Genre dalam Fiksi, Penting Nggak Sih?
By: Mochammad Asrori
Secara sederhana, genre bisa diartikan sebagai jenis. Maksudnya tentu jenis dari sebuah karya. Cerpen adalah salah satu genre fiksi, jika yang kita kategorikan adalah bentuknya. Aksi, Drama atau Thriller pun merupakan genre, jika yang kita klasifikasikan adalah isi ceritanya. Jadi, menentukan genre sangat bergantung pada pengategorian (atau unsur) yang sedang kita bicarakan.
Sungguh pun yang kita maksud sebenarnya sama, katakanlah tentang ceritanya, genre tetap bukan sesuatu yang eksak. Artinya, selalu terbuka peluang untuk perbedaan pendapat. Umpamanya, film Gladiator. Untuk gampang-gampangannya saya bilang itu film Laga. Tapi Anda ngotot kalau itu Drama Kolosal. Sementara, mereka mengatakan Gladiator adalah film Petualangan.
Siapa dong yang benar? Tak satu pun. Sebagaimana tak satu pun yang salah. Sekali lagi, genre bukanlah hal yang pasti. Namun apakah ini berarti kita samasekali tak perlu membicarakan genre sebuah karya? Tidak begitu juga. Karena genre bermanfaat untuk memberikan gambaran kasar tentang tema suatu cerita.
Lantas, bagaimana dengan kesimpangsiuran tadi? Bukankah ada banyak versi genre? Yang paling penting, kita cukup memilih satu parameter saja, lalu konsisten dengan itu. Genre bukanlah masalah yang layak diperdebatkan sepanjang tujuh turunan.Maka ambil mudahnya saja. Wufi, misalnya, hanya menetapkan empat genre besar dari fiksi:
- AKSI. Tokoh melibatkan energi besar, akrobat-akrobat, atau gerakan nonstop yang spektakuler. Termasuk genre ini: Balapan, Baku Tembak, Beladiri, Kriminal, Petualangan, dsb.
- DRAMA. Karakter realistik, begitu pula situasi kehidupan dan konfliknya. Tergolong genre ini: Biografi, Ironi, Komedi, Religius, Romantik, dsb.
- FANTASI. Tokoh berkutat dalam setting tertentu, dengan kondisi kehidupan yang jarang sekali ditemui pada keseharian normal kita. Tokohnya sendiri belum tentu manusia. Termasuk genre ini: Fabel, Fiksi-Ilmiah, Horor, Misteri, Thriller, dsb.
- SEJARAH. Karakter hidup di masa lalu, settingnya berbeda secara signifikan dengan jaman sekarang. Tergolong genre ini: Legenda, Mitologi, Perang, Perjuangan, dsb.
Keempat genre di atas dikotakkan berdasarkan setting dan tokoh cerita. Kami menetapkan genre ini bukannya untuk menambah versi-versi yang sudah ada (yang artinya menambah satu kebingungan lagi). Penggenrean Wufi ini untuk kelancaran komunikasi belaka, khususnya di situs ini. Susah juga kan kalau membicarakan fisik gajah, tapi satu pihak membayangkan belalainya, sementara pihak yang lain membayangkan telinganya.





Kalo saya sich, genre itu justru sangat penting. Klasifikasi selalu penting, biar tidak berantakan.
[...] kumpulan cerpen yang salah. Cerpen-cerpen di dalamnya merupakan cerpen yang pernah dimuat di dua genre media; koran dan majalah wanita, yang tentu memiliki garis tegas akan nuansa sastra dan nuansa [...]
[...] kata Monaco. Dan itu saya kira dapat diperoleh dengan menonton sebanyak mungkin film, dari segala genre, mencoba mengapresiasinya, dan membaca literatur-literatur soal [...]