Future of Creative People in Indonesia

Creative people

The developed countries who have poor natural resources, they have proven how a brilliant idea can be a weapon to conquer the world. Look at the “tiny” Japan and Swiss, world class products was made there. People says, this is now the conceptual era. This is where the creative industry born.

In Indonesia, since 2006, President Susilo Bambang Yudhoyono has directed the development of creative economy. The years 2009 was set up as The Indonesian Creative Year. Currently, the creative industry’s contribution for PDB is about 6%. And Minister of Trade aim 9% for five years later.

Creative industry in Indonesia is divided by 14 subsectors: Architecture, Design, Fashion, Film-Video-Photography, Handicraft, Computer Service & Software, Music, Market & Art, Publishing & Printing, Advertising, Interactive Games, Research & Development, Art Performing, and Television & Radio. Those are mostly things that start from the hobby. They are once hard to imagine we can make a living from. But now?

* * *

Peradaban selalu berkembang melalui tahapan-tahapan. Pada awalnya, manusia hidup dalam Jaman Bercocok Tanam. Setelah terjadi revolusi industri yang dipantik dari penemuan mesin uap, segera kita mengalami Jaman Industri. Kemudian, seiring dengan perkembangan teknologi, kita dengan bangga mengklaim hidup di Jaman Informasi.

Dan sekarang? Orang menyebut jaman ketika Anda membaca tulisan ini sebagai Jaman Konseptual. Ciri-cirinya, kreativitas menjadi modal dasar untuk menghadapi persaingan di segala sektor. Jadi, di era tahapan peradaban yang keempat ini, yang dibutuhkan adalah para kreator.

Dari sinilah muncul istilah “industri kreatif”. Maksudnya, industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, daya cipta, ketrampilan dan bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan kerja.

Kongkritnya, apa saja yang termasuk industri kreatif itu? Setiap negara memiliki pengategoriannya. Begitu pun Indonesia. Menurut Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia, Indonesia mengelompokkan industri kreatifnya menjadi 14 subsektor (saya urutkan berdasarkan abjad):

  1. Arsitektur. Jasa desain bangunan secara menyeluruh, baik dari level makro (perencanaan kota, urban design, arsitektur lanskap), sampai dengan level mikro (detail konstruksi).
  2. Desain. Kreasi desain grafis, interior, produk, industri, juga konsultasi identitas perusahaan, jasa riset pemasaran, produksi kemasan, dan pengepakan.
  3. Fesyen. Kreasi desain pakaian, alas kaki atau aksesoris mode lainnya, produksi pakaian mode dan aksesorisnya, konsultansi lini produk fesyen, serta distribusi produk fesyen.
  4. Film, Video dan Fotografi. Kreasi produksi video, film, dan jasa fotografi, serta distribusi rekaman video dan film. Termasuk penulisan naskah, dubbing, sinematografi, sinetron, dan eksibisi film.
  5. Kerajinan. Kreasi, produksi dan distribusi produk dari para pengrajin berbahan batu, kulit, rotan, bambu, logam, kayu, kaca, porselin, kain, marmer, tanah liat, kapur, serat, dan sebagainya.
  6. Layanan Komputer dan Piranti Lunak. Pengembangan teknologi informasi termasuk jasa layanan komputer, pengembangan piranti lunak, integrasi sistem, desain dan analisis sistem, desain arsitektur piranti lunak, desain prasarana piranti lunak dan piranti keras, serta desain portal.
  7. Musik.
    Kreasi/komposisi, pertunjukan, reproduksi, dan distribusi dari rekaman suara.
  8. Pasar dan Barang Seni. Perdagangan barang-barang asli, unik, langka serta memiliki nilai estetika tinggi melalui lelang, galeri, toko, pasar swalayan, dan internet.
  9. Penerbitan dan Percetakan. Penulisan konten dan penerbitan buku, jurnal, koran, majalah, tabloid, konten digital, serta kegiatan kantor berita.
  10. Periklanan. Jasa komunikasi satu arah dengan menggunakan medium tertentu, yang meliput proses kreasi, produksi dan distribusi dari iklan yang dihasilkan.
  11. Permainan Interaktif. Kreasi, produksi, dan distribusi permainan komputer dan video yang bersifat hiburan, ketangkasan, dan edukasi.
  12. Riset & Pengembangan. Usaha inovatif yang menawarkan penemuan ilmu dan teknologi dan penerapan ilmu dan pengetahuan tersebut untuk perbaikan produk dan kreasi produk baru, proses baru, material baru, alat baru, metode baru, dan teknologi baru yang dapat memenuhi kebutuhan pasar.
  13. Seni Pertunjukan. Pengembangan konten, produksi pertunjukan, pertunjukan balet, tarian, drama, musik-tradisional, musik-teater, opera, termasuk tur musik etnik, desain dan pembuatan busana pertunjukan, tata panggung, dan tata pencahayaan.
  14. Televisi dan Radio. Kreasi, produksi dan pengemasan, penyiaran, serta transmisi televisi dan radio.

