Fastest Way to Write a Realistic Dialogue

People makes dialogue

People talks. That is the fact. So, a good fiction should have the dialogue. The problem is, writing realistic dialogues could be hard. Here are some tips, anyway.

  1. Make the main character based on you. So all you have to do is think, “What would I say in this situation?”
  2. Listen to real people conversation. There is nothing wrong with sitting in public places and listening to what and how others say. In public places, every voices belong to public.
  3. Read the dialogue orally. Record, if it is necessary, and play it. If you feel that it is a book who’s talking (instead of people), remake it. Still not sure it is working? Call some friends, and read it out loud in front of them. Listen to their opinion about your dialogue.

* * *

Fiksi tanpa dialog ibarat pohon tanpa daun. Terasa kering. Kurang hidup. Karya fiksi selalu berusaha mencontoh kehidupan riil. Sedangkan dalam kehidupan riil, kita tidak bisa terus menggunakan ilmu kebatinan. Manusia perlu mengobrol. Maka, fiksi pun umumnya menampilkan dialog.

Masalahnya, sebagai penulis, membuat dialog yang meyakinkan terkadang tidaklah mudah. Namun, pelan-pelan saya menemukan cara tercepat untuk menciptakannya. Intinya begini.

Pertama, yang paling gampang, buatlah tokoh utama seperti Anda. Bila sudah begini, yang perlu Anda lakukan cuma berpikir, “Apa ya yang aku ucapkan seandainya berada pada situasi semacam ini?”

Saya tidak menganjurkan semua tokoh berbicara (dan berpikir) seperti Anda, karena akan timbul kesan “penulis pemula” di karya tersebut. Cukup satu tokoh yang mirip Anda. Untuk mudahnya, karakter utamanya.

Lantas untuk mengembangkan dialog-dialog tokoh lainnya, sering-seringlah mendengarkan dan mengamati bagaimana orang sekitar Anda bercakap-cakap. Percakapan riil. Anda akan segera tahu, misalnya, betapa orang cenderung mengatakan “Saya butuh tiga tang, empat obeng, dua pisau. Sekarang!” alih-alih bahasa tulis “Sekarang saya sedang membutuhkan tiga tang, empat obeng, dan dua pisau.”

Tapi, sekadar catatan, jangan langsung mentranskrip percakapan orang-orang ke dalam karya Anda. Kalau mau jujur, percakapan yang riil itu ya seperti transkrip pembicaraan hasil sadapan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) ke ponsel Anggodo Widjojo. Tidak rapi. Tidak efisien. Karena fungsi utamanya untuk berkomunikasi, tanpa terlalu mempertimbangkan aspek bahasa. Lihatlah salah satu dialog Anggodo ini:

“..dan ini kronologinya saya sudah di Bang Farman semua.”

“sebetulnya ada satu saksi lagi si Edi Sumarsono Pak, yang Antasari itu Pak”

Jika dialog itu mau diubah ke bentuk yang lebih rapi (untuk tujuan hiburan), tapi tetap terdengar realistik, saya utak-atik sedikit menjadi:

“Kronologinya sudah di Bang Farman semua.”

“Sebetulnya ada satu saksi lagi. Edi Sumarsono. Yang Antasari itu lho, Pak.”

Lebih efisien kan? Lebih rapi.

Dari pembicaraan telepon yang riil itu, saya menemukan sesuatu yang menarik tentang dialog manusia: orang menyatakan A tak selalu akan ditanggapi sesuai A. Ini namanya distorsi percakapan. Penyimpangan, namun tidak perlu diluruskan.

Pikirkan sewaktu Anda bercakap-cakap dengan seorang teman. Ada distorsi-distorsi yang membuat percakapan justru tampil lebih manusiawi kan? Misalnya, lawan bicara Anda:

  • Mengutarakan hal lain. “Kau lihat gunung menjulang itu, Bang? Suatu hari aku bakal menaiki puncaknya. Aku yakin, Bang.” “Eh, ada nasi tuh di pipi kau.”
  • Membalas pertanyaan dengan pertanyaan. “Mau kemana loe, jek?” “Sialan. Hujan ini udah dari tadi ya?”
  • Tidak menanggapi sama sekali. “Din, password Facebookmu apa?” Dina masih menutup kupingnya dengan bantal sembari memejamkan mata.
  • Dan beberapa kemungkinan lain.

Ada satu jurus untuk mengetes dialog Anda realistik atau tidak lebih dari sekadar dialog mati: bacalah keras-keras. Rasakan. Resapi. Sudah enakkah didengar? Sudah seperti percakapan riil tidak? Geli tidak di telinga? Nanti akan terasa.

Masih tidak yakin dengan metode ini? Rekam saja pelisanan dialog itu. Putar ulang. Rasakan. Resapi. Sudah enakkah didengar? Sudah seperti percakapan riil tidak? Geli tidak di telinga?

Astaga, masih tidak yakin juga dengan dialog karangan Anda? Panggil beberapa teman. Bacakan dialog itu. Lalu tanyakan, “Sudah enakkah didengar? Sudah seperti percakapan riil tidak? Geli tidak di telinga?”

Oke. Itu sharing dari saya. Mungkin Anda punya cara yang lebih cepat untuk membuat dialog yang realistik?

13 Replies to “Fastest Way to Write a Realistic Dialogue”

    • Brahmanto Anindito Post author

      Dialog dimulai dari kebutuhan cerita. Begitu saatnya tepat, langsung saja tokoh2 berdialog, menyambung narasi sebelumnya.

      Kapan menggunakan narasi, kapan menggunakan dialog, itu yg pakai feeling sbg penulis. Tp sebenarnya ini seperti tulisan jurnalistik (nonfiksi), baik cetak (termasuk portal internet), radio, maupun TV. Ada kombinasi narasi (penyampai berita) dan kata2 langsung para tokoh (narasumber).

      Reply
  1. Brahmanto Anindito Post author

    Wah, syukurlah artikel ini bisa membantu, Nia. Bikin dialog emang gampang2 susah. Kadang2 kalau dialognya tampil spt bhs tulis dikritik nggak realistis. Tp aku pernah dikritik temanku justru gara2 terlalu realistik. “Hasil wawancara digubah begitu aja ya?” katanya. Padahal kpn wawancaranya, wakakakak!

    Reply
  2. Aleena

    Saya pernah baca dimana, ya, Cerpen ga ada dialognya sama sekali. Film juga perasaan pernah nonton yang ga berdialog. Tetep bagus, tuh. Jadi sebenernya dialog itu elemen utama ga, sih?

    Reply
  3. Brahmanto Anindito Post author

    Bisa aja sih, Leen. Tapi cerpen kan? Bukan novel. Soalnya kalau ceritanya panjang dan tokohnya nggak ngomong2, rasanya bakal membosankan tuh cerita. Film pun aku yakin film pendek. Kesannya jd nyeni kalau teknik tanpa dialog ini diterapkan di film berdurasi pendek. Lha kalau film feature tanpa dialog, wuah, nggak tahan nontonnya deh. Seperti nonton film2 muet jaman dulu, seperti Charlie Chaplin.

    Yah, tp semua kembali ke selera penonton/pembaca sih.

    Reply
  4. rie

    Aku sih kalo ceritanya perlu pake dialog, ya pake. Kalo nggak, ya nggak. Nggak pernah pake teori ini-itu krn aku nggak percaya teori. Semua ditulis berdasarkan feeling dan pembacalah yg menilai, termasuk aku. Kan habis nulis aku suka baca tulisanku, terus mengedit. Kalo tadinya tulisanku terlalu naratif dan dirasa kurang lucu tanpa dialog, baru aku pake. Tapi kalo narasi pun fine-fine aja, ya sudah, biarkan saja apa adanya.
    .-= rie´s last blog ..Fastest Way to Write a Realistic Dialogue =-.

    Reply
  5. rie

    Ah, oui, Brahm. Pour le roman on doit faire le dialogue. The White Castle-nya Orhan Pamuk nyaris nggak ada dialog. Ca m’ennuyeux. Cape juga bacanya.

    Reply
  6. Kabul

    [“..dan ini kronologinya saya sudah di Bang Farman semua.”

    “sebetulnya ada satu saksi lagi si Edi Sumarsono Pak, yang Antasari itu Pak”]

    emang contohnya pun nggak realistis, dilihat dari segi mana pun.
    Kabul´s last blog post ..Revolusi Oktober 1917

    Reply

Leave a Reply to Aleena Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.