Empat Alasan Laskar Pelangi Seharusnya Mengalahkan Ayat-ayat Cinta

Laskar Pelangi

Saya pikir keputusan memutar film di kisaran Lebaran, saat orang-orang repot mudik sehingga tak ada waktu buat hal-hal remeh seperti menonton, adalah sebuah kesalahan. Tapi ternyata, sayalah yang salah. Laskar Pelangi meledak. Saya sampai harus balik kucing dua kali karena lihat antriannya yang tidak masuk akal (dibanding waktu tayangnya yang tinggal setengah jam lagi). Untung, saat datang ketiga kalinya, saya bisa dapat tiket. Itupun tinggal dua biji. Telat sedikit pasti amblas disikat orang.

Film yang diproduksi Miles Films dan Mizan Production ini berdasarkan kisah nyata penulis novelnya, Andrea Hirata. Ini cerita tentang persahabatan 10 siswa SD Muhammadiyah Gantong di Belitung, yakni Ikal (tokoh Andrea Hirata sendiri yang diperankan Zulfanny), Mahar (diperankan Verry S. Yamarno), Lintang (Ferdian), Kucai (Yogi Nugraha), Syahdan (M. Syukur Ramadan), A Kiong (Suhendri), Borek (Febriansyah), Harun (Jeffry Yanuar), Trapani (Suharyadi Syah Ramadhan), dan Sahara (Dewi Ratih Ayu Safitri).

Anak-anak itu punya keistimewaan masing-masing. Keunikan mereka berwarna-warni, seperti pelangi. Ditambah semangat juang mereka yang liat untuk tetap sekolah, jadilah Bu Guru Muslimah (Cut Mini) menjuluki kesepuluh anak yang menjadi satu-satunya murid SD Muhammadiyah Gantong itu laskar. Laskar Pelangi.

Laskar Pelangi merupakan film tercepat yang pernah saya buat,” aku Riri Riza. Tapi jangan salah, hasilnya maksimal. Saya bahkan memprediksi film yang ditulis Salman Aristo, Riri Riza dan Mira Lesmana ini akan lebih laris ketimbang film Ayat-ayat Cinta. Yakin 100%!

Bagaimana kalau ternyata salah? Ah, bukan masalah, itu bukan pertama kalinya prediksi saya meleset. Namanya juga manusia. Namun setidaknya dengarkan dulu kenapa saya sampai berani memprediksi bahwa penonton Laskar Pelangi bakal mengungguli Ayat-ayat Cinta.

PERTAMA: Ekranisasi Novel Sukses Biasanya Juga Sukses

 

Tidak selalu, tapi biasanya yang berangkat dari sesuatu yang best seller cenderung box office. Di kancah internasional, lihat saja fenomena ekranisasi seri James Bond, The Lord of the Ring, Harry Potter, Da Vinci Code, dst. yang rata-rata sukses.

Di Indonesia pun trennya serupa. Data di tabel ini saya peroleh dari berbagai sumber. Angka dalam ribuan (kecuali tahun), dan sepertinya merupakan pembulatan. Sebab, angka persisnya sulit sekali diperoleh.

Judul Karya

Eksemplar Novel

Penonton Film

Tahun Rilis Film

Ca Bau Kan 30 150 2002
Eiffel I’m in Love 70 4.000 2003
Jomblo 50 610 2006
Cintapuccino 200 350 2007
Ayat-ayat Cinta 600 3.000 2008
Laskar Pelangi 500 (misteri) 2008

Angka-angka itu merupakan prediksi dasar mengapa film Laskar Pelangi berhak meraih jutaan penonton. Tapi bisakah mengalahkan perolehan film Ayat-ayat Cinta? Bukankah titik awalnya (penjualan novelnya) sudah kalah? Memang, tapi belum tentu filmnya kalah. Dari perbandingan penjualan novel dan film di atas, kita tahu persentase kenaikannya tidak sama antara satu karya dengan karya lainnya.

KEDUA: Novelis dan Sineas Saling Dukung

Tidak seperti Ayat-ayat Cinta yang “digandoli” kekurangpuasan novelisnya, film Laskar Pelangi ini merupakan sinergi antara sineas dan novelisnya. Ketika sinergi tercipta, mereka akan saling mempromosikan. Riri mempromosikan (menyanjung lewat media) novel Andrea. Dan Andrea pun mempromosikan film ini.

Pembaca novel biasanya suka protes setiap ada fenomena ekranisasi novel kesayangannya. Inti protes tersebut hampir selalu mengungkit-ungkit imajinasi (pribadinya) yang saat membaca ternyata tidak sama dengan visualisasi film.

Sejak kapan imajinasi setiap orang bisa disamakan? Sejak kapan novel bisa dibandingkan dengan film? Tidak tahukah dia betapa novel itu media tanpa batas (cuma masalah kertas) sementara film dibatasi durasi? Pura-pura lupakah dia kalau novel itu mementingkan kata-kata, sedangkan film justru tidak boleh banyak kata?

Nah, dengan sinergi sineas-novelis, protes-protes klise di atas bisa dengan mudah dikonter: “Penulis novelnya saja merasa puas banget nonton filmnya, masa’ kamu yang bukan siapa-siapa heboh sendiri, pakai protes-protes segala.” Kredibilitas film pun kian kokoh di hadapan calon konsumennya.

Sejak praproduksi sampai filmnya muncul di bioskop, memang tak henti-hentinya Andrea memuji visi sang sutradara. “Ini salah satu film yang paling mempesona yang pernah kusaksikan dalam hidupku,” kata Andrea. Lulusan S2 di Sorbonne, Prancis, itu malah mengaku sampai menangis saat menonton (ceritanya sendiri).

KETIGA: Secara Umum Filmnya Berkualitas

Tapi Andrea tidak sedang narsis. Yah, mungkin sedikit narsis, namun baik novel maupun filmnya memang mengharukan. Saya sendiri memperhatikan beberapa penonton di bioskop mengusap matanya setelah adegan-adegan tertentu.

Barangkali Anda tidak menangis. Tapi minimal mata Anda akan berkaca-kaca. Atau dada tiba-tiba terasa sesak, naik-turun, terbawa emosi menyaksikan perjuangan bocah-bocah lugu itu.

Meskipun begitu, Laskar Pelangi bukan sejenis film cengeng. Ini mengharukan yang inspiring, dan kadang-kadang lucu. Namun lucunya juga bukan lucu slapstik. Kocak, mengharukan, menginspirasi. Menurut saya, itulah salah satu kombinasi bumbu yang efektif untuk melariskan film.

Pemain-pemain (yang kebanyakan lokal Belitung) itu pun berdialog dengan natural, bahkan lebih natural dan luwes ketimbang pemain-pemain profesional di Ayat-ayat Cinta. Salut buat sang sutradara!

Mengarahkan anak-anak yang menonton bioskop pun konon tak pernah untuk bisa berakting seprima itu saya rasa bukan pekerjaan mudah, sekalipun bagi sutradara berjam terbang tinggi. Saya belum pernah benar-benar mengagumi karya-karya Riri Riza. Gie pun tak mampu menggetarkan saya. Namun Laskar Pelangi ini, oh ….

http://www.youtube.com/watch?v=9VXAqVag_MU

trailer film Laskar Pelangi

KEEMPAT: Tak Ada Film Pesaing yang Menonjol

Pesaing yang saya maksud adalah kompetitor langsung di bioskop yang sama. Karena ketika seseorang memutuskan menonton film di teater 1, kemungkinan besar film-film di teater lainnya tak ditontonnya. Mayoritas orang menonton satu film saja dalam sekali kunjungannya ke bioskop.

Maka sekarang, mari kita tengok film-film apa saja yang sedang diputar bersanding dan bersaing dengan Laskar Pelangi.

Dari Hollywood, ada Bangkok Dangerous (Nicolas Cage) dan The Eye (Jessica Alba) yang sudah masuk ujung lifecycle-nya. Sementara itu I Know Who Killed Me (Lindsay Lohan), Space Chimps (film animasi), Awake (Hayden Christensen) atau Rescue Dawn (Christian Bale) menurut saya (ini menurut saya lho) tak cukup greget. Begitu pula film supranatural China, Painted Skin (Donnie Yen).

Film-film Indonesia? Masih didominasi tema-tema komedi-dewasa atau drama percintaan. Pasar sudah masuk titik jenuh di sini, walaupun kita sama-sama tahu konsumen film di Indonesia lama jenuhnya. Genre Horor saja lama sekali kan sampai benar-benar ditinggalkan penonton Indonesia.

Namun coba deh bicara keunikan. Bandingkan film-film Indonesia yang sedang diputar saat ini. Laskar Pelangi mengambil tema yang berbeda: Persahabatan, pendidikan (tapi bukan dengan pendekatan yang klise), dan perjuangan. Lalu settingnya pun Belitung. Baru kan? Bukan Jakarta lagi, Jakarta lagi. Hoe, sineaaas … emangnye Indonesia ntu Jakarte doang?!

Film yang mengangkat budaya-budaya lokal begini biasanya juga lebih dihargai di festival, termasuk Academy Awards atau Cannes. Di mata saya, Laskar Pelangi sangat layak diajukan sebagai Best Foreign Language Film pada festival-festival internasional itu. Ah, produser Mira Lesmana pasti sudah tahu apa yang harus dilakukan.

Well, pada akhirnya, setujukah Anda dengan prediksi saya tentang kelarisan film ini?

83 Replies to “Empat Alasan Laskar Pelangi Seharusnya Mengalahkan Ayat-ayat Cinta”

  1. moonah

    piLem’a ba9uz c drpAda AaC,,,,,
    tapi LeBih eNak baCa noVeL’a drpAda nOnton piLem’a,,,
    coaL’a piLem’a aGak Lain……….. geTu ma noveL’a,
    aq baCa bUku’a mPe keTawa-keTiwi, takjUb, nanGis-nanGis,,,,
    piLem’a kUk t’keSan “mahaR” banGet,,
    trUz,,,,,,,,,
    pengGambaean keGeniuzan Lintang nDak daPet,
    keSan’a Lintang nTu biasa-biasa aja,
    keCewa dikiT ma piLem’a,
    maz Riri Lebih keRen waktu piLem GiE (munGkin kArna yaNg maEn nTu NicoLas sAputra ,,,,,,,,, (hehehehehehe) ^,~)
    tapi,,,,,
    LumayanLah drpAda piLem-piLem IndoNesia Lain yang kEbanyakaN ndak berMutu,,,,

    nTu unTung soundtrack’a nidji,,,
    sUmpah kEren banGet,,,,
    dEnger laGu’a aq pAzti mw nanGis,,,,,

    nTi kaLu Sang PemimPi dibUat piLem’a juga, yang kEren yach,,,,
    ^-^

    Reply
  2. Brahm

    Trims Lu_di, Moonah & Calvin. Kalau aku ya, Lintang malah lbh baik kalau dibiarkan spt di film. Soalnya kecerdasan Lintang yg di novel itu menurutku agak sulit dipercaya. Lintang asli pasti genius. Tp di jaman internet blm ada? Anak SD? Di desa kecil? Wawasannya bisa sedahsyat itu? Ah!

    Satu komentar melawan arus dari seorang penulis novel: LP pelangi film jauh lbh bagus dari novelnya. Hahaha, tp aku setuju, Vin. Meskipun nggak bisa kupungkiri, novelnya juga dahsyat. Ini ekranisasi yg brilian!

    Reply
  3. Calvin Michel Sidjaja

    saya yang jarang nonton film (apaalgi film Indonesia) saja mengatakan ini film bagus sekali, dan menurut saya wajib ditonton oleh semua orang Indonesia. Ada beberapa adegan dimana saya nyaris menangis, entah kenapa film ini malah jauuuuuh lebih bagus dari novel laskar pelanginya sendiri.

    Reply
  4. sari'sore

    laskar pelangi’ keren bgt udah nntn 2x!prtm sm pacar kdua brg keluarga dan qta smua kompak bilang bhw lp merupakan film yg sungguh menginspirasi kita..
    Mimpi milik smua manusia dan mimpi yg membwt qta brtahan tuk’ menghadapi tekanan hidup.nonton laskar pelangi membwt saya lbh menghargai hdp

    Reply
  5. amelia

    sy dah bc 3 novel dr tetralogi LP,smua bgs.filmnya jg ok.kisahnya sgt inspiratif.sy sprti kmbli mengenang ms kcl dlu,dlu khidupn n skolah sy jg g jauh bd dg yg dikisahkan pak cik ikal.hmpir sm.kami sm2 org miskin yg tggl jauh dipelosok.bedanya ikal dibelitong,sy dikalimantan. kata kuncinya, smua org brhak bermimpi dan meraih cita2nya tk pduli semiskin apapun dia.jgn prnh mnyerah.

    Reply
  6. Brahm

    Thx, Sari’sore & Amelia. Mimpi yg inspiratif, bukan mimpi2 kyk di sinetron. Inilah keunggulan utama LP. Dan satu lg yg aku suka dari LP, sekali lg, settingnya bukan di Jakarta. Jd kita tidak selalu berpikir Jakarta adalah satu2nya tempat mimpi. Siapapun berhak bermimpi. Dimanapun, sekalipun di bawah kolong sebuah desa pelosok.

    Reply
  7. DILBAG SINGH

    LASKAR PELANGI..
    MENURUT SAYA ADALAH FILM BERTEMA PENDIDIKAN YANG TERBAIK DI BANGSA INI..
    DI TENGAH KESULITAN BANGSA YANG KESULITAN UNTUK KELUAR DARI LINGKARAN KEMISKINAN..
    LASKAR PELANGI LAHIR DAN MENGINSPIRASI KITA SEMUA, UNTUK BEJUNAG KERAS UNTUK MENCAPAI KESUKSESAN, DENGAN SEGENAP PIKIRAN, KEMAUAN KERAS, DAN KETULUSAN, BUKAN KECURANGAN..
    DI TENGAH MARAK NYA FILM DAN SINETRON TENTANG SEKOLAHAN YANG BERTEMA PACARAN DAN SEKS, YANG HANYA MEMENTINGKAN RATING, YANG JUSTRU MERUSAK MORAL MENTALITAS ANAK REMAJA.. LASKAR PELANGI DATANG SEBAGAI HERO.. MENGINSPIRASI KITA SEMUA KHUSUSNYA PARA PELAJAR AGAR MENJADI RAJIN BELAJAR..
    SAYA SANGAT BERSYUKUR DAN BERTERIMA KASI KEPADA MAS ANDREA HIRATA.. SAYA YAKIN MASIH BANYAK ANDREA HIRATA LAIN DI PULAU PULAU LAIN DI INDONESIA……..
    TERIMA KASIH LASKAR PELANGI..

    Reply
  8. rivai

    Wah belum nonton uy…. Tunggu udah sepi aja ah.

    Hmm… kayanya ntar bakal banyak novel/film dengan tema serupa yang ikut2an deh. Kaya waktu AAC aja, BANYAAAAK banget novel yang ikut-ikutan. Parah, nggak kreatif, ketahuan komersilnya. Semoga aja dunia sastrar dan perfilman Indonesia bisa lebih bervariasi, nggak cuma pindah-pindah trend dan ikut arus aja.

    Reply
  9. Brahm

    Terima kasih komentarnya, Dilbag Singh, Tolong In (hahaha), & Rivai. Betul, kalau mau niru, mbok ya yg jauh lbh bagus, baru penonton akan memaafkan kepeniruannya itu. “Memanfaatkan” keluguan karakter2 bocah sebenarnya udah lama ada, LP bukan pelopornya. Tp LP kan jauh lbh baik.

    Reply
  10. lintah_darat

    Maaf … maaf, sepertinya sangat tidak adil membandingkan AAC dengan LP. AAC adalah novel tentang cinta dengan latar belakang pendidikan yg disajikan dengan selera KAMPUNGAN !!! Baik novel maupun filmnya, ampunnnn … kampungan abeshhh. Di lain pihak, LP adalah cerita tentang pendidikan dan perjuangan dengan setting KAMPUNG, cerita yg membuat para pembaca/pemirsa menjadi berkaca2 tanpa merasa menjadi cengen. Please deh ah … beda banget lah … !!

    Reply
  11. Brahm

    Mas Hanggono (Lintah_Darat), terima kasih sudah memberikan opininya di sini. Membandingkan AAC dg LP, kenapa tidak? Yg kubandingkan adalah aspek bisnisnya. Jd kuusahakan obyektif.

    Setiap karya punya kelebihan dan kekurangan masing2. Selama isinya tdk merusak bangsa, aku berpendapat kita wajib menghargai karya2 itu.

    Kamu benci AAC itu sah2 aja, kupikir itu krn kamu emang bukan segmen AAC. Tp kamu pasti nggak bisa memungkiri, AAC adalah fenomena dunia fiksi Indonesia yg luar biasa. Itu fakta! AAC jg menginspirasi (segmennya) dg caranya sendiri. Jd, ayo dong, kita apresiasi. Apa susahnya sih?

    Reply
  12. akina

    wah, laskar pelangi mah educated banget ^^, sampai nangis nontonnnya baca bukunya juga ^^, dari pengalaman lintang ke sekolah menambah semangat saya untuk menuntut ilmu yang saya cita2kan, perjuangan saya untuk menuntut ilmu lebih tinggi tidak penderitaan tidak sebanding dengan dengan perjuangan lintang, tapi hampir sama ^^, bedanya saya tidak ada buayanya…..hehehe…

    ganbatte ne …..majukan pendidikan indonesia ^^

    Reply
  13. nugraha

    Lam kenal bwt smua… Disinì qt jgn mencri kslhn stiaP subtansi tertentu.. Org yg crdas adlh org yg bs menyerap ilmu dri Sgla hal.. Baik dri sesuatu yg buruk.. Mwpun yg baik,”amblah ilmu mwpn cnth hdpn kdpn dri apa yg anda lht,anda baca cnthnya:novel mwpn film”okey..
    Qt jgn jdi bngsa yg mencela,tpi jd bngsa yg hbt.. Bngsa yg kreatif,kritis
    .

    Reply
  14. W@HYU

    tetep tow,yang bagus laskar p[elangi lah,yuh pkoknya suuueruu!!!!!!buanget,apalangi perjuangannya yang gigih tu nblo bikin terharu,snua tau klo laskar pelangi ispirasi bagi anak anak yang memiliki keterbatasan,baik uang fisik,maupun lainnya tp tetap semangat dan gagah berani menggapai mimpi,,bikin sediuh tp lucu jga………..eh…..5x.ayo smua tmen2 yang memikliki kekurangan jngan smpai p[utus asa,yakinlah pd dri dan cita2 yang tingi dan luhur….SEMANGAT DAN TERSENYUMLAH PD DUNIA

    Reply
  15. Miss Anton

    menarilah dan terus tertawa/walau dunia tak seindah surga/

    betul banget mas nidji… (loh nidji kan band ^^) kalau saya sih saya ngeliat dari segi musiknya…rasanya liriknya keren banget, mungkin bagi sebagian orang dengerin musiknya aja udah berkaca-kaca, hehehehe…..tapi (pasti lah ada tapinya) aransemennya kalo didengerin kurang bagus….biasa musik indo yang mementingkan lirik daripada musik, gehehehe…(maklum musisi, agak miring jadinya saya)

    wah, tapi kalo diliat dari pilemnya….saya tak bisa berkata-kata!!!

    meskipun saya bukan tipe orang yang tiba2 nangis di tengah nonton, tapi kok…..bisa sampe berkaca-kaca yah ngeliat LP? “Rasanya ada sesuatu yang mistis” dari filem ini, minjem kata2nya flo….hehehehe, KEREN BANGET POKOK’E!!!!!! KUDU DITONTON IKI!!!!

    Reply
  16. Brahm

    Thank u, Akina, Nanang Syaifudin, Nugraha, W@hyu & Miss Anton. Salam kenal juga. Rasanya ada sesuatu yg mistis dari film ini? Hahaha, kalau aku, rasanya tiap kali nonton/baca karya yg genah, memang selalu ada yg mistis di situ.

    Btw, aku setuju dg Nugraha, kita jangan jd bangsa yg mencela. Jangan jd bangsa kritikus!

    Reply
  17. ariez

    bukan se7 lagi,,
    klo bisa five thumbs up buat laskar pelangi.

    keren banget,

    jauh dari film yang menjunjung tinggi romansa,

    pokoke keren lah

    Reply
  18. diah

    saya berangkat nonton laskar pelangi dengan hati n pikiran stress krn skripsi saya yg macet n dosen pembimbing yg nyuekin saya. hati rasanya beraaaaaaaaaatttt bgt. 5 menit pertama mata sudah berkaca-kaca. trus selama film berlangsung emosi saya dibuat naik turun dg cerita dan akting pemain2nya yg natural sekali. sampai pd puncaknya saat lintang berheti sekolah, saya merasa ditampar. saya diingatkan, betapa saya sangat beruntung. betapa dunia ini indah dan harus disyukuri. dan masalah saya ini cuma sekelumit kecil saja dr perjalanan hidup saya dan ga akan membuat saya patah!! saya nangis sesenggukan disana. banjir, dan pastinya muka saya ancur bgd..
    sekarang saya mulai semangat lagi n mulai nykripsi lagi. SEMANGAD!!! kalo mulai lemah saya ingat2 lintang. ga pantas rasanya saya patah arang sementara lintang saja tabah. dan saya jadi semangat lagi ^^

    Reply
  19. eka

    duhhh..klo sya blng si ya, terlepas dr pemilihan pemain nya yg cocok bgd ama keren2 film LP kyknya ad yg kurang dehhh. tp ap ya dri kmren sya nyari tau, ato mungkin anti klimaks kali ya…yg pas adegan lintang mestinya di debat ama salah satu guru dari sekolah “elite”(lupa nama skolahnya he) yg jd saingannya malah gak ad d film itu. yahhh even d filmnya ada adegan lintang d tegur salah stu juri karena terlihat “mencurigakan” trus dengan santainya dy menjelaskan hnya melalui rentetan rumus..pdhl klo sja ada adegan perdebatan itu mka lintang dkk bkl menang dengan mnis bgtt dan bkal berasa geregetnya. ANW sya ttp jd a big fan of laskar2nya bu muslimah kok krena mraka luwarbiasaaaaa. no matter wht pokoknya..cuz sya terlanjur in luv ma mrkaa, yahhh terlepas dri kekurangannya (dri sudut pandang sya lho!) cerita yg d bkin andrea hirata tetep jd d biggest inspiration novel ever dehhh bwt sya.. apa ada next novelist yg lbh dahsyat? sya gk tauu dehh, tp yg psti sya tguuu bgd dgn tdk sbar 🙂

    Reply
  20. rie yanti

    Oya, Brahm. Andrea Hirata bukannya lulusan S2 SHU (Sheffield Hallam University). Di Sorbonne dia cuma numpang bikin riset. Di bukunya ditulis kayak gitu. Kok kamu bilang dia lulusan Sorbonne?
    BTW, komentar ttg laskar pelangi the movie banyak banget ya?!

    Reply
  21. Brahmanto Anindito Post author

    Thx, Eka. Kadang2 memang ada bagian di novel yg kita harap ada (dan detail), eh, sineasnya malah melewatinya. Tp secara keseluruhan kan tetap memuaskan adaptasinya.

    Waduh, Rie, aku belum baca novel2 Andrea Hirata setelah Laskar Pelangi. Jd, maaf kalau aku nggak tahu (melewatkan informasi itu). Tp pas aku browsing sebelum tulisan ini, aku dpt info: Dia ambil S2 di SHU dan Sorbonne. Nggak tahu deh kalau di Sorbonne cuma numpang riset. Btw, thx koreksinya.

    Reply
  22. denisa

    Setujuuuuuu…
    Gw udh baca seluruh tetraloginya LP, nonton filmnya 4x, dan gw ttp merasa film itu the best of the best seperti bukunya. The most powerful book. AAC… Novelnya the best siy, truss waktu awal nonton filmnya jg gw nangis bombay. Tp klo dibandingin sama LP…. KALAH JAUUUUUUUUUUH. Laskar Pelangi Numero Uno, takada duanya.

    Reply
  23. teja

    sepakat!!!
    secara linier memang begitu, tetapi secara isi saya ragu. memang ada motivasi tersendiri ketika membaca laskar pelangi, tetapi ada sebagian isinya yang menurut saya bertentangan dengan “logika fiksi”. saya seringkali merasa tidak tengah mengikuti alur berpikir seorangan bocah, tetapi pemikiran seorang mahasiswa S2 yang kemudian dipaksakan masuk dalam tubuh seorang bocah kecil.
    saya yakin kalau andrea herata mau mengikuti alur ini, novel laskar pelangi bisa bukan sekedar laku keras, memotivasi tetapi rasional.

    Reply
  24. Brahm

    Thanx, Denisa & Teja. Teja, u’ve got my vote! Aku jg merasa gitu pas pertama kali baca novel LP. Anak kecil kok bisa menganalisis tiap pengalamannya sedemikian detail, pdhl dia menggunakan “aku”. “Aku” di sana adalah anak kecil. Lagipula, kok bisa2nya “aku” blusukan (menggambarkan detail) ke rumah Lintang yg berkilo2 jauhnya, sesuatu yg baru masuk akal bila ceritanya bersudut pandang “dia”.

    Tp Andrea Hirata selalu mengatakan ini memoar. Sastra yg bisa dipoles dg fiksi di sana-sini. LP bukan biografi murni. Lagipula dia nulis pengalaman itu dg sudut pandang saat dia dewasa. Shg wajar kata2nya analitis dan puitis gitu.

    Kalau LP ditulis bnr2 dari kacamata anak kecil, rasanya isi novel LP takkan jd sekaya ini.

    Reply
  25. Adi

    Seneng baca thread LP ini, walau sudah lama stop. Kalau aku rada beda kesan dgn temen2 di sini. LP the movie lebih cocok utk konsumsi anak2, sedang novel LP utk usia SMP ke atas. Kalau ditanya bagus mana antara novel dgn filmnya, aku jauh lebih terkesan dgn novelnya (karena bukan anak2 kali ya).

    Novel LP tidak hanya bercerita tentang perjuangan 10 anak Belitong, tapi juga tentang ‘pengantar populer’ biologi-taksonomi, juga fisika-matematika. Di sana juga ada tentang antropologi, psikologi, mitologi, metafisika, dll. Tentunya juga tentang religi & pendidikan. Pokoknya komplit dah.

    Kisah tentang Bodenga & burung pelintang pulau keren abis. Dan itu nggak bisa dinikmati di filmnya ….

    Reply
  26. linda

    saya sendiri hampir tak percaya bahwa telah hampir 10 kali menonton filmnya, hal yang seumur hidup tidak pernah saya lakukan karena saya berfikir menonton sama saja dengan membuang waktu, termasuk aadc, gie, titanic, ayat2cinta, kcb, semua hanya satu kali tonton. sangat alami baik dari fisik tokoh dan dialog, membumi, lucu, menghibur, memberi makna yang dalam.

    Reply
  27. linda

    pertama kali bisa nonton film berulang2 hampir 10 kali nonton, hal yang belum pernah terjadi dlm hidup:) dan dasyatnya kok gak bosen ya…??? selain tokohnya alami, dialognya juga sederhana tapi mengena, pesannya sampai, lucu+geli ngeliat ulah anak2nya. kalau novelnya, masih sering juga bolak balik novelnya en nemuin hal baru lagi, mungkin ini yang kata andrea banyak posibility, dalam satu bab aja banyak kejadian/peristiwa yang dapat membentuk cerita baru. karena itu jadi tidak membosankan.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.