Demi Kritik, Ego Penulis Harus Masuk Peti Es

By: Mochammad Asrori

Sudah menjadi pakem bagi seorang penulis yang baru menelurkan novel untuk mencari pembaca sekaligus kritikus bagi karyanya. Proses ini memang tidak wajib, namun bisa dibilang semua penulis besar yang melahirkan karya-karya bestseller melakukannya. Sebut saja Kang Abik yang harus menyodorkan naskah novel Ayat-Ayat Cinta ke banyak pihak, seperti Prie GS, Ahmad Tohari, dan pentolan-pentolan Forum Lingkar Pena.

Seorang Stephen King saja mengaku, selain istrinya, dia memiliki daftar pembaca awal bagi karya-karyanya yang barusan dibubuhi kata “TAMAT”. Ini dilakukan untuk mengukur apakah karyanya mengena tepat seperti apa yang diharapannya atau tidak. Setiap penulis memang sebaiknya memiliki feedback system sendiri, suatu mekanisme untuk menguji sejauh mana karyanya diterima publik.

Mekanismenya dapat penulis atur sendiri seefektif mungkin. Misalnya setelah selesai naskah pertama, dia mencari 6-10 orang yang memiliki latar belakang berbeda, untuk ditodong membaca dan dimintai input. Nah, input ini akan menjadi bahan untuk mengkaji perlunya revisi. Jika memang perlu revisi, maka ini akan menjadi naskah kedua. Setelah naskah kedua kelar, penulis melakukan hal yang sama seperti pada naskah pertama. Jika dilakukan secara konsisten dan serius, cara ini akan efektif untuk mengetahui reaksi orang-orang sebagai cerminan pasar jika buku tersebut kelak terbit.

Tapi jangan pernah berharap novel yang disodorkan akan mendapat puji-pujian. Jarang sekali seorang kritikus mau berbaik hati mengelu-elukan sebuah karya, kecuali jika karya tersebut benar-benar memukau. Semua kritikus berdarah dingin, walau kapasitasnya sebagai teman sendiri. Jika jelek mereka akan mengatakan jelek.

Ya harapannya tentu saja tidak sekedar bilang jelek. Pembaca sekaligus kritikus tersebut wajib menyertakan alasan-alasan yang mendukung pendapatnya, termasuk mengajukan solusi yang menurut mereka paling baik. Inilah fungsi mereka. Sebab kalau cuma membaca terus mengkritik, dan ini memang kadang terjadi, itu namanya sekedar “nebeng bacaan”!

Bagaimanapun terkadang penulis sendirilah yang memiliki ego kelewat besar, sehingga mereka enggan menerima masukan. Penulis pemula, misalnya, sering terjangkit virus figure blind. Setelah menghabiskan ratusan jam merangkai kata, penulis menjadi subyektif terhadap karyanya dan cenderung tidak mampu melihat kekurangan. Dia merasa karya pertamanya adalah mahakarya tanpa cacat. Sulit sekali bagi mereka untuk menelan komentar bahwa karyanya belum layak terbit. Apalagi jika disertai daftar lengkap masukan-masukan, semakin sewotlah mereka.

Jadi begini saja kesepakatannya, menurut saya: Kita mendaftar hanya orang-orang yang (diperkirakan) kita merasa nyaman mendengar/membaca kritikan-kritikan pedasnya. Tidak peduli mereka akrab dengan sastra atau tidak (tapi pastikan mereka memang termasuk segmen dari karya kita, karena ini penting). Setelah itu, jangan tersinggung terhadap apapun yang meluncur dari bibirnya. Toh keputusan mengeksekusi cerita (gaya tutur-tokoh-alur-konflik-solusi) tetap di tangan kita, ya to?

Tahukah Anda, pembaca pertama memiliki kejelian yang lebih baik dalam menangkap sense cerita. Itulah mengapa penting sekali untuk memintanya berkomentar. Sementara itu, kita sebagai penulis harus mampu mengalahkan ego. Lebih baik dibantai selagi masih berbentuk naskah ketimbang setelah jadi buku.

Adhitya Mulya, penulis Jomblo, mengalami tiga kali penolakan oleh dua penerbit, sebelum diterbitkan oleh GagasMedia. Dia secara pribadi bersyukur telah mengalami penolakan, karena pada tiap penolakan editor penerbit-penerbit tersebut memberinya masukan terhadap kelemahan yang selama itu tidak disadarinya.

Lantas mungkin ada pertanyaan, ”Mana ada yang mau membaca naskah novel karya pemula seperti saya? Mana tebal lagi! Hanya berbekal ucapan thanks, rasanya tidak beradab banget. Minimal harus traktir makan mereka satu-satu.”

Hahaha, itulah perlunya membangun relasi. Dalam skala yang lebih sederhana yaitu dengan bergabung dengan sebuah komunitas menulis. Kita tidak perlu sungkan, karena toh pasti semua akan berlaku serupa nantinya, karena tiap anggota pasti punya ambisi menelurkan karya.

Penulis juga harus kritis terhadap diri sendiri. Sering-seringlah membaca ulang naskah dari awal dengan memosisikan diri sebagai orang luar yang obyektif. Saya rasa, setelah menulis 3-4 buku dengan cara ini, seorang penulis akan sadar sendiri dan mengkaji tulisan sendiri dengan lebih obyektif.

13 Replies to “Demi Kritik, Ego Penulis Harus Masuk Peti Es”

  1. ericbdg

    Terus terang, saya juga melakukan hal itu kok. Tapi jika ada orang lain yang meminta tolong dibacakan naskahnya… saya engga sanggup.. mungkin karena tidak semua penulis bisa jadi editor, dan tidak semua editor bisa jadi penulis ya?

    Reply
  2. Andika

    “Setelah menghabiskan ratusan jam merangkai kata, penulis menjadi subyektif terhadap karyanya dan cenderung tidak mampu melihat kekurangan.”

    Hm, betul banget. Lebih baik lagi kalau, tanpa mengurangi obyektivitas, proofreaders sadar penuh bahwa penulis pemula sudah menghabiskan ratusan jam. Dengan begitu mereka bisa menghargai karya dengan memberikan saran yang betul-betul membangun. Sekalipun tulisannya jelek kan bisa dikritik dengan cara yang halus. Bukannya setiap usaha untuk menulis selalu perlu dukungan? Menurutku juga it’s nice kalau selain memberikan masukan proofreaders juga menanyakan bagaimana proses kreatif penulis pemula. Walaupun nggak praktis, barangkali akar permasalahan naskah bisa ditulusuri dengan meneliti proses kreatif penulis. Jadi ada interaksi dua arah antara pengritik dan yang dikritik. Hahaha, berdasarkan pengalamanku dikritik oleh Septina Ferniati.

    Reply
  3. Rori

    Trims buat Erick dan Andika. Erick, tapi kalau karyanya komik, biasanya tidak sulit cari pembaca awal kan? Apalagi buat komik-komik lucu seperti karya Anda, pasti banyak yang ngantri baca, hehehe.

    Tidak semua penulis itu editor, memang. Tapi biasanya tiap penulis adalah pelahap bacaan yang kuat. Sebagai pelahap bacaan, saya rasa akan ada saja sisi yang menurutnya tidak pas dan perlu untuk dibenahi. Secara tidak sadar, sedikit banyak, bukankah ini juga kerja editor? Bagaimanapun caranya hadir, sebuah kritikan pastilah bertendensi baik Jika amat pedas, yah gak perlu diambil hati. Yang penting karya kita tersempurnakan, ya to?

    Reply
  4. Calvin Michel Sidjaja

    wah saya malah selalu parno dengan karya yang saya buat. Saya sudah membuat tiga novel (walau jukstaposisi yang pertama kali diterbitkan) dan saya mendapat banyak kritik dari pembaca, tapi memang hal itu mutlak diperlukan agar kita bisa mengetahui kekurangan dan kelebihan kita.

    apakah kita sudah terjebak dalam pola plot yang itu-itu saja? diksi yang repetitif? Jurang klise? cerita yang kayanya bisa dibikin bahkan tanpa mikir?

    Saya takut karya saya sama dengan orang lain, makanya saya selalu mengprintnya dan meminta pendapat teman-teman, dan saya selalu meminta kritik pedas dan menanyakan, sudah cukup unik?

    Yang membuat saya khawatir adalah kalau ceritanya menggunakan formula yang tidak banyak digunakan novel kebanyakan sehingga malah-malah takut tidak disukai karena konsepnya terlalu asing.

    Reply
  5. Rori

    Trims Mas Calvin buat ikut berbagi di postingan ini. Menarik sekali ketika Mas Calvin bilang “formula yang tidak banyak digunakan malah membuat takut tidak disukai karena terlalu asing.” Rasanya menjadi suatu dilema juga. Tapi konsep baru bagaimanapun layak untuk diperjuangkan kehadirannya, yang asing toh tidak selamanya asing kan….

    Reply
  6. ericbdg

    Iya, betul, Rori, malah ada peluang karya tersebut bisa jadi “cult”, seperti Film Pulp Fiction dengan gaya penuturan non linear, yang kini mulain banyak diikuti.

    Reply
  7. Rori

    Yah, selalu ada awal dari suatu terobosan. Yang susah memang yang pertama-tama berinovasi. Tp setelah inovasinya jadi tren, pelopor inilah yang akan dicatat sebagai pelopor. Ini hukum alam 😛

    Reply
  8. wanda

    Hehehe…Saya masih menyimpan bukti-bukti penolakan dari berbagai pihak (media nasional) atas karya-karya saya yang saya ajukan pada mereka. Kalau diarsipkan dengan rapi, sudah bisa jadi buku antologi “Penolakan”, tuh.
    Memang sih, setelah beberapa lama dan hampir melupakan apa yang pernah saya tulis, saya malah suka malu sendiri membaca tulisan-tulisan saya. Hihihi… pantas saja ditolak, soalnya kurang logis-lah, jalan ceritanya terlalu sederhana-lah dan lain-lain. Yah, semacam otokritik karena saat itu saya sudah lebih obyektif dalam menilai karya saya sendiri.
    Saya selalu mencoba melakukan apa yang tidak banyak dilakukan oleh orang lain. Misalnya, tidak sering-sering mengangkat tema cinta dan sebagainya yang sudah banyak ditulis. Maunya sih, bikin novel thriller atau detektif kayak Davinci Code dan Hardy Boys. Tapi jadinya malah kayak cerita ‘cinta-cintaan’ lagi. Yang penting usaha deh, dan jangan gengsi menertawakan kelemahan kita sendiri…

    Reply
  9. tedisiswoko

    “Bagaimanapun terkadang penulis sendirilah yang memiliki ego kelewat besar, sehingga mereka enggan menerima masukan. Penulis pemula, misalnya, sering terjangkit virus figure blind. Setelah menghabiskan ratusan jam merangkai kata, penulis menjadi subyektif terhadap karyanya dan cenderung tidak mampu melihat kekurangan. Dia merasa karya pertamanya adalah mahakarya tanpa cacat. Sulit sekali bagi mereka untuk menelan komentar bahwa karyanya belum layak terbit. Apalagi jika disertai daftar lengkap masukan-masukan, semakin sewotlah mereka.”
    maaf nih mas mo komen sbg penulis pemula……
    aku justru sulit cari orang yang mo kritik sepedas-pedasnya.
    kalau naskah aku minta baca oleh teman, si teman pasti bilang baik-baik saja.
    kalau naskah aku minta baca oleh penulis senior, mereka pada sibuk dan gak punya waktu.
    kalau naskah aku minta baca oleh editor penerbit, mereka cuma komen maaf naskah anda tidak sesuai kriteria kami atau tidak sesuai pasar.
    segitu saja. terima kasih.

    Reply
  10. Rori

    Kita semua juga masih belajar kok, Michelle. Buat Tedi, mencari pengkritik genah memang sulit-sulit gampang. Yang mudah, kalau sudah terkenal, banyak kritikus yang niscaya akan berebutan mengkritik, kalau perlu habis-habisan.

    Reply
  11. Villam

    artikel yang bagus, mas.
    dan benar, untuk mendapatkan kritikus yang benar-benar bisa dipercaya, kita harus masuk ke sebuah komunitas penulis dan mengenali siapa-siapa di antara mereka yang paling kejam dan bisa menilai dari berbagai sudut, bukan yang lemah lembek dan hanya gemar memberi pujian sebagai seorang pembaca.

    sejauh ini saya sudah bisa menjalin relasi dengan beberapa orang yang bisa saya percayai. tapi tetap saja, sampai kapan pun waktu akan tetap menjadi kendala. walaupun relasi sudah terbentuk, belum tentu kita semua bisa menyediakan waktu untuk membaca dan mengritik secara detil (bukan membaca sambil lalu dan memberi komentar ala kadarnya) karya-karya rekan yang lain.

    pada akhirnya, kita tetap harus kembali pada diri kita sendiri. memperbaiki kualitas kita, dan membuat kita kejam pada diri sendiri. seringkali sebenarnya kita sudah tahu kelemahan2 pada karya kita, tapi kita terlalu malas untuk mengubahnya.

    terima kasih atas artikelnya, mas.
    salam.

    Reply
  12. Rori

    Terima kasih. Yah, saya setuju. Kita bukan sedang mencari pujian, tapi kelemahan-kelemahan karya kita.

    Memang sulit mendapatkan orang yang bersedia mereview draft kita. Makanya pertahankan hubungan dengan sesama penulis/pembaca. Itu ada seninya sendiri. Ya kan, Mas Villam?

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge