Etika Kritik Karya

Author and Critic

Lebih baik mandi peluh saat latihan, daripada mandi darah saat pertandingan. Itulah yang sering dikatakan simpei karate saya dulu. Rasanya motto tersebut dapat juga diterapkan di bidang apa pun, termasuk sewaktu membuat karya yang kelak disuguhkan untuk publik. Lebih baik dicerca habis-habisan di depan teman sendiri, ketimbang dianggap produk gagal setelah dipasarkan.

Maka dalam dinamika berkarya, kita akrab dengan kalimat ini, “Aku minta tolong dong. Baca naskahku ini, terus kasih komentar. Minggu depan kuambil ya.” Yang artinya, si pengarang meminta kritik dan pendapat dari seseorang yang dipercayainya sebelum mengirimkan karya tersebut ke penerbit, PH, atau langsung menjualnya ke pasar.

Kritik-mengkritik adalah soal remeh temeh. Tapi terkadang timbul perselisihan dari perkara sederhana itu. Misalnya, antara pengarang dan pengkritik sama-sama mempertahankan ego. Dan muncullah kalimat-kalimat semacam: “Tadi kamu yang minta aku mengkritik plot berdasarkan pengalamanku, sekarang malah bilang ‘jangan ikut campur bagian ini!’, gimana sih?”, “Ya berdasarkan pengalamanmu kan? Masalahnya, tahu apa kamu soal plot cerita surealisme!?”, dst.

Hahaha …. Agar tidak terjadi hal-hal konyol seperti itu, penting juga untuk menyepakati adab dalam kritik-mengkritik. Saya punya 5 on 5 etika kritik karya, Anda bisa menambahkannya kalau memang merasa ini kurang.

Saat menerima kritik:

  1. Catatlah sesuatu. Itu menunjukkan Anda serius mengharapkan kritik demi penyempurnaan karya.
  2. Terus gali pemikiran pengkritik terhadap karya Anda, jelaskan seperlunya bila dia bertanya, namun jangan membela diri saat diserang. Tenang saja, Anda berhak menindaklanjuti kritikan yang Anda anggap membangun, sambil diam-diam mencueki kritikan yang konyol. Kapan saja! Takkan ada yang tahu.
  3. Jangan berharap pujian. Barangkali pujian akan membesarkan hati Anda, tapi yang Anda butuhkan saat ini adalah kritikan.
  4. Meskipun Anda tidak setuju, jika beberapa pengkritik kompak mengatakan sesuatu yang sama, mungkin mereka memang benar. Jangan keras kepala.
  5. Berterima kasihlah secara tulus, apapun yang terjadi. Ayolah, para pengkritik itu sudah bersusah payah membaca dan memikirkan karya Anda (yang belum tentu akan meledak itu).

Saat memberi kritik:

  1. Kembangkan sifat persahabatan. Sekeras apapun kritik Anda, ingatlah bahwa tugas Anda adalah memperbaiki sebuah karya, bukan membunuhnya.
  2. Jangan mendebat saat sang pengarang bersikeras. Percuma. Jika Anda begitu inginnya memasukkan sesuatu ke dalam karya dia, mungkin Anda seharusnya menulis karya sendiri.
  3. Kritiklah secara spesifik. Tunjukkan bahwa Anda memang sudah membaca dan paham dengan cerita si pengarang.
  4. Selalu imbangi dengan masukan. Setelah Anda memberi poin negatif pada bagian tertentu, berilah saran spesifik agar bagian itu tak bermasalah lagi.
  5. Sampaikan tidak hanya lisan, melainkan juga tulisan. Kadang-kadang kritikan lisan tidak bisa segera ditangkap maksudnya. Bila Anda lengkapi dengan kritik tertulis, si pengarang akan dapat mengkajinya lagi kapan-kapan.

Tidak jarang kita kebablasan dalam memberi kritik. Itu bukan saya. Saya jarang mengkritik dengan menggebu-gebu. Namun terkadang saya defensif dalam menghadapi kritik, terutama jika pengkritiknya tidak teliti tapi ngotot.

Bayangkan ini, seseorang kurang memahami “sebab” di bab-bab terdahulu, namun terus mempertanyakan “akibat” di bab-bab berikutnya meskipun saya sudah menjelaskan nalarnya. Menjengkelkan, bukan? Namun kalau dipikir-pikir, buat apa saya jengkel? Yah, rasanya nasehat menerima kritik kedua benar-benar cocok buat saya.

Bagaimanapun, kritik itu penting, terutama saat karya kita belum jadi (belum dilempar ke pasar). Jadi, binalah hubungan baik dengan para pengkritik. Di sisi lain, kita pun bisa tiba-tiba ditodong seorang pengarang untuk memberikan kritik bagi karyanya. Kalau bisa jangan menolak. Ini proses take and give. Semuanya akan diuntungkan.

.


THE WRAP-UP of “The Etiquette of Criticize”

If you are receiving critique: (1) Take notes to show you are serious want the critique. (2) Do not defense, just take what is useful and silently disregard what is not. (3) Do not expect to any compliment, all you need now is critique. (4) No matter how you disagree, when the critics say the same thing, maybe they’re right. (5) Thank them for they have read and thought your work.

And when you are giving critique: (1) Do it friendly. You are fixing the work, not killing it. (2) Do not argue. If you want the author consider your points so bad, perhaps you should write your own book. (3) Be specific. Show them you have read their work. (4) Always give the recommendation after show him/her negative. (5) Do not just critique orally, write it down for the author’s consideration later.

20 Replies to “Etika Kritik Karya”

  1. rie

    C’est tres utile, cette article.
    Pour moi, c’est pas facile a recevoir la critique mais j’aime la donner a tout le monde, tout les choses.
    Maintenant, j’essaye de reflechir ce que tout le monde m’a dit. On peut savoir plus que moi.

    Reply
  2. Brahmanto Anindito Post author

    Thx, Ariez & Rie. Voila, depuis que WufiNet est ne, on a decide posting qqc plus specifique. Les mots cles sont: ecrire de la fictions (technique/motivation/truc), la nature d’Indonesie (en tant que l’inspiration d’ecrit), et tendance (business de la fiction) en Indonesie.

    Reply
  3. Pradna

    waduh, kok ya pas aku kirim cerpen buat wufi via om Brahm, pas juga artikelnya ini…jadi deg2an

    semoga layak edar dan menuai sedikit kritik 😀

    Reply
  4. rie

    j’oublie de dire que la critique peut influencer la continuite de la carriere d’un ecrivain. S’il veut existe tjrs dans ce domaine, il doit accepter la critique.

    Reply
  5. Brahm

    Trims, Pradna & Rie. Cerpenmu udah diterima dg utuh. Hm, rasanya cocok kok buat Wufi. Tp kritiknya nanti aja ya, via email.

    Oui, c’est ca, Rie. Mais je suis pas un critique, n’importe comment. Je suis un ecrivain. Je donne la critic seulement quand on me demande. ^_^

    Reply
  6. sandeq

    Hai!

    Jangan takut pada musuh yang mengkritik Anda, tapi takutlah pada teman yang menyanjung Anda. Saya lupa membaca ini di mana, tapi ini nasihat yang bagus bagi siapa saja yang ingin maju, termasuk maju jadi capres. ^_^

    Saya baru tahu situs ini. Tadi sempat keliling dulu, cari-cari fiksi-nya. Ternyata tidak melulu fiksi ya? Memang punya majalah khusus atau apa begitu, kok bisa mengirim cerpen?

    Reply
  7. Brahm

    Oh, tidak! Kami tidak berurusan dg capres2an. Hahahaha …. Yah, bgku kritik maupun pujian sama2 bahayanya kalau porsinya berlebihan.

    Memang tidak melulu fiksi, Mas Sandeq. Yg kami garap ini situs referensi penulisan fiksi. Khususnya karya2 fiksi yg bersetting Indonesia.

    Cerpen2 itu kami terbitkan di tempat ini jg, dlm bentuk e-book. Silakan lihat di laman Free Download. Trims udah mampir.

    Reply
  8. pakde

    Jika kita di kritik seseorang, open mind saja lah. minimal kita mendapat mentor alias orang yang mau mengarahkan kita menjadi baik, tanpa memberikan imbalan kepada si pengkritik.
    Intinya kita sudah menyewa orang tanpa bayaran untuk menkritik kita….Salam Saya Bos

    Reply
  9. Brahmanto Anindito Post author

    ‘Tul sekali, Pak De. Orang mengkritik kita itu orang yg menyedekahi kita. Ucapkanlah terima kasih. Dan kalau kita nggak suka atau nggak butuh dg sedekahnya, ya tinggal melupakannya atau membuangnya saja. Takkan ada kerugian di pihak kita, bukan? Salam kenal.

    Reply
  10. Villam

    artikel yang bagus.
    thanks buat tips ‘5 on 5’nya.
    mari kita memberi kritik seperti halnya kita ingin dikritik.
    tanyakan diri kita sendiri sebelum kita ingin mengirimkan hasil kritikan kita pada sang penulis: seperti inikah nanti karya saya ingin dikritik oleh dia?

    Reply
  11. Brahm

    Thx, Bodrox & Langitjiwa. Wah, kritik itu rasanya nggak semengerikan itu kok. Asalkan kritiknya emang bagus dan membangun.

    Sidoarjo … tetangga nih. Yo oleh ae, Mas. Bsk kalau waktunya nambah link, aku jg pasang URL-mu ya. Btw, penasaran, darimana dpt inspirasi manggil “Dito”?

    Reply
  12. Pingback: Games Made in Indonesia | Warung Fiksi

  13. Pingback: Pentingnya First Reader dalam Memoles Karyamu | Warung Fiksi ®

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.