Endymion dan Negative Capability (Sekilas tentang Keindahan)

By: Mochammad Asrori

Jika saya tanya, Anda pasti dengan fasih bisa menjelaskan apa itu “keindahan”. Namun jauh di lubuk hati, pasti Anda tahu bahwa konsep tentang keindahan versi Anda takkan sama dengan konsep keindahan saya (kecuali tentu saja kalau sengaja disama-samakan). Ini seperti ketika kaum pria memperdebatkan apakah Miss Indonesia sekarang cantik atau biasa-biasa saja, juga ketika cewek-cewek sibuk merumpi siapa yang lebih patut jadi L-Men of the Year. Misalnya begitu. Yakin deh, tidak bakal ada yang 100% sama.

Nah, kalau dalam skala individu saja sulit untuk menemukan kesamaan visi keindahan, bagaimana dalam skala yang luas? Dalam karya tulis sastra kasusnya pun sama, banyak takaran yang digunakan dalam menilai, misalnya novel A memilki keindahan yang jauh melebihi novel B.

Ernst Cassirer dalam An Essay on Man, buku yang ditulis tahun 1954, mengatakan bahwa “keindahan” tidak akan pernah selesai diperdebatkan. Keindahan bahkan sudah menjadi bahan bincang-bincang sejak ratusan tahun lampau. Intinya, mereka yang terlibat dalam masalah ini mencoba mendefinisikan apa sih keindahan itu? (Kurang kerjaan banget kan.)

Namun, yah, karena yang berdebat adalah pakar-pakar sastra dan pemikir-pemikir dunia, jadilah masalah keindahan ramai diperbincangkan hingga sekarang. Sampai-sampai muncullah beraneka definisi dari hasil kontemplasi mereka.

Salah satu definisi yang paling dikenal adalah hasil pemikiran penyair romantik Inggris, John Keats. Di bukunya yang ditulis tahun 1817, Endymion, terdapat definisi keindahan semacam ini:

A thing of beauty is a joy forever: Its loveliness increases; it will never pass into nothingness.

“Sesuatu yang indah adalah kegembiraan selama-lamanya: Kemolekannya bertambah, dan takkan pernah menuju ketiadaan.” Dahsyat, Men!

Keindahan versi John Keats ini dikenal dengan konsep Endymion. Sebenarnya, konsep ini muncul dalam cerita mitologi Yunani kuno. Endymion adalah seorang penggembala yang diberkahi keindahan abadi oleh para dewa, yaitu selalu muda, selamanya tidur, dan tidak pernah diganggu oleh siapapun. Para dewa Yunani kuno memerlukan Endymion untuk mengomunikasikan keindahan kepada manusia. Endymion merupakan bentuk yang dipilih oleh para dewa agar keindahan tersebut kekal. Cerita ini kemudian berkembang lebih lanjut dan hidup terus di sekian zaman.

Banyak objek yang kemudian menjadi bahan-bahan rujukan yang mempermudah konsep indah. Misalnya karya-karya Leonardo Da Vinci, seperti patung David yang dianggap sebagai sosok patung laki-laki dengan anatomi paling ideal, atau lukisan Monalisa sebagai senyum paling menawan.

Dari sini kita tahu bahwa keindahan hanyalah sebuah konsep yang baru berkomunikasi setelah mempunyai bentuk. Karena itu dia tidak berbicara langsung tentang keindahan, akan tetapi sesuatu yang indah.

Lalu bagaimana tentang negative capability? Konon, negative capability adalah kemampuan yang hanya dimiliki segelintir manusia. Orang-orang yang memiliki kemampuan ini adalah mereka yang benar-benar memiliki konsep keindahan lalu menuangkannya ke dalam bentuk yang indah. Siapa orang-orang tersebut?

Menurut Keats, orang-orang dengan negative capability adalah orang yang memiliki kemampuan untuk selalu dalam keadaan ragu-ragu, tidak menentu, dan misterius tanpa mengganggu keseimbangan jiwa dan tindakannya: Cuma pikiran dan hatinyalah yang diliputi keresahan.

Negative capability identik dengan proses mencari. Proses inilah yang menyebabkan seorang seniman tidak produktif, jarak antar karyanya cukup lama, tapi justru inilah yang membuat semua tulisannya menjadi matang. Dia akan menulis hanya setelah pelatuk imajinasinya memberi bentuk pada konsep keindahannya.

Orang yang tidak memiliki negative capability tidak akan kreatif. Sebab segala sesuatu baginya sudah jelas, tidak menimbulkan keraguan, dan bukan merupakan misteri. Keats mengatakan bahwa proses kreativitas identik dengan perjuangan untuk menciptakan keindahan, atau tepatnya menciptakan sesuatu yang indah.

Yap, begitulah. Bisa dibilang, para dewa memerlukan bentuk untuk menjelaskan keindahan. Maka ditunjuklah Endymion untuk mengomunikasikan keindahan. Karena ternyata hal ini lebih mudah daripada harus menjelaskan sendiri apa arti istilah itu. Nah, para dewa saja bingung untuk memberikan definisi, apalagi kita? 🙂

Jadi cukuplah kita mengetahui berbagai aspek keindahan karya-karya dari masa ke masa. Yang tak kalah penting, kita memiliki konsep keindahan sendiri dan tidak mempermasalahkan konsep keindahan yang dimiliki orang lain. Setuju?

2 Replies to “Endymion dan Negative Capability (Sekilas tentang Keindahan)”

  1. syahrini

    keindahan memang relative.meskipun terkadang bisa juga diseragamkan. setidakya untuk kelompok kecil.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.