Empat Alasan Laskar Pelangi Seharusnya Mengalahkan Ayat-ayat Cinta

Laskar Pelangi

Saya pikir keputusan memutar film di kisaran Lebaran, saat orang-orang repot mudik sehingga tak ada waktu buat hal-hal remeh seperti menonton, adalah sebuah kesalahan. Tapi ternyata, sayalah yang salah. Laskar Pelangi meledak. Saya sampai harus balik kucing dua kali karena lihat antriannya yang tidak masuk akal (dibanding waktu tayangnya yang tinggal setengah jam lagi). Untung, saat datang ketiga kalinya, saya bisa dapat tiket. Itupun tinggal dua biji. Telat sedikit pasti amblas disikat orang.

Film yang diproduksi Miles Films dan Mizan Production ini berdasarkan kisah nyata penulis novelnya, Andrea Hirata. Ini cerita tentang persahabatan 10 siswa SD Muhammadiyah Gantong di Belitung, yakni Ikal (tokoh Andrea Hirata sendiri yang diperankan Zulfanny), Mahar (diperankan Verry S. Yamarno), Lintang (Ferdian), Kucai (Yogi Nugraha), Syahdan (M. Syukur Ramadan), A Kiong (Suhendri), Borek (Febriansyah), Harun (Jeffry Yanuar), Trapani (Suharyadi Syah Ramadhan), dan Sahara (Dewi Ratih Ayu Safitri).

Anak-anak itu punya keistimewaan masing-masing. Keunikan mereka berwarna-warni, seperti pelangi. Ditambah semangat juang mereka yang liat untuk tetap sekolah, jadilah Bu Guru Muslimah (Cut Mini) menjuluki kesepuluh anak yang menjadi satu-satunya murid SD Muhammadiyah Gantong itu laskar. Laskar Pelangi.

Laskar Pelangi merupakan film tercepat yang pernah saya buat,” aku Riri Riza. Tapi jangan salah, hasilnya maksimal. Saya bahkan memprediksi film yang ditulis Salman Aristo, Riri Riza dan Mira Lesmana ini akan lebih laris ketimbang film Ayat-ayat Cinta. Yakin 100%!

Bagaimana kalau ternyata salah? Ah, bukan masalah, itu bukan pertama kalinya prediksi saya meleset. Namanya juga manusia. Namun setidaknya dengarkan dulu kenapa saya sampai berani memprediksi bahwa penonton Laskar Pelangi bakal mengungguli Ayat-ayat Cinta.

PERTAMA: Ekranisasi Novel Sukses Biasanya Juga Sukses

 

Tidak selalu, tapi biasanya yang berangkat dari sesuatu yang best seller cenderung box office. Di kancah internasional, lihat saja fenomena ekranisasi seri James Bond, The Lord of the Ring, Harry Potter, Da Vinci Code, dst. yang rata-rata sukses.

Di Indonesia pun trennya serupa. Data di tabel ini saya peroleh dari berbagai sumber. Angka dalam ribuan (kecuali tahun), dan sepertinya merupakan pembulatan. Sebab, angka persisnya sulit sekali diperoleh.

Judul Karya

Eksemplar Novel

Penonton Film

Tahun Rilis Film

Ca Bau Kan 30 150 2002
Eiffel I’m in Love 70 4.000 2003
Jomblo 50 610 2006
Cintapuccino 200 350 2007
Ayat-ayat Cinta 600 3.000 2008
Laskar Pelangi 500 (misteri) 2008

Angka-angka itu merupakan prediksi dasar mengapa film Laskar Pelangi berhak meraih jutaan penonton. Tapi bisakah mengalahkan perolehan film Ayat-ayat Cinta? Bukankah titik awalnya (penjualan novelnya) sudah kalah? Memang, tapi belum tentu filmnya kalah. Dari perbandingan penjualan novel dan film di atas, kita tahu persentase kenaikannya tidak sama antara satu karya dengan karya lainnya.

KEDUA: Novelis dan Sineas Saling Dukung

Tidak seperti Ayat-ayat Cinta yang “digandoli” kekurangpuasan novelisnya, film Laskar Pelangi ini merupakan sinergi antara sineas dan novelisnya. Ketika sinergi tercipta, mereka akan saling mempromosikan. Riri mempromosikan (menyanjung lewat media) novel Andrea. Dan Andrea pun mempromosikan film ini.

Pembaca novel biasanya suka protes setiap ada fenomena ekranisasi novel kesayangannya. Inti protes tersebut hampir selalu mengungkit-ungkit imajinasi (pribadinya) yang saat membaca ternyata tidak sama dengan visualisasi film.

Sejak kapan imajinasi setiap orang bisa disamakan? Sejak kapan novel bisa dibandingkan dengan film? Tidak tahukah dia betapa novel itu media tanpa batas (cuma masalah kertas) sementara film dibatasi durasi? Pura-pura lupakah dia kalau novel itu mementingkan kata-kata, sedangkan film justru tidak boleh banyak kata?

Nah, dengan sinergi sineas-novelis, protes-protes klise di atas bisa dengan mudah dikonter: “Penulis novelnya saja merasa puas banget nonton filmnya, masa’ kamu yang bukan siapa-siapa heboh sendiri, pakai protes-protes segala.” Kredibilitas film pun kian kokoh di hadapan calon konsumennya.

Sejak praproduksi sampai filmnya muncul di bioskop, memang tak henti-hentinya Andrea memuji visi sang sutradara. “Ini salah satu film yang paling mempesona yang pernah kusaksikan dalam hidupku,” kata Andrea. Lulusan S2 di Sorbonne, Prancis, itu malah mengaku sampai menangis saat menonton (ceritanya sendiri).

KETIGA: Secara Umum Filmnya Berkualitas

Tapi Andrea tidak sedang narsis. Yah, mungkin sedikit narsis, namun baik novel maupun filmnya memang mengharukan. Saya sendiri memperhatikan beberapa penonton di bioskop mengusap matanya setelah adegan-adegan tertentu.

Barangkali Anda tidak menangis. Tapi minimal mata Anda akan berkaca-kaca. Atau dada tiba-tiba terasa sesak, naik-turun, terbawa emosi menyaksikan perjuangan bocah-bocah lugu itu.

Meskipun begitu, Laskar Pelangi bukan sejenis film cengeng. Ini mengharukan yang inspiring, dan kadang-kadang lucu. Namun lucunya juga bukan lucu slapstik. Kocak, mengharukan, menginspirasi. Menurut saya, itulah salah satu kombinasi bumbu yang efektif untuk melariskan film.

Pemain-pemain (yang kebanyakan lokal Belitung) itu pun berdialog dengan natural, bahkan lebih natural dan luwes ketimbang pemain-pemain profesional di Ayat-ayat Cinta. Salut buat sang sutradara!

Mengarahkan anak-anak yang menonton bioskop pun konon tak pernah untuk bisa berakting seprima itu saya rasa bukan pekerjaan mudah, sekalipun bagi sutradara berjam terbang tinggi. Saya belum pernah benar-benar mengagumi karya-karya Riri Riza. Gie pun tak mampu menggetarkan saya. Namun Laskar Pelangi ini, oh ….

http://www.youtube.com/watch?v=9VXAqVag_MU

trailer film Laskar Pelangi

KEEMPAT: Tak Ada Film Pesaing yang Menonjol

Pesaing yang saya maksud adalah kompetitor langsung di bioskop yang sama. Karena ketika seseorang memutuskan menonton film di teater 1, kemungkinan besar film-film di teater lainnya tak ditontonnya. Mayoritas orang menonton satu film saja dalam sekali kunjungannya ke bioskop.

Maka sekarang, mari kita tengok film-film apa saja yang sedang diputar bersanding dan bersaing dengan Laskar Pelangi.

Dari Hollywood, ada Bangkok Dangerous (Nicolas Cage) dan The Eye (Jessica Alba) yang sudah masuk ujung lifecycle-nya. Sementara itu I Know Who Killed Me (Lindsay Lohan), Space Chimps (film animasi), Awake (Hayden Christensen) atau Rescue Dawn (Christian Bale) menurut saya (ini menurut saya lho) tak cukup greget. Begitu pula film supranatural China, Painted Skin (Donnie Yen).

Film-film Indonesia? Masih didominasi tema-tema komedi-dewasa atau drama percintaan. Pasar sudah masuk titik jenuh di sini, walaupun kita sama-sama tahu konsumen film di Indonesia lama jenuhnya. Genre Horor saja lama sekali kan sampai benar-benar ditinggalkan penonton Indonesia.

Namun coba deh bicara keunikan. Bandingkan film-film Indonesia yang sedang diputar saat ini. Laskar Pelangi mengambil tema yang berbeda: Persahabatan, pendidikan (tapi bukan dengan pendekatan yang klise), dan perjuangan. Lalu settingnya pun Belitung. Baru kan? Bukan Jakarta lagi, Jakarta lagi. Hoe, sineaaas … emangnye Indonesia ntu Jakarte doang?!

Film yang mengangkat budaya-budaya lokal begini biasanya juga lebih dihargai di festival, termasuk Academy Awards atau Cannes. Di mata saya, Laskar Pelangi sangat layak diajukan sebagai Best Foreign Language Film pada festival-festival internasional itu. Ah, produser Mira Lesmana pasti sudah tahu apa yang harus dilakukan.

Well, pada akhirnya, setujukah Anda dengan prediksi saya tentang kelarisan film ini?

83 Replies to “Empat Alasan Laskar Pelangi Seharusnya Mengalahkan Ayat-ayat Cinta”

  1. syraru

    Setujuuuuu

    btw salam kenal yah

    awa bner2 g suka am film AAC kalo laskar pelangi, awa ancungkan jempol πŸ™‚

    setuju bnget πŸ˜€

    Reply
  2. rizal

    kalw qw ga’ cuma se-tujuh bosss,..tapy se-jutaaaaa,..
    AAC mah lewaaat,..smw juga taw en dah rahasia umum klw AAC hanya pembualan yg dpoles dengan sentuhan agama ( ce’ileeee agama lgi yg dikebiri,..), mank menurut sampean poligami sambil kulih masuk akal ya??? dah gitu dibilang karya fenomenal lgi,..dari mananya tuich,..ples dech,…
    tapi
    ga’ habis pikir dech,..yang jelas mulai primiere tayang ampe sekarang qw dah 6 kali nonton,..dan perjuangan untuk mendapatkan tiket maha runyem,…desak2-an udah pasti,..yang lebih gila heandphone qw yg type lumayan juga harus jadi korban sepatu2 pemburu tiket,…belum lagi jam kerja ku yang pada hari hari lebaran merupakan tambnang emas bgi kantong-qw tiap tahunnya harus kuhilangkan demi selembar tiket yg penuh magic dalam sejarah hidup qw,.. semw temen2 ga’ lgi peduli dengan janji2 yg telah kami ukir tuk menyambut hari yg fitri,… namun semua itu sangat tidak berarti apa2 bagi-qw bila dibandingkan dengan melihat mata2 bocah ingusan yg miskin,..papah,..lusuh,..gosong ( semw kejelekan duniawi poko’nya ada pada bocah2 itu ) itulah potret masa kecil-qw yg sebenarnya,…bukan kuntilanak,..klw kuntilanak mah nenek-qw dulu jg ga’ percaya,..mestinya sutradara horor kudu belajar banyak tuch ama anak-anak kampung,..alias genk laskar,..hik2222

    Reply
  3. Muh David

    klo melihat jalur ceritanya aq rasa memang AAC lewat deh ….
    walau aq blom nonton filmx tapi dngan membaca bukunya …memang lebih dahsyat dari AAC .. pasalnya ini ditulis dari pengalaman pribadi sang penulis … apalagi nilai saatranya yang tidak ada duanya saat ini …
    aq suatu saat pasti akan kuluangkan waktu u/ bisa nonton LP (laskar Pelangi) …
    AAC menurut aq salah produser …produser tolol n goblok … merusak nilai Islami AAC …Produsernya jngan sok … mau jadi produser klo tidak ngerti Islam Donk …
    menurut aq Hanum tidak pernah belajar Islam dgan baik jadi ta’ usah jadi produser Film bernuansa Islam jika tanpa konfirmasi dari Aa Gym … klo hanya Kiayi gadungan t’ usah buat Film Islami …sebab hanya merusak Khasanah keindahan ajaran Islam …
    bukan malah memperbaiki Keadaan tpi memperkeruh suasana saja ….
    aq salut ma producer Lp (laskar Pe;angi)
    n buat Hanum … Belajar Dulu donk Islamnya jangan2 mentang cari duit malah Duit Harom masuk Neraka Sampean …

    Reply
  4. Brahm

    Trims, Syraru, Rizal & Muh. David. Salam kenal balik. Alur cerita AAC lewat? Lho, yg nulis skenarionya kan sama: Salman Aristo. Hehehe … Tp, kok jd menjelek2kan AAC ya. Sudah, sudah. Kembali ke … LP.

    Reply
  5. lovehz

    mas itu data angka penjualan dapetnya dari mana mas? ga salah tuh, maap2 nih..saya baca disalah satu tabloid nasional, bukannya terbalik tuh..penjualan LP seharusnya yang lebih tinggi dari AAC? saya setuju banget kalau film (dan bahkan novel LP) jauh lebih bermutu dari AAC (saya suka bukunya AAC tapi filmnya..muak banget !!)
    AAC digarap sama produser yang salah tuh, jadi yang diumbar adalah cinta2an..pake kedok agama deh biar makin laris, dan lucunya hampir setiap novel yang ngarang AAC (kang Abik), semua tokoh2 cewe2 yang ada di novel2 itu (termasuk KCB) pada naksir si tokoh sentralnya hehe…kenape bisa begitu ye????
    kesimpulannya dah pasti film LP akan jauh banget melebihi kesuksesan (semu) dari AAC…

    Reply
  6. wyd

    saya sih belum berminat nonton film2 indonesia setelah dikecawain beberapa film indonesia yang katanya ‘hebat’ ‘bagus’ ‘berkualitas’ de el el…. mungkin ntar2 saya nyoba download di net atau nyari videonya kalau emang bener…

    Reply
  7. Brahm

    Terima kasih, Lovehz & Wyd. Ooh, jd itu trade mark-nya Kang Abik ya? Baru tahu nih. Soalnya satu2nya yg kubaca ya AAC itu.

    Data di tabel itu dapetnya sebagian besar dari Swa. Kalau novel LP 500.000 eksemplar kuperoleh dari Gatra. Tp kemarin, kubaca di Jawa Pos, novel LP udah laku 700.000 eksemplar. Aku terlanjur pakai yg 500.000. Lagipula yg ngomong 700.000 itu orang Mizan Production (ada kemungkinan dilebih2kan buat promosi filmnya). Tp kalau ada data lbh akurat, sumbernya paten, tolong kasih tahu ya, Lovehz.

    Yaaah, kok carinya downloadan, Wyd. Nggak keren.

    Reply
  8. alin

    saya blm nonton LP maklum lg pulkam 21nya masih tangeh,,,
    weleh weleh… saya malah tertarik sama eiffel im in love, 4 jt??!! betapa butanya…..
    AAC kalo menurut saya mirip sinetron hidayah yg dikemas lux tapi gak tahulah saya gak suka tema percintaan 2 insan dalam balutan islam, jd gimana ya…
    LP minggu dpn dikejar deh.

    Reply
  9. wyd

    daripada kecewa nonton dengan harapan berbunga2 taunya cuma disuguhin film kacangan… siapa tahu… makanya ga mau nyakitin hati sendiri… ntar2 aja kalau udah abis masa boomingnya saya kan bisa nge-download…

    eh, anda kan bertiga pria semua… saya punya perbandingan tentang pria indonesia dan bule di blog saya… tapi pls itu cuma opini, saya ga rasis loh…

    Reply
  10. chimot

    setuju ah…
    ni mau nonton dua kali sampe nunggu ngantri tiket berhari-hari gak dapet…
    LP menjadi hantaman keras buat AAC
    apalagi pemain AAC yg cuman berakting sekira lewat, si rianti yang kakunya minta ampun masak kalah jaoh sama si HARUN !!

    hohoho…

    bravo2…LP mesti jauh lebih meledak. kalo enggak berarti rakyat indonesia enggak bisa ngebedain film yg BERMUTU dan pemain yg BERMUTU ( baca ganteng )

    Reply
  11. Brahm

    Thx, Alin & Chimot. Tp jangan lupa, Eiffel I’m in Love waktu itu tergolong pionir (setelah AADC). Jd ya wajarlah kalau penonton msh antusias dg genre percintaan remaja gitu.

    Ngantri nggak dapet2? Camping dong bareng temen2 di depan loket, hehehe. Di film ini memang jarang ada tokoh ganteng, apalagi cantik (bahkan artis2 Jakarta itu jg di-make up lusuh di sini). Tp pemandangan alam Belitung itu lho … cakep banget!

    Reply
  12. litt_mey

    ok2 semuanya..

    aku ikutan nimbung ok?
    bener deh laskar pelangi emang top bgt! (walaupun aku blm nonton filmya karna blm di putar di sini.. hix.. hix.. )

    pokoknya, lewat laskar pelanginya bang andrea hirata buat aku bangga banget jadi orang belitung.^^

    ow ya, buat yang kepingin main ke negeri laskar pelangi(belitung) kita welcome benget lho..

    Reply
  13. Radian Kanugroho

    Saya SUKA filmnya MILES, saya SUKA novelnya LP, dan Saya menggargai para sineas yang berani menonjolkan keindahan serta keragaman budaya Indonesiia.
    Tapi,
    Koq saya masih lebih suka Denias – Senandung di Atas Awan, yha…
    Overall Laskar Pelangi pengemasannya kurang begitu enak dilihat. Ceritanya berusaha mengaktifkan ke-10 karakter orang tapi kurang dapet, sinematografi “Yadi Sugandi” yang gua kagumi bikin gua kecewa juga. Burem, bocor bayangan kamera, bocor microfon… πŸ™

    Reply
  14. Ivan

    Sbg org yg lahir di Ds.Gantung-Belitung saya bangga dgn adanya film tsb walau kami sendiri sampai saat ini belum dapat nonton karena di tempat kami ini sudah tidak ada bioskop lagi..
    Anyway soal komentar, terserah penikmatnya…yg jelas di film alam yg biasa kami nikmati sehari-hari ternyata indah…

    Reply
  15. AnggaRIfandi

    saya berharap film-film sineas Indonesia bisa memberikan nuansa film yang berbeda, jangan terjebak dengan film-film komedi atau horror yang tidak membangun karakter bangsa ini …

    Reply
  16. aRuL

    secara pribadi filmnya saya akui lebih baik daripada AAC, tapi kalo novel yah masih menang AAC dah.. hehehehe

    saya juga sudah buat review tentang film ini, mantap sekali, begitu menggugah, beberapa point yg saya tidak suka ketika membaca novelnya diterjemahkan sederhana dan bisa ditanggap oleh penonton.
    mengharu birukan πŸ™‚

    Reply
  17. aRuL

    tapi penulis skenarionya Ayat-ayat cinta dan Laskar pelangi ini saya kan, wah dia belajar dari pengalaman ketika menterjemahkan isi novel ke film.

    Reply
  18. Brahm

    Trims, Litt_mey, Radian Kanugroho, Ivan, AnggaRIfandi, dan aRul. Ya, LP pasti bisa menaikkan daya jual wisata Belitung. Tp, Litt_mey, kalau aku yg ke sana, gratis nginep ya … πŸ˜›

    Radian, setiap orang pasti punya opini beda. Contohnya, menurutku film LP tdk berusaha mengaktifkan 10 karakter (nggak kyk novelnya), tp sebagian saja (khususnya Ikal, Mahar dan Lintang). Ini film, kalau semua karakter dikembangkan, berapa durasinya? Dan kupikir Riri Riza tahu benar itu. Denias pun dialog2nya msh terlisan kaku, menurutku. Sinematografi? Yah, mungkin Denias lbh bagus.

    Buat Arul, kupikir cerita AAC ya spt itu. Mau diterjemahkan bagaimana lg biar lbh bagus? Aku melihat ada banyak hal yg sulit divisualisasikan ke film dari novel Kang Abik itu (mungkin takdirnya mmg novel murni, sastra sejati).

    Atau gini aja deh. Coba kita lihat sama2 apa film KCB bisa dahsyat. Krn novelis-sineas udah saling cocok, kuasumsikan KCB the movie bisa maksimal. Kalau nantinya biasa2 aja, berarti kesalahan kemarin bukan pd sineas2 AAC. Selama ini kan Hanung dan keluarga Punjabi itu yg jd kambing hitam (meski membukukan 3 juta penonton). Terlepas dari berkurangnya kadar islami di film itu yg memang aku akui terjadi di sana.

    Reply
  19. Hasan Seru

    film tentu lbg bagus LasPel lah… AAC bikin kecewa, terlalu banyak yg diubah, dan mengubah cerita, bukan orisinil.. LasPel memang tak smua isi novel bisa divisualisasikan, tapi sangat mewakili

    salam kenal

    Reply
  20. yhe2_nt

    setuju bangetttttttttttttttttt……….!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    baek film maupun novel,aku acungin jempol deh………sumpeh,keren bgt !!!!!!!!!!!! buat kak andrea, “MARYAMAH KARPOV”nya udah aku tunggu,lho…..sukses ya kak…..

    lam kenal………..

    Reply
  21. Kin

    Sial bioskop di jogja cuma satu….

    Jd gw yg pgn ntn blm kesampaian…ngantrinya ampe keluar studio…

    Tolong ya, investor yg pny duit…peluang tuh…

    Reply
  22. Pradna

    LP:
    Liat thriler yutub diatas, cool.
    Liat di video klip nidji, keren.
    Pelem-nya… jelas blon liat. Biasanya harus nunggu sekitar 6 bulan lagi, hiks.
    Bukunya harus nunggu 2 tahun, setelah didiskon secara sadis di bazaar buku, baru bisa kebeli.
    Tapi,sperti kata Mira Lesmana “Dengan Laskar Pelangi, aku jadi bisa merasakan bangganya jadi anak Indonesia.”

    AAC:
    Bukunya, aku dapat pinjem dari temen.
    Filemnya, pernah ada yg nekat pijem VCD asli-nya, tapi aq ga tega ikut nontonnya (pengecut!).
    Ck,baiknya memang menghapal ayat-ayat cintanya saja ya (Surat Ar-Rahman).

    LP bisa mengalahkan AAC (dalam jumlah penongton, maksudnyah?)…hmm,andai disini ada bioskop. Jadi bisa tau riil penongtonnya.

    Reply
  23. Slamet

    Wah Saya belum sempet liat pilemnya ni mas, maklum gak gablak duwit. baca novelnya aja boleh minjem dari Bolo bolo Kurowo. Thanks buat Teteh Rizka yang minjemin Laskar Pelangi dari Om Andrea Hirata. Itu aja baru kebaca sampe Halaman 285an belum kelar. Maklum orang sibuk Kerja Kerja & Kerja belum lagi kuliah Wah Bikin Otak Hang, Maklum Otak Secara Otak Belum Pentium.
    Dibacanya kalo sempet aja.
    Tapi Novel yang Kedua dan Ketiga Sudah ada digenggaman, Nunggu Novel yg keempat aja. Karpovvv…
    Besok kalo tabungan Cukup Gw Liat Tu pelem Sama Gebetan.
    Laskar Pelangi Here I Come!!!!!

    Reply
  24. erick sulaiman

    Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah akan dibuat sequelnya? Saya berharap semoga tidak, karena potensi untuk meraih kesuksesan yang serupa itu sangat kecil, apalagi novelnya juga tidak sesukses yang pertama…

    Reply
  25. pasha

    Fuh, akhirnya ke sini lagi setelah ketulah beberapa waktu lalu!
    Sebenarnya malu komentar karena saya belum baca novel maupun nonton filmnya. Tapi kalo benar Laskar Pelangi punya potensi lebih hebat daripada AAC (dah ditonton SBY juga lho…), asik-asik aja tuh. Moga-moga LP bisa mengembalikan Kak Riri Riza ke kejayaannya sebagai sutradara film anak-anak yang ‘hilang’ pasca Untuk Rena yang jauh di bawah Petualangan Sherina.

    Reply
  26. Zhafira

    aq blm sempat nonton LP nie… tapi dari membaca resensi dan blog2 yang mengulas ttg LP aja dah bikin aq terharu…. gak kebayang kalo pas aq nonton LP. keponakan qu yg berumur 10 thn udah nonton dan dia sempat apatis dgn film anak2 Indonesia… “ponakan ku bilang… akh paling-paling nanti filmnya kaya denias, ngebosenin”… egh pas dia pulang nonton LP… komentarnya adalah “KEREN ABISSS” dan bisa menjadi inspirasi bagi dia… karena lingkungan kehidupan anak-anak di Jakarta yang serba dimanjakan oleh ortu dan serba kemudahan.. terkadang motiviasi untuk belajar dan maju sedikit memudar…. Congratulation LP… Aq harus sempatin nonton dlm minggu ini.

    Reply
  27. Brahm

    Kaharman, yhe2_nt, Kin (di Jogja msh 1 bioskop? Iya, peluang investor tuh), Pradna (masa’ di Semarang nggak ada? Peluang jg tuh), Ratu Adil Satria Pinandhita Sinisihan Wahyu (pemikiran2nya aneh, Bos, hehehe), Slamet (kalau sibuk gitu lbh baik nonton aja filmnya, cuma dua jam, jauh lbh cpt dibandingkan dg baca novelnya), Erick (sekuelnya “Sang Pemimpi” kemungkinan bsr dibuat, aku jg nggak begitu suka dg ide sekuel, tp gmn lg, ini kan industri), Pasha (ketulah siapa lg, Bos?), Maya, & Zhafira (bnr tuh, bocah2 Indonesia kudu matikan TV & nonton film ini) …

    … thank u.

    Reply
  28. anny

    akhirnya, Sineas Ind. bisa bikin film “BERMUTU” juga……gw sampe terbawa haru, dan bisa ngerasain sakitnya putus sekolah,ketika tokoh si jenius Lintang mengucapkan salam perpisahaan dgn teman2nya. sampe balik dr Bioskop, gw masih terbayang2 adegan itu…blm lagi pesan moral yang disampaikan bu mus dan pak Kep.sek…..gw setuju, kalo AAC lewaaattt……
    ayooooo anak indonesia, tonton dan tiru semangat bocah2 belitong ini, gak ada adegan Bullying,rebutan cowok, dandan superheboh,kata2 kasar….u/ Riri Reza & Mira Lesmana 2 Thumbs Up …u/Andrea Hirata novelnya bagus bgt dan salam hormat saya buat Bu Muslimah.

    Reply
  29. MasGun

    Film LP, adalah film wajib bagi :
    1. anak-anak sekolah
    2. Para pengajar dan yang bergelut didunia pendidikan
    3. DAN SANGAT WAJIB BAGI KITA SEMUANYA YG MENGAKU CINTA TANAH AIR……

    Reply
  30. Brahm

    Trims ya, Anny, MasGun dan Enal. Sesak ya? Terharu ya? Tp ada satu adegan behind the scene yg barangkali terlewat oleh kita: Belitung hari ini keadaannya msh tdk jauh beda dg yg ada di film itu! Di sana tdk ada satupun bioskop (bhk utk nonton LP yg settingnya di kampung halaman mrk sendiri). Pdhl tdk semua anak2 Belitung punya semangat seliat 10 bocah Laskar Pelangi itu. Ah, semoga Pak SBY tdk cuma nonton apa yg tampak di layar.

    Anny, ya jgn dibandingkan dg sinetron yg isinya bullying, cinta2an, dialog2nya banyak sumpah serapahnya, dsb. Jauuuuh ….

    Tp AAC lewat? Mungkin. Nilai2 LP lbh universal ketimbang AAC (yg bisa dipastikan penggemarnya eksklusif). LP juga utk semua umur, sementara AAC hanya buat remaja ke atas. Jd dari segi segmen, LP lbh luas, lbh banyak. Spt yg dikatakan MasGun di poin ketiga: “Bagi kita semua yg mengaku cinta tanah air.”

    Reply
  31. Brahmanto Anindito

    Trims, Adhinih’, Diand dan Rie Yanti. Ya iyalah, Rie, film durasi 2 jam aja aku lihat banyak yg keluar-masuk exit teater. Apalagi lbh dari itu, pasti chaos.

    Di samping itu, dari segi bisnis, film di atas 120 menit cenderung tidak menguntungkan bioskop. Misalnya dlm satu hari satu teater bisa memutar 4 kali, dg durasi panjang, jd cuma 3 kali.

    Pas lengser ke TV pun bikin repot stasiun TV-nya. Akibatnya kadang2 dibuat dua seri. Ini yg bikin aku mangkel, wong film feature kok dipenggal2 jd film seri. Kyk Titanic di Indosiar, AAC di SCTV. Lord of the Ring di TransTV emang nggak dijadikan dua seri, tp banyak pemotongan di sana.

    Andrea Hirata jd Ikal? Wah, Bang Andrea mah udah kaya, nggak perlu repot2 jd pemain film. Hehehe ….

    Reply
  32. rie yanti

    LP KEREN ABISSSSSSSS….
    Aku nonton filmnya minggu kemaren bareng ponakan & ade sepupu. Gila! Antreannya itu loh! Mirip pembagian zakat di Pasuruan. Pas banget emang muterin filmnya waktu liburan lebaran+liburan sekolah. Kayaknya orang2 lbh memilih nonton film ini ketimbang mudik. Hehehe…
    Sepanjang film aku ketawa, kalo nggak nangis. Baru kali ini aku nonton film Indonesia ampe segitunya. Dan baru kali ini pula aku nonton film Indonesia di bioskop. Biasanya sih nunggu diputer di TV aja. Ga nyampe setahun. Kayak AAC aku tonton di SCTV waktu lebaran kemaren. Syukur deh ga ikut2an yg lain nonton di bioskop. AAC ga memuaskan. Ga usah dibandingin sama LP. Jelas kalah…
    Tapi di film, tokoh Trapani & Syahdan ga dimunculin ya. Maksudku, mereka ga kebagian jatah nunjukkin keunikan mereka. Aku sempet mikir, ini kesalahan bioskopnya atau emang filmnya kayak gini? Sayang tuh… Jd ga terlalu kerasa “pelangi”-nya. Tapi durasi emang sadis. Emang ga bisa ya sebuah film berdurasi lebih dari dua jam? Lukman Sardi juga ga pas meranin Ikal dewasa. Mustinya Andrea Hirata sendiri tuh yg maen… Hehehe…
    SP (Sang Pemimpi) katanya lagi disiapin (kalo aku ga salah denger wawancara MiLes sama tvOne di Apa Kabar Indonesia beberapa waktu lalu). Tp menurutku sih, cerita SP ga sebrilian LP. Tp ga tau juga kalo udah dibuat film. LP aja banyak ngasih kejutan. Riri Riza emang top. Andrea Hirata juga. Soundtrack2nya juga…
    Terus nih, ntar sineas2 lain latah bikin film dgn genre yg sama ga? Tp kayaknya ga ada yg bisa ngalahin LP deh!

    Reply
  33. Exa

    Kalo bikin pilm kayak AAC ntu ibarat baru bangun tidur ketindihan tembok. Coba deh simak, novelnya pribumi Indonesia banget plus dikit TimTeng. Tp di pilm jadi kayak nonton pilm India (krn produsnya org India kali ya?). Coba deh liat Laskar Pelangi, Daun DiAtas Bantal, Kiamat Sudah Dekat, Nagabonar jadi 2, Mengejar Mas-Mas, apalagi pilm dulu kayak Cintaku DiRumah Susun. Indoneze bangeeett. Eh knp yg jadi Ikal malah Lukman Sardi, miripan Noe Letto biarpun lbh gantengan dikit drpd Ikal yg asli. Pokoke…Indonesia Raya.

    Reply
  34. Jangan Picik Lah

    Pikiran picik dari otak yang picik, kalo pendapat anda-anda yang merasa ‘lebih bisa’ dari penulis dan pembuat film ACC. kalau anda tidak suka akan ACC kemukakan secara proporsional, bukan sentimen dangkal yang menjurus penguhujatan poligami lah apa lah (basi tahu!).
    Laskar pelangi mengajarkan kita untuk bersikap seperti itu. Dasar orang indonesia kalau menghina emang paling bisa. Apresiasi hasil karya bangsa anda sendiri.
    BTW : Sang pemimpi atau nanti edensor maennya di luar negri, jadi kayak nonton film eropa engga tuh??

    Reply
  35. Brahm

    Trims, Exa & Jangan Picik Lah (di sini pakai nama asli lbh dihargai lho). Setuju kata Jangan Picik Lah. Setiap karya punya kehebatannya masing2. Mari kita diskusikan kehebatan2 itu sj (sbg pemacu kreativitas kita).

    Reply
  36. Janferianto Perangin Angin

    aku udah nonton film ini sebanyak 4 kali, dan bagus dan seru yang aku rasakan setiap kali menontonnya, rasanya sama enggak beda.
    Emang sich ada sedikit kekurangan di sinematografinya tapi semuanya itu ketutup kok dengan yang lainnya.
    Salut buat Miles Production dan Crue yang terus menambah wacana perfilman Indonesia setelah +/- 10 tahun yang lalu mengeluarkan Petualangan Sherina sebagai pembangkit kembali perfilman Indonesia.
    Seharusnya film film yang sepeti ini banyak diproduksi, mencerikan tentang persatuan, Ahklak, toleransi dan pengembangan diri. Saya yakin bagi rekan rekan yang sudah dewasa (exclude anak 2) kembali bernostalgia pada masa kecil yang sangat indah maupun sangat menderita.
    Setelah pertama kali menonton film ini saya melakukan interview pada beberapa orang yang menonton bersama saya. 100 % jawaban mereka OK dan film film yang seperti ini seharusnya diproduksi. banyak yang kita harus pelajari dari mereka, umur tidak menentukan kedewasaan seseorang kita bisa belajar kepada siapa saja saat ini banyak orang dewasa yang tidak nilai nilai yang dicerminkan oleh Laskar Pelangi. yang ada malah kecongkakkan.
    Ada pengalaman menarik ketika saya menonton untuk yang ketiga kalinya, saya bersebelahan dengan orang yang lagi stress berat, dalam bioskop dia tertawa dan menangis, dia seorang pria berumur sekitar 36 tahun. setelah film usai saya melihat sesuatu yang berbeda dengan orang tersebut, ketika memasukin ruang theater dia kusut sekali dengan wajah yang kehilangan harapan. ketika keluar dari ruang theater wajahnya sangat berseri sepeerti Hp yang dichaerge Full lagi man.
    Saya ioseng bertanya pada orang tersebut dan jawaban yang saya terima adalah ungkapan luar biasa.
    Dia langsung berkata, bahwa kehidupan masa kecilnya sangat bahagia sekali semua tercukupi bahkan lebih, memang saat ini banyak masalah yang sedang dia hadapi dan membuat semangatnya kendor…tetapi setelah menonton film tersebut dia bilang bahwa kebahagianan adalah milik semua orang, apapun beban yang menghimpit dan semua masalah menghadang kita harus BAHAGIA. Laskar Perlangi serba kekurangan tetapi mereka tetap ceria dan bahagia dan tidak ada yang bisa merampas itu dari mereka.
    begitu katanya.
    Wowwwwww hebat banget ya Film Laskar Pelangi yach, hanya dengan membayar 15 rb – 25 ribu udah bisa memberikan motivasi yang sangat besar bagi orang lain……tanpa harus mengikut class motivasi dari native speaker terkenal yang harganya sekitar 350.000 ribuan.
    Nach bagi novelis dan produser saya sarankan memproduksi film film serupa dan jangan takut di bilang ngekor karena masich banyak tema yang bisa diangkat untuk memberikan dukungan moril bagi banyak orang, bukan hanya memproduksi film tentang setan …..lama lama pola pikir juga akan seperti setan :).
    Nach bagi yang belum sempat nonton ayoooo buruannnn nonton.
    GBU all

    Reply
  37. giRl_luvmoM

    ga AAC ga LP…
    semuaNya karYa anak baNgsa..

    so…seLaMa qTa blum bisA biKin yang LeBih daRi meReka…

    nikmatin aja duLu karya nYa…

    toH…tu fiLm uDa baNyAK ngajaRin qTa teNtang baNyAk haL…

    keY … πŸ˜›

    taNkz buaT AAC….

    taNkz baNget buaT LasKar PeLangi….

    n taNkz buat YanG uda njaDiin niy fiLm bisa diTontoN ma seMuwa oraNg…

    Reply
  38. Brahm

    Trims atas “laporan penelitiannya”, Janferianto Perangin Angin. Rajin sekali, hehehe. Tp emang LP ini fenomena yg menarik diteliti dari sudut pandang mana aja.

    Setuju jg, Girl_luvmoM!

    Reply
  39. lu_di

    laskar pelangi keren bgt….

    buat kita anak belitung yang lagi kul di luar kota bangga banget ma pulau belitung tercinta…

    sayang nya pemandangan pantai nya kurang nonjolin yang paling bagus… apa lagi film nya agak2 burem…

    tapi keren dah… saaalute!!!

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.