Improving Your Writing Skill with Lateral Thinking

lateralThis is very good methods for the writers. Random entry, provocation, challenge, and concept fan are four of lateral thinking’s techniques. Coined by Edward de Bono, the lateral thinking is concerned with the movement value of statements and ideas, for solving problems through an indirect and creative approach. Lateral thinking is about reasoning that is not immediately obvious and about ideas that may not be obtainable by using only traditional logic.

For instance: A son and his father are in a car crash. The father is killed and he is taken to hospital gravely injured. When the child gets there, the surgeon says, “I can’t operate on this boy, for he is my son!” Isn’t the father already dead? How can this possibly be? Ah, ah, don’t try to peep the answer in the bottom. You know the answer by using lateral thinking. Go here if you want to know about lateral thinking further.

* * *

Menurut kamus Oxford, lateral thinking merupakan cara berpikir untuk mencari solusi melalui metode yang baru atau elemen yang biasanya diabaikan oleh logika. Gampangannya, lateral thinking adalah kebalikan dari literal thinking (berpikir lurus, linier). Teknik ini bagus sekali untuk penulis, terutama ketika dia mengalami kebuntuan.

Lateral thinking pertama diperkenalkan oleh Edward de Bono. Menurut dokter dan psikolog ini, secara default otak tidak didesain untuk kreatif. Itulah kenapa kita perlu menyetting otak agar produktif dalam menciptakan percikan-percikan kreativitas. Salah satu segmen dari bahasan ini, de Bono menawarkan empat alat untuk memicu ide.

Random Entry. Pilihlah sembarang kata, lalu hubungkan dengan fokus pemikiran Anda. Contohnya, Anda ingin membuat klimaks cerita yang menggigit, tapi tak kunjung menemukan ide. Cobalah lihat sekeliling. Pertama yang Anda lihat katakanlah komputer. Hubungkan itu dengan fokus Anda. Jadilah ending, umpamanya, sang tokoh mengetikkan seluruh kisahnya yang menakjubkan melalui komputer.

Provocation. Ambillah ide-ide provokatif (yang aneh, nyeleneh, berlebihan, konyol) yang berkaitan dengan masalah Anda, lalu transfer menjadi ide baru. Misalnya fokus Anda adalah membuat ruang baca lebih terang, karena saat ini cahaya dari lampu di langit-langit tidak sampai menjangkau kedalaman laci.

  • Provokasi: Meja baca yang bisa dipakai sekalipun gelap.
  • Ide baru: Lampu dalam laci yang menyala hanya saat dibuka.

Challenge. Terus pertanyakan “mengapa” untuk sebuah ide. Bukan untuk cari perkara, tapi untuk menantang ide itu sehingga pada akhirnya lahirlah ide baru yang tak terbantahkan. Contohnya, tantanglah ide pengoperasian truk-truk sampah yang menyebarkan aroma busuk saat orang seharusnya berangkat kerja dengan segar.

  • Jam kerja supir truk memang jam segitu. Mengapa tidak digeser lebih pagi?
  • Itu artinya mengorbankan para supir dengan menyuruhnya bekerja pada pagi buta. Mengapa mengorbankan lebih banyak orang yang harus mencium aroma sampah pagi-pagi?
  • Para supir itu kesulitan bangun pagi, takut kurang tidur. Mengapa? Toh siang hari mereka sudah bisa pulang dan melanjutkan tidur.
  • Mereka tidak mau. Mengapa tidak mencari orang yang mau?

Concept Fan. Ciptakan ide-ide baru dari ide lama. Tapi sebelumnya, tahukah Anda perbedaan antara “konsep” dan “ide”? Konsep adalah pendekatan umum untuk melakukan sesuatu, sifatnya abstrak (“kado buat adik”). Sedangkan ide adalah cara untuk mewujudkan konsep, sifatnya lebih kongkrit (“Blackberry buat adik”).

Misalkan saja, Anda kecewa karena rumah Anda akan digusur untuk pelebaran jalan. Uang kompensasi sudah Anda terima, namun tetap saja berat meninggalkan rumah kenangan itu. Alih-alih marah atau mengajak demo orang-orang senasib ke pemkot, Anda segera mencari tahu apa yang membuat pelebaran jalan ini menjadi begitu penting sampai mengorbankan rumah-rumah rakyat jelata.

“Tujuannya ya untuk menambah jalan, Pak,” tukas si penanggung jawab proyek. “Bapak lihat sendiri kan, macet di daerah ini sudah ampun-ampun. Tidak bisa tidak, harus dibangun jalan baru!”

“Tapi apa tidak ada cara selain pelebaran?”

“Lho, kalau Bapak punya usul ya silakan. Kami selalu terbuka,” katanya sambil mengutak-atik ponsel.

Anda pun menghela-hembus napas panjang untuk meredakan kejengkelan sebelum mengatakan, “Menambah jalan kan bisa dengan memanfaatkan sungai atau meluaskan jalan secara vertikal, bukan horizontal begini.”

“Aah! Ndak paham saya,” sambil terus memandang ponselnya, pria itu melecehkan konsep Anda yang memang masih abstrak.

“Maksud saya,” imbuh Anda buru-buru, “membuat jalan layang atau jalan bawah tanah. Lalu sungai yang lebar itu kan bisa dimanfaatkan, kita bisa bikin bus air untuk mengangkut 30-an orang sekali jalan.”

Dialog fiktif itu merupakan alur pikir dari ide I (pelebaran jalan), ke tujuan (menambah jalan), lalu ke konsep (pemanfaatan sungai dan perluasan vertikal), dan akhirnya kembali ke penciptaan ide-ide lainnya (jalan layang, jalan bawah tanah, sampai bus air). Skema umumnya seperti ini:

  1. Apakah ide lamanya?
  2. Tentukan tujuan atau fokusnya.
  3. Tarik tujuan tersebut ke konsep.
  4. Ciptakan ide-ide baru lewat konsep itu.
  5. Pilih ide-ide yang paling masuk akal untuk Anda terapkan saat ini.

Pola pikirnya melompat-lompat, namun tetap terstruktur. Menarik ide-ide baru dari ide lama. Inilah lateral thinking. Cobalah metode ini untuk mengeksekusi cerita Anda ketika mengalami kebuntuan. Selamat mencoba.

Answer: The surgeon cannot operate on her own son, but of course she is not his father. She is his mother.

9 Replies to “Improving Your Writing Skill with Lateral Thinking”

  1. Brahmanto Anindito Post author

    Materi S2 apaan, Leen? Aku lho msh S1. Yg bener ini materi SMA nih, hahaha.

    Buat Ariez & Rie, yeah, you should try this. Sulit? Kadang sesuatu emang sulit pas awalnya. Bikin FB aja dulu ribet kan, bingung gmn cara upload foto, ngetag, nulis notes kok nggak muncul di wall, harus ditelusuri satu2. Tp setelah terbiasa, semua mengalir spontan aja, with no problem! Begitu jg bikin blog WordPress (yg jauh lbh sophisticated dibanding Blogspot :D). Ya kan, Rie? Dan, tentu saja, begitu juga dg menggunakan alat penghasil ide bernama lateral thinking ini.

    Reply
  2. Rie

    Ah, Brahm. Teori itu kupake setelah berlatih. Jadi aku musti bikin dulu, utak-atik dulu, baru ngerti teori. Kayak waktu bikin si onyet itu (onyet yg NYENENGIN ya, bukan yg NYEBELIN&SOKTAU&PELIT&KURANG AJAR), kamu kasih aku teori malah akunya bingung. Tapi setelah aku nyoba biarpun salah, baru aku tau hrs bikin kayak gimana.
    .-= Rie´s last blog ..Koin Seratus Perak =-.

    Reply
  3. Brahmanto Anindito Post author

    Orang bikin teori pun krn pengalamannya. Pengalaman itu kemudian diteorikan dan ditambah teori2 sebelumnya, utk menyempurnakan teori2 lainnya. Paling enak memang praktik-praktik-praktik, baru lihat teorinya setelah itu, biar muncul gumaman, “Oooh, ternyata aku td seharusnya gini lho, ngapain gitu.” Biasanya dg gitu lbh nancap. Ini jg langkah lateral (kalau linier kan belajar teori dulu baru praktik).

    Reply
  4. pasek

    lateral thinking itu sebrapa besar bisa berpengaruh terhadap achievement of writing?
    boleh tw gak langkah2 dlm lateral thinking?
    or give resources about that!!
    thank before

    Reply
  5. Brahmanto Anindito Post author

    Rasanya pengaruhnya nggak langsung. Manfaat dari lateral thinking kan meng-generate ide. Berarti kaitan langsungnya adalah produktivitas, bukan prestasi kualitatif.

    Langkah2 lateral thinking sudah kujelaskan sekilas di atas: ide, konsep, tujuan, dst. Kalau mau detail, aku rekomendasikan baca saja bukunya.

    Resource-ku sendiri dari materi seminarnya Edward de Bono. Tp sebenarnya di internet banyak jg sih pembahasannya, misalnya di website-nya de Bono atau website2 ttg “proses berpikir” tak resmi lainnya. Bahkan di Wikipedia jg ada.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge