Genre is . . .

Superhero genreI was astonished when in my writing seminar no body answered my simple question, “What is a genre?” Few participants then answered by mention some examples. Ok, it was better. Let’s not being theoretical, genre is a category of artistic works. For instance:

Action genre. Designed to excite us with physical performance. The characters involve in physical stunts, chases, nonstop motion, adventures, and so on.

Drama genre. Designed to portray realistic characters and life situations. It could be about family, romantic, biographic, and so on.

Fantasy genre. Designed to take us to netherworld where things run differently from the real life. It may include science fiction, magic, myth, surrealism, witch world, wonder, and the extraordinary.

Comedy genre. Designed to provoke laughter by exaggerating the situation, language, action, and characters. It could be slapstick, parodies, screwball, and so on.

Horror genre. Designed to frighten and invoke our hidden worst fear. It may deals with ghosts, aliens, monsters, cannibal tribes, and so on.

Thriller or Suspense genre. Designed to thrill us. Here, you will find intense excitement, a high level of anticipation, anxiety, et cetera.

Mystery genre. Design to reveal the unsolved felony. It’s all about whodunit, and sometimes whydunit too.

Occasionally, very thin border lays between mystery and thriller genre so that people confuse the both. But I think the different is pretty clear, unless the writer blended characteristics of both, whether in purpose or not.

Genre is not exact, if you ask me. There are many interpretations within. Many subgenres. Many hybrids. However, it’s still worth to be learned. Because genre helps us understand the general concept of a story, including its logic.

* * *

Saya terkejut begitu tahu dalam salah satu seminar penulisan saya tak seorang pun peserta yang bisa menjawab pertanyaan sederhana saya, “Apa genre itu?” Untungnya, ada beberapa peserta yang kemudian menjawab dengan menyebut contoh-contoh genre. Lumayan. Meski tetap saja belum menjawab pertanyaan.

Apakah genre itu? Tidak perlu dijawab secara teoretis. Secara sederhana, genre bisa diartikan pengategorian dalam karya seni. Cerpen adalah salah satu genre fiksi, jika yang kita kategorikan adalah bentuknya. Suspense pun merupakan genre, jika yang kita klasifikasikan adalah isi ceritanya.

Sungguh pun yang kita maksud sebenarnya sama, katakanlah pengategorian isi ceritanya, genre tetap bukan sesuatu yang eksak. Artinya, selalu terbuka peluang untuk perbedaan pendapat. Ambil saja contoh Avatar, film box office sepanjang masa. Gampang-gampangannya, saya bilang itu film Laga. Tapi Anda ngotot kalau itu film Fiksi Ilmiah. Sementara, mereka mengatakan Avatar adalah film Petualangan.

Mana yang benar? Semua benar. Menariknya, di saat yang sama, kita kompak mengatakan yang salah itu mereka yang mengatakan Avatar adalah film Horor, atau Komedi.

Genre bukanlah hal yang eksak. Namun apakah ini berarti kita sama sekali tak perlu membicarakan genre sebuah karya? Tidak begitu juga. Karena genre bermanfaat untuk memberikan gambaran kasar tentang tema suatu cerita. Juga memahami logika penuturannya.

Jika sejak awal filmnya bergenre Drama Musikal, tentu kalau ada tokoh yang tiba-tiba menari dan bernyanyi di tengah jalan, Anda tidak boleh protes, “Nggak logis! Nggak sesuai kehidupan sebenarnya!” Hei, ini film Musikal. Dan seperti itulah logika film-film bergenre ini.

Logika genre lainnya (untuk media novel, komik atau film) bisa Anda lihat di bawah ini:

Genre Aksi. Bertujuan untuk menghibur kita dengan atraksi fisik. Para tokohnya pasti terlibat dalam adegan-adegan fisik yang berbahaya, kejar-kejaran, laga yang non stop, petualangan (Asterix), dan sebagainya.

Genre Drama. Bertujuan menggambarkan tokoh-tokoh yang realistis dan situasai kehidupan yang sebenarnya. Bisa jadi tentang keluarga, reliji (Ayat-ayat Cinta), kehidupan romantik, biografi seseorang (Laskar Pelangi), dan lain-lain.

Genre Fantasy . Bertujuan untuk menyeret kita ke dunia antah berantah tempat segala sesuatunya berbeda dengan kehidupan kita sebenarnya. Di dalamnya termasuk fiksi ilmiah The Dark Knight, dunia sihir (Harry Potter), legenda, mitos, kisah surealisme (Mulholland Drive), dan sebagainya.

Genre Komedi. Bertujuan membuat kita tertawa dengan membesar-besarkan situasi, penggunaan bahasa, kelakuan, dan tokoh. Termasuk di dalamnya: slapstik, parodi, tokoh nyeleneh (Ace Ventura), dan lain-lain.

Genre Horor. Bertujuan menakut-nakuti dan membangkitkan kengerian tesembunyi dalam diri kita. Genre ini biasanya berhubungan dengan hantu, alien, monster, suku kanibal, dan sebagainya.

Genre Thriller alias Suspense. Bertujuan membuat kita tegang. Di sini kita akan menemukan kecemasan (Da Vinci Code), kekhawatiran, antisipasi adegan-adegan berikutnya (Pemuja Oksigen), dan semacamnya.

Genre Misteri. Bertujuan untuk mengungkap kejahatan besar. Selalu berhubungan dengan “siapa pelakunya” (Sherlock Holmes), dan kadang-kadang juga “kenapa melakukannya” (Satin Merah).

Sekali lagi, genre bukanlah sesuatu yang pasti atau eksak. Banyak penafsiran, modifikasi, dan subgenre. Tidak ada aturan baku soal ini. Maka ambil mudahnya saja.

Sebenarnya, penggenrean ini untuk kelancaran komunikasi belaka saat membahas karya fiksi. Susah juga kan kalau kita membicarakan fisik gajah, tapi satu pihak membayangkan belalainya, sementara pihak yang lain membayangkan telinganya. [artwork by Julosstock]

Tags: , ,

19 Responses to Genre is . . .

  1. Asip Fanani on November 29, 2010 at 10:56

    Kalo saya sich, genre itu justru sangat penting. Klasifikasi selalu penting, biar tidak berantakan.

  2. Brahmanto Anindito on November 29, 2010 at 13:26

    Betul!

  3. Rie on November 29, 2010 at 14:58

    Setuju. Tapi genre bisa merepotkan penulis krn membatasi ide.

  4. Brahmanto Anindito on November 29, 2010 at 18:10

    Lho, kok bisa gitu?

  5. Aleena on November 29, 2010 at 19:48

    Asterix termasuk genre AKSI. Gak keliru, Bram?

  6. Rie on November 30, 2010 at 10:49

    Kenapa? Krn seharusnya ide dibiarkan tumbuh aja terus. Kalo kepanjangan, berlebihan, baru pangkas. Jgn dibatasi ini-itu. Ntar malah nggak tumbuh-tumbuh. Jd kalo nulis mah nulis aja. Soal genre, pembaca yg nentuin.

  7. Brahmanto Anindito on November 30, 2010 at 12:52

    Aleena, iya. Seharusnya Komedi ya? Tp bener kok, Asterix jg bergenre Aksi (subgenre Adventure). Krn sebuah karya pun sulit murni satu genre aja.

    Cherie, berarti yg kemarin tuh kamu sebenarnya nggak setuju? :(

  8. Rie on December 1, 2010 at 11:00

    Kemarin? Satin Merah, maksudnya?

  9. fitri on December 1, 2010 at 11:30

    oh… gitu… (^0^)
    maksih ya bang untuk penjelasannya,
    fitri´s last [type] ..KEGAGALANKU TEMUKANMU

  10. Brahmanto Anindito on December 1, 2010 at 12:32

    Iyalah, Satin Merah.

    Buat Fitri, yakin ya udah jelas?

  11. fitri on December 9, 2010 at 07:19

    udah lumayan sih bang, cuma waktu nentu’in genre nya..
    genre itu di tentu’in kalau cerita udah selesai ato sebelum selesai,…
    dan saya sering kerepotan nentuin genre klo bikin cerita bersambung..

  12. Brahmanto Anindito on December 9, 2010 at 09:00

    Bisa sebelum, bisa sesudah. Bahkan seorang pengarang bisa tidak pernah mau repot2 menentukan genrenya. Dia menyerahkan penentuan genre ke penerbit, pembaca, atau kritikus. Terserah. Bebas aja. Aku sendiri tergolong penulis yg nentuin genre sebelum nulis. Biar aku tahu logika yg mesti keterapkan dlm cerita nantinya, dan bisa fokus pd segmen pembaca tertentu.

  13. deva on December 15, 2010 at 22:57

    halo mas Brahm… akhirnya saya menyasarkan diri lagi ke sini setelah sekian lama sibuk sama kuliah.
    wah, makin bagus warungnya, bisa jadi supermarket ini, haha.
    waduh, ternyata betulan mas brahm yang ini yg bikin Satin Merah!
    *KaburkeTokoBuku

  14. Brahmanto Anindito on December 16, 2010 at 09:05

    Hola, Deva! Kok tahu sih? Pdhl aku mati2an merahasiakannya. Hehehe, lebay.

  15. John Murdock on December 16, 2010 at 09:42

    Euh, akhirnya ketemu jg, sy kadang bingung dgn genre yg ditulis dlm kaset2 film, apalagi yg sudah menyangkut thriller dan mystery, keduanya sepertinya sama saja, sama2 menegangkan XD

  16. deva on December 16, 2010 at 09:49

    saya melototin kovernya kemarin mas… bagus kaya novel terjemahan…
    eh ada tulisannya Brahmanto Anindito, jadi saya ingat seseorang, haha, browsing lagi ke sini :p

    mas mas, tanya lagi nih, genre kalau bercampur gimana?
    misal sebuah novel ada banyak genre (teenlit campur novel kehidupan, campur thriller, campur romance).
    itu susah ya diterima penerbit (krn genrenya campur aduk)?
    deva´s last [type] ..INILAH SURGA BAGI KALIAN- PHOBIERS HAPPY B’DAY

  17. Brahmanto Anindito on December 16, 2010 at 11:25

    @John: Betul. Krn nggak semua yg menegangkan bisa disebut thriller lho.

    @Deva: Lah! Kok dipelototin doang? Dibeli dong, terus dibaca.

    Hm, genre campur itu udah pasti ada. Dlm novel komedi pun bisa ada hantunya. Dlm film action pun bisa ada drama romantisnya. Dlm komik komedi pun bisa thrilling. Cuma, mana yg lbh dominan (secara kuantitas) biasanya itulah yg jd genre utama. Tp kalau semua berbaur seimbang ya aneh juga. Sama dg makan soto campur sate. Enak sih, tp aneh kan. Aku pernah ditegur dan disuruh penerbit utk menajamkan novelku lho, krn genrenya campuran dan masing2nya berlomba menonjol.

  18. DEVANIA on December 22, 2010 at 04:32

    oh begitu… begitu… waw… waw… *terpesona

    iya, ampuuuun, mas…
    bentar lagi minggu tenang nih kuliahnya, tugas2 menyepi, saya bisa maen ke toko buku, haha…
    *sombong.com

  19. Brahmanto Anindito on December 22, 2010 at 08:58

    Ya, ya, asal nanti kalau hsl ujiannya jelek jangan nyalahin Satin Merah ya. Salahin kemampuanmu sendiri, hohoho …..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

CommentLuv badge