Darimana Penulis Fiksi Cari Makan

Fiction writer

From where is a fiction writer making a living? Here is some possibility.

  1. Book authoring. A novel writing, for instance. What I like about book is the royalty system which enables us receiving passive income. A novelist is also the most independent fiction writer. There is only you and your alter ego when writing.
  2. Scriptwriting. This activity can be so selfish and personal as well. But you must get used to work in team, with cast and crew of film, or comic artist, or whoever else. Usually, scriptwriter is attached to contract (to write certain episodes in a month, for example). So the cash flow will be more convinced than if you write a book.
  3. Copywriting. A copywriter writes the words that sell, e.g. advertisement, brochure, press release, annual report, radio commercial, etc. Companies spend a fortune on promoting, it is great investment! That is why these companies will pay a writer who knows how to make an influential story.
  4. Ghostwriting. A ghostwriter writes on an assigned topic under the name of someone else, certainly with their consent. S/he writes (usually books) completely from scratch, but sometimes only rewrite or polish an existing work.

* * *

Tulisan ini berangkat dari pertanyaan klasik yang dulu saya sering tanyakan, dan sekarang gantian saya yang sering ditanyai, “Bisakah kita hidup layak dari menulis fiksi?” Pertanyaan klise, jawabnya pun harus klise dong: “bisa” dan “tergantung”.

Sama seperti profesi lain, menulis fiksi bisa ditekuni secara purna waktu atau disambi-sambi. Purna waktu?! Bukankah banyak penulis fiksi yang melarat? Ya, namun ada pula yang kaya. Atau kaya raya, bahkan. Seperti J.K. Rowling, Stephen King, Stephanie Meyer, Kang Abik, dan sederet nama lainnya.

Kaya atau miskin itu tergantung usaha manusianya. Dokter atau sarjana IT saja banyak kok yang menganggur, atau digaji pas-pasan. Beberapa kemudian menekuni profesi lain, misalnya ikut MLM atau jadi penyanyi.

Penulis fiksi pun punya rentang yang panjang tentang kemakmuran hidup. Melarat sampai kaya raya. Anda pilih yang mana? Mau bermimpi, boleh.

Realistis, silakan. Jika Anda merasa menulis fiksi ternyata tidak bisa mencapai target-target finansial Anda, ya mungkin memang bukan itu sumber rejeki utama Anda. Maka jadikan saja menulis sebagai kegiatan paruh waktu.

Melalui tulisan ini, ijinkan saya memberikan gambaran sekilas dari mana saja penulis fiksi berpotensi memperoleh duit. Silakan bila Anda ingin menambahkan sesuatu. Diskusi selalu terbuka di Warung Fiksi. By the way, syarat menekuni empat aktivitas ini selalu sama:

  • Bisa menulis (mengonsep) secara komunikatif.
  • Berwawasan luas, setidaknya selalu up date untuk topik-topik tertentu.
  • Paham karakteristik medianya (apakah itu visual gambar, visual tulis, audio, atau audio visual).

Dari keempat aktivitas di bawah ini, makin ke bawah, makin Anda kehilangan hak (cipta) terhadap karya Anda sendiri. Namun kabar baiknya, biasanya Anda dibayar lebih baik, lebih kontinyu dan lebih pasti semakin ke bawah.

Mengarang Buku

Sudah jelas, rasanya. Inilah penulis fiksi yang paling merdeka. Di sinilah tempat memuaskan hasrat-hasrat egoisme Anda. Karena sewaktu menulis novel hanya ada Anda dan alter ego Anda. Anda boleh berkhayal bisa menjadi Andrea Hirata berikutnya.

Tapi jangan sedih ya, statistik membuktikan, kebanyakan penulis novel jarang sekali ada yang bisa mencapai tahap itu. Sehingga strategi umumnya agar hidup layak adalah terus produktif. Penghasilan sedikit kalau berkali-kali juga bakal jadi penghasilan yang banyak kan? Ini logika the long tail, masih ingat?

Yang menarik dari novel, di mata saya, adalah royaltinya. Tidak peduli banyak atau sedikit, sistem ini memungkinkan kita memiliki penghasilan pasif bak investor.

Menulis Skenario

Sama seperti penulis novel, kegiatan ini juga bisa sangat egois dan personal. Tapi aktivitasnya sudah berhubungan dengan banyak orang. Penulis skenario film berhubungan dengan pemain dan kru film, penulis skenario komik dengan komikus penggambar, penulis skenario radio dengan orang-orang radio, dst.

Misalnya, René Goscinny yang bekerja sama dengan para tukang gambar komik. Kolaborasinya antara lain menghasilkan Asterix (setting Prancis dan beberapa negara di tahun 50 SM), Lucky Luke (Amerika Serikat wild-wild west), Iznogoud (Irak lama di jaman kalifah fiktif Harun Al Poussah), dan puluhan lainnya. Goscinny sendiri kurang piawai menggambar. Dia hanya modal imajinasi, wawasan luas akan budaya-budaya di dunia, serta selera humor.

Masih juga untung-untungan di sini, apakah karya Anda nanti laris di pasar atau tidak. Persis novel. Tapi penulis skenario biasanya terlibat dalam kontrak (menggarap beberapa karya sekaligus) dan bayarannya flat. Sehingga kepastian dapat uang lebih bagus di sini ketimbang di novel.

Copywriting

Copywriter alias penulis komersial merangkai kata untuk menjual sesuatu dan membangun image pihak tertentu. Seperti iklan, brosur, advetorial, rilis pers, company profile, annual report, dsb. Itu semua berdasarkan data riil. Tapi diperlukan kelenturan gaya tutur pengarang fiksi untuk menyampaikannya.

Seorang balita dengan girang berlari sambil berkata tak jelas, “Ooo ma ma ….” Sang ibu yang ge-er segera membuka lengannya menyambut buah hatinya itu. Ternyata si balita melewatinya begitu saja. Ibunya kaget bukan kepalang. Eh, ternyata anak itu bukan menyambutnya, melainkan menyambut (tiruan) Obama. Sang ibu ternganga, lalu tiba-tiba seseorang memasukkan biskuit ke mulutnya. Muncullah kata-kata jualan (copy) dari biskuit itu. Ini apa namanya kalau bukan fiksi?

Rasa Coca Cola dan coke-coke lain mungkin sama. Ya gitu itu kesegarannya. Namun Coca Cola menciptakan sensasi “Brrrr ….” lewat iklan-iklannya untuk membedakannya dengan kompetitor. Padahal kita juga bisa “brrr” dengan Pepsi kan? Ini contoh permainan komunikasi. Diperlukan imajinasi khas pengarang fiksi untuk menciptakannya. Perusahaan-perusahaan komersial selalu membutuhkan copywriter untuk memastikan kampanyenya (yang tak pernah murah itu) berefek pada khalayak.

Ghostwriting

Dinamakan “ghost” lantaran dia mengerjakan proyek penulisan (biasanya buku) tapi nama orangnya sendiri tak kelihatan. Yang tampak di karya itu adalah nama kliennya. Ghostwriter atau penulis bayangan terkadang menulis dari nol, tapi bisa juga hanya menulis ulang karya yang buruk dari seorang klien.

Jadi bila Anda melihat seorang selebritis atau politikus yang tidak berlatar belakang penulis, tiba-tiba meluncurkan buku karangannya, maka kemungkinan adalah buku itu ditulis seorang (atau tim) ghostwriter. Namun kita tidak pernah bisa membuktikan ini, karena baik sang klien maupun ghostwriter biasanya sama-sama sepakat untuk tutup mulut.

Lho, memangnya ghostwriting itu ilegal sampai harus sembunyi-sembunyi begini? Tidak juga, ini hanya masalah gengsi. Menulis adalah kegiatan intelektual. Image seorang tokoh pasti tambah bagus ketika penggemarnya tahu dia juga mampu menulis.

Di lain kutub, beberapa orang menuding ghostwriter sebagai pelacur intelektual. Saya sih tidak sependapat. Ghostwriting menurut saya etis-etis saja. Seorang ghostwriter kan hanya menjual ketrampilan menulisnya. Sementara ide, opini, cerita, dan pengalaman yang tertulis, semuanya dari klien. Sang ghostwriter hanya menggalinya (misal lewat wawancara atau pengumpulan data) dan membantu menulisnya. Jadi secara moral, ini memang karya si klien.

* * *

Oh ya, sebenarnya empat aktivitas di atas bukan monopoli pengarang fiksi. Tapi karena ini Warung Fiksi, saya sengaja mengeliminasi hal-hal yang tidak berkaitan dengan fiksi.

Masing-masing cara memperoleh uang tersebut ada kekurangan dan kelebihan. Yang terpenting, jika Anda memutuskan mencari sesuap nasi dari dunia penulisan fiksi, carilah cara yang paling sesuai dengan karakter Anda. [Thanks to Trine de Florie for the photo]

28 Replies to “Darimana Penulis Fiksi Cari Makan”

  1. pasha

    Jadi yang pertama lagi… Ngomong-ngomong soal copywriting, iklan wafer yang ada Obama-nya (juga iklan minyak goreng) kayaknya iklan paling… paling… ah, bingung mo bilang apa. Aneh aja kalo seorang presiden (sekalipun hanya tiruannya) dijadikan bagian dari kampanye seperti itu. Jadi inget iklan HP jaman dulu, ada orang mirip Bill Clinton, sambil selonjoran main game di HP-nya. Lucu sih, tapi… Hehehe, saya mungkin orang yang kaku, tapi jualan orang beken buat kampanye sebuah produk, kayaknya gimana ya… Mirip orang yang ga pede sama dirinya sendiri (loh, kok jadi ngomongin saya ya?).
    Brahm, saya kembaliiii…!!!

    Reply
  2. Brahmanto Anindito Post author

    Thanks Nia & Pasha. Komen pertama atau nggak pertama nggak ada bedanya mah, pasti kubaca dan kutanggapi. *berlagak sok bijak*

    Yah namanya aja ghost, Nia. Sebagian orang bisa lihat jls. Tp kebanyakan sih nggak bisa lihat kalau dia eksis.

    Selamat datang kembali, Pasha! Hehehe …. Ya kan yg diambil emang lucunya aja. Selalu penting bg produsen (maupun pembuat iklan) utk menjadikan iklannya eye catching shg bisa diingat pemirsa dlm jangka panjang. Krn nantinya iklan yg berkesan sedikit-banyak berpengaruh pd keputusan membeli.

    Soal orang beken yg jd modelnya, rasanya di masyarakat kita msh penting deh. Aku sendiri nggak enjoy dg fakta itu. Aku suka iklan wafer itu bukan krn Obamanya. Tp konsep kreatifnya yg menurutku bagus. Btw, banyak jg kan iklan yg pakai seabrek tokoh tp konsep kreatifnya payah. Hanya testimoni2 garing di depan kamera. Huh.

    Reply
  3. Rie

    Dari mana penulis cari makan? Ya, dr perut, dong. Kalo udah kerasa lapar, baru cari makan hehehe (nggak nyambung, ya? Kayaknya nggak berbakat jd kopiwraiter, deh).

    Hiii… serem! Ghostwriting itu yg nulis cerita2 ttg hantu, ya?

    Reply
  4. Aleena

    Artikelnya sangat informatif. Tapi Kurang lengkap dikit, nih, Bram. Bagaimana dg cerpenis? Atau sebagaima yang aku lakuin, jadi pemburu hadiah lomba-lomba menulis?

    Oya, trus posisi Content Writer dimana, ya?

    Reply
  5. Brahmanto Anindito Post author

    Thanks, Ahmad Nahwi & Aleena. Cerpenis & pemburu hadiah? Iya ya, aku kok nggak mikir ke sana ya. Trims sekali lg, Aleena. Tp dua2nya sepertinya lbh nggak pasti perolehannya.

    Content writer? Berhubung kyk wartawan, isi content writing kan jarang fiksi, jd ya nggak kumasukkan ke daftar atas. Tp kalau dipaksakan sih, menurutku, masuk copywriter. Kan job desk-nya ngisi2 materi di situs atau materi utk mobile content.

    Reply
  6. pasha

    Yah, marilah kita berdoa bersama, semoga orang-orang yang cari makan dari keterampilan menulis bisa terus makan, minum, tidur dan lain-lain dengan sentosa. Jadi, ga ada lagi cerita soal penulis dengan asap rokok yang ga sehat dan ga berduit. Amiiin!

    Reply
  7. Brahm

    Thanks Geze & Pasha. Well I think an editor isn’t a writer. An editor looks like a consultant to me. S/he just edits the content (sometime corrects the words), not writes one.

    Wah, tentu saja penulis lbh dari sekadar bisa kalau cuma buat makan, minum, tidur dan kebutuhan2 sederhana semacam itu. Penulis dg asap rokok? Wkwkwkwk, jadul banget sih.

    Reply
  8. rie

    Oke, oke. Ini serius! *ngalah*

    Aku bukan penulis dgn asep rokok, tapi asep pembakaran sate (msh nggak serius, ya?)

    Ini baru serius. Mau nanya: Bener, nggak, sih, di mancanegara sana profesi penulis memiliki kedudukan yg setara dgn profesi lain seperti dokter atau lawyer? Maksudku, penulis merupakan profesi yg bergengsi, gitu. Di Indonesia nggak banget, ya? Payaaah… (serius, kan?)

    Reply
  9. Pradna

    @rie:
    iyah…masih memimpikan di pilihan profesi buwat KTP ada pilihan : Penulis atau kl ndak Blogger 😀

    Tp kl dah terlanjur di usia produktip, ngejar mimpi jd penulis ma tuntutan perut…saling kejar2an tuh. 1 berusaha mengalahkan yang lain…tp biasanya perut sedikit lebih unggul dari hati 😀

    Reply
  10. pasha

    Kalo mo di-setara-setara-in juga boleh…
    Tapi bener juga kata rie. Guru menulis saