Growing Pains

Blancengmekar in growing pains
When you were a toddler, you had probably ever cranky about the pain on your foot. There was no injury or wound, but pain happened. When your teeth started to grow and your gums ached. Or, when your last molar was about to appear. Those are few instances of growing pains, the pain due to growth.

But do growing pains have something to do with writing? Sure! I believe I experience one. I have been writing a draft of thriller novel since the beginning of the year. Yet, it is not finished. I feel a bunch of difficulties. So my option is: give up to keep away the “pain”, or keep going and consider it as a period of growing pains.

Once you believe in what you do, always choose the second option. Such pain is not a punishment for your deeds in the past. Such pain is a clear sign that there is something within you that is growing. Avoid it, and your skill would be stagnant. Face it, and you would grow.

* * *

Dulu sewaktu masih balita, mungkin Anda pernah rewel karena kaki Anda terasa sakit. Padahal Anda tidak kecapekan, terluka atau cedera apapun. Atau, saat itu gusi Anda merasa ngilu ketika gigi Anda mulai tumbuh. Bahkan saat dewasa, ketika akan muncul gigi geraham terakhir, Anda mengalami kesakitan sekali lagi.

Yah, mungkin Anda sudah lupa itu semua. Yang mau saya katakan, itulah growing pains, nyeri akibat pertumbuhan. Setiap orang mengalaminya. Rasanya tidak enak. Tapi setelah periode tersebut terlewati, niscaya tinggal manisnya dan Anda segera melupakan rasa sakitnya. Seperti jargon iklan, Sudah lupa tuh!

Growing pains juga tidak hanya terjadi dalam tubuh. Contohnya saya saja. Saya kan hobi bermain bulutangkis (tapi saya tidak mengatakan jago lho). Nah, dulu saya terbiasa men-smash dengan hanya mengandalkan ayunan lengan. Keras. Mantap. Banyak yang jadi korban, hehehe.

Eh, kemudian seorang kenalan bilang bahwa itu salah, “Smash yang benar itu selain dengan kekuatan ayunan, kamu juga harus memutar sikut dan pergelangan dalam sekali hentak.” Karena kemampuan kenalan saya itu memang sekelas atlet, saya pun menurut. Saya mulai mengubah cara men-smash. Jujur saja, tidak begitu mengenakkan. Selain smash saya menjadi lemah, sering menyangkut di net, saya masih harus mendapat bonus nyeri-nyeri di persendian tangan kanan keesokan harinya.

Namun saya mencoba terus mempraktikkan cara itu. Toh, bentuk tangan pebulutangkis-pebulutangkis yang saya tonton di televisi juga seperti itu sewaktu melakukan smash. Saya terus mencoba. Hingga akhirnya terbiasa juga. Pukulan smash saya pun berangsur-angsur tidak hanya menjadi lebih keras, melainkan juga lebih tajam! Saya memberi selamat pada diri sendiri. Saya telah melewati fase growing pains dan tumbuh!

Sebentar, tapi apakah growing pains ini berhubungan dengan dunia penulisan? Tentu! Seperti yang sedang saya alami. Saya menulis novel sejak awal tahun, namun tidak selesai-selesai. Rasanya kok sulit sekali, apalagi ada beberapa kesibukan lain yang menyita waktu. Maka pilihannya dua: menyerah agar tidak perlu mengalami “nyeri” ini, atau terus maju dan menganggapnya tak lebih dari sekadar periode growing pains.

Ketika Anda yakin pada apa yang Anda kerjakan, selalu pilihlah opsi yang kedua. Memahami bahwa setiap pertumbuhan selalu membutuhkan “penderitaan” akan membuat Anda tetap optimis. Misalnya, bagi Anda penulis yang masih sering diremehkan orang, yakinlah, Anda sedang mengalami periode growing pains. Sakit, memang.

Tapi kesakitan semacam ini bukanlah hukuman atas perbuatan kita di masa lalu. Kesakitan semacam ini adalah pertanda yang gamblang bahwa ada sesuatu dalam diri kita yang sedang tumbuh. Hindarilah, dan kemampuan kita akan tetap begini-begini saja. Alamilah, dan kita akan tumbuh. [photo by Rie]

5 comments for “Growing Pains

  1. August 7, 2011 at 17:02

    saya suka… growing pains.. mhm… Love these words..

  2. August 8, 2011 at 09:09

    Dulu ada serial jadul dg judul Growing Pains. Tp nggak ngeh, kupikir “sakit yg semakin menjadi”. Baru2 ini aja aku ngerti arti sebenarnya, hehehe.

  3. Rie
    August 8, 2011 at 09:47

    Sampe tahun kemarin aku rajin nonton tayangan ulang Growing Pains lho di stasiun TV lokal. Yg aku lihat, keluarga Seaver itu biarpun selalu dilanda masalah, fine-fine dan fun-fun aja tuh.

  4. August 9, 2011 at 14:34

    Tayangan itu menghibur sekali di zamannya.

  5. August 10, 2011 at 09:36

    Thanks for the info

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge