.

    Reply
  6. rie

    @ariez
    Kangen ya?

    @acep
    Carinya Rie Vijay, gambar buku dan pulpen. Pasti ada.

    Oia, Teman-teman, maaf ya kalo aku agak susah ditemui akhir-akhir ini. Tapi aku masih idup kok. ^_^

    Reply
  7. Muljo

    Halo semua,
    surfing, browsing and mampir ke situs ini,
    saya suka menulis dan punya beberapa tulisan cuma sampai saat ini semua itu hanya bertebaran di internet. Mungkin para sahabat bisa beri dukungan.suatu hari saya ingin tulisan saya terbit entah di mana.

    salam kenal,
    Muljo Prasetijanto

    Reply
  8. Ria

    Hmmm, kalau kepingin tulisan2nya di terbitkan kayaknya memang perlu join komunitas penulis. karena di komunitas itu juga ada penerbit dan editor2… Plus, kita bisa dpt feedback apa tulisannya kita disukai pembaca atau enggak
    Ria´s last blog post ..Life is like shoes laces

    Reply
  9. Rie

    Bener. Tapi gimana komunitasnya juga. Kalo orang2nya kebanyakan ngomong ya malah buang2 waktu. Bagusnya kalo mau berkomunitas ada tujuan yg ingin dicapai.

    Reply
  10. widi

    Dari dulu nyari komunitas mnulis d bdg. Pgn bgt ad yg ngajakin.. Tp ga ad.. 🙁
    Pdhl pgn bgt gabung.. Kasih info ya gmn caranya, flp ato kom.menulis tobucil jg boleh.
    Pgn bs bljr nulis,, 🙂
    Thanks y

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.