Meski tergolong baru di negara kita, peranan ke-14 pilar itu terhadap perekonomian Indonesia pada rentang 2000-2009 ada di kisaran 6%. Angka ini tentu belum sebesar industri sektor riil atau manufaktur, namun cukup signifikan. Ditambah fakta bahwa pengusaha golongan muda mendominasinya, industri kreatif pun terlihat lebih seksi, terutama bagi mereka yang berjiwa inovatif.

Prospeknya? Industri kreatif begitu menjanjikan di masa depan. Pasalnya, bahan bakunya adalah SDM dan kreativitas, sumber daya yang takkan pernah kering dieksplorasi.

Negara-negara maju yang miskin SDA telah membuktikan betapa sebuah gagasan yang cemerlang merupakan senjata ampuh untuk menguasai dunia. Lihatlah si “kecil” Jepang dan Swiss, produk-produk berkelas internasional lahir dari sana.

Di Indonesia sendiri, sejak tahun 2006, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah mengarahkan pengembangan ekonomi kreatif. Lalu tahun 2009 ditetapkan sebagai tahun Indonesia Kreatif.

Dan pada 2010 ini, Menteri Perdagangan Dr. Mari Elka Pangestu menargetkan industri kreatif berkontribusi 7,9% pada pendapatan negara. Kemudian lima tahun ke depan diharapkan sumbangsihnya sudah menyentuh angka 9%.

Saya pikir wajar bila pemerintah getol menggairahkan industri ini. Selain alasan ekonomi seperti menciptakan peluang kerja, memberi kontribusi signifikan pada pendapatan bruto pemerintah, dan bahan bakunya terbarukan, industri kreatif juga bisa membangun citra dan identitas bangsa.

Bukankah brand sebuah negara dibangun dari faktor-faktor ini: SDM, budaya & warisan budaya, pariwisata, pemerintahan, investasi & keimigrasian, dan ekspor? Dua faktor pertama yang saya sebut adalah ranah industri kreatif.

Hebatnya lagi, lihatlah kembali ke-14 subsektor industri kreatif, hampir semuanya berangkat dari hobi. Ini sesuatu yang dulu sulit diandalkan untuk hidup layak darinya. Sesuatu yang dulu dianggap bukan pekerjaan serius. Kini, bahkan pemerintah pun mendukungnya!

Jadi, jangan berhenti mengembangkan hobi, kawan. Karena kita sudah berada di track yang tepat. [photo from JFC]

13 Replies to “Future of Creative People in Indonesia”

  1. pasha

    Wah… Brahm emang pinter, bisa bikin tulisan sebagus ini. Jadi ngiri aku 😀

    Bener bener bener, kita udah ada di jalur yang tepat!

    Reply
  2. Rie

    Hai, Pasha. Kehadiranmu kembali di sini bikin aku sedikit mengabaikan tulisan Brahm dan malah mengomentari kedatanganmu. Halah!

    BTW, Brahm, belakangan ini aku lagi krisis keyakinan. Tepatnya, lagi frustasi nulis. Untungnya ada tulisan ini. Jadi semanget lagi deh!
    .-= Rie´s last blog ..Ujan Lebat, Payung, Ujan Reda =-.

    Reply
  3. Aleena

    Menarik sekali. Tapi Diantara 14 itu yang paling banyak apa, Bram? Kalo bahasaku; primadonanya apa?

    Reply
  4. pasha

    Hai!

    Senangnya, ternyata ada juga yang senang dengan kedatanganku 😀
    Gak kok Brahm, cuma lagi sibuk aja. Saya tugas di daerah terpencil yang sinyal HP aja susah, apalagi internetan. Kalo mo lancar, harus ke ibukota provinsi dulu, baru bisa main. Gitu. Internetan di HP juga males, soalnya layarnya kecil, mendingan di komputer.(mulai deh kebiasaan lama saya, doyan curhat! 😀 )

    Oh, primadonanya bukan musik ya?
    .-= pasha´s last blog ..KARAKTER YANG UNIK DAN MENCURI PERHATIAN : AKU MERINDUKANMU! =-.

    Reply
  5. Brahmanto Anindito Post author

    Lho, nggak papa kan pake Opmin? Lbh kecil layarnya emang, tp lumayan jelas. Apalagi kalau website2 yg diakses udah ramah mobile browser kyk WarungFiksi.net ini. Pasti nggak berat. Dg kualitas akses GPRS aja tetep bisa akses dg lancar. Di daerah mana sih, kalau boleh tahu?

    Kalau dilihat dari persentasenya, rasanya bukan musik.

    Reply
  6. Rie

    Wow, Pasha, kayaknya seru tuh bertugas di daerah terpencil!

    Bener, primadonanya kayaknya bukan musik. Lagian menurutku dunia musik Indonesia nggak ada perkembangannya deh. Gitu2 terus, monoton. Hm, coba kuramal… naga2nya yg jadi primadona tetep: kerajinan.
    .-= Rie´s last blog ..DAR! =-.

    Reply
  7. Amy

    whats up everyone

    great forum lots of lovely people just what i need

    hopefully this is just what im looking for looks like i have a lot to read.

    Reply
  8. Pingback: Balada Adit, Sopo dan Jarwo | Brahmanto Anindito's Blog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge