Happy End, Sad End, or Cliffhanger?

The ending may only be a small part of your whole story. But it’s crucial. It can make your audience read or watch again your work impressionably. So, build your story’s ending well. You can choose one of three common ends: happy, sad or cliffhanger. In the end, whatever your ending, make sure the main conflict in the story has resolved.

* * *

Ending barangkali hanya bagian kecil dari cerita. Tapi fungsinya cukup krusial, karena ia adalah pemuncak. Ia bisa membuat audiens membaca atau menonton ulang karya itu sambil membawa perasaan gembira atau kagum. Mari melihatnya dari kacamata konsumen. Ketika suatu cerita berhasil menyentuh emosi kita, bukankah kita menanti bagian ending itu dengan penuh antisipasi dan rasa penasaran?

Nah, maka dari itu, jangan remehkan ending. Jika perlu, berikan ending yang sangat mengejutkan (tapi tetap relevan dan masuk akal) pada pembaca atau penonton. Anda bisa pilih satu di antara ketiga tipe ending ini:

  1. Happy End. Ini ending favorit bagi sebagian besar penulis, karena juga disukai oleh sebagian besar pembaca/penonton. Memang menyenangkan melihat tokoh yang kita sukai berhasil melewati masa sulit dan akhirnya hidup bahagia.
  2. Sad End. Ini ending favorit saya di awal-awal belajar menulis fiksi dulu. Waktu itu, saya ingin melawan mainstream drama dan memancing emosi audiens dengan ending yang bikin sesak. Beranjak dewasa, saya baru sadar bahwa ending ini bukan sekadar urusan “melawan mainstream” dan “bikin sesak”. Setidaknya, tidak sedangkal itu.
  3. Cliffhanger. Ending ini bersifat menggantung, dimana pembaca atau penonton dipersilakan menafsirkan sendiri kelanjutannya.

Apapun pilihan ending Anda, pastikan konflik utama dalam cerita sudah terpecahkan. Jadi (sebenarnya) membuat ending cliffhanger pun tidak boleh asal menggantung. Stephen King dalam The Mist membuat cerita berakhir sad yang menurut saya menjengkelkan. Tapi, masalah utama di cerita itu setidaknya telah teratasi: makhluk-makhluk yang meneror warga itu tidak ada lagi.

Kalau makhluk-makhluk itu masih seru-serunya meneror dan ceritanya berakhir begitu saja, saya rasa itu tipikal penulis yang tidak bertanggung jawab. Bukan sad ending lagi namanya, melainkan bad ending (karena bad writing).

Termasuk bad ending adalah klise dan predictable end. Klise adalah trik yang bolak-balik dipakai, misalnya pria dan wanita yang awalnya bertengkar lalu akhirnya saling mencintai. Biasanya, ending klise itu mudah ditebak (predictable). Tapi predictable end tidak selalu klise. Saya bisa saja membuat cerita yang tidak klise. Namun bila twist-nya kurang, audiens bisa menebak, “Oh, habis ini si anu pasti melakukan itu!” dan terbukti memang begitu. Uh-oh, bad ending detected!

Lantas, bagaimana cara membuat good ending? Gampang-gampang susah, memang. Pertama sekali, pastikan ide karya Anda tidak klise. Tema klise akan menggiring alur jadi klise. Alur klise akan mengarah ke ending klise. Tidak selalu seperti itu, tapi kebanyakan begitu.

Kedua, pastikan konflik utama di karya Anda tuntas. Jangan membawa-bawa masalah kalau tidak mampu memecahkannya dalam karya Anda. Ingat, ini produk hiburan, jangan malah menyuruh penikmat karya Anda memikirkan solusi bagi kesulitan tokoh-tokoh Anda.

Dan yang terakhir, teruslah berlatih dan bereksperimen dalam membuat twist. Percuma saja Anda rajin membaca novel, teori penulisan, atau banyak menonton film sebagai referensi, kalau Anda jarang praktik menulis cerita.

3 Replies to “Happy End, Sad End, or Cliffhanger?”

  1. Pingback: Kau Dapat Mengubah Dunia Jika Punya Mimpi | Brahmanto Anindito's Blog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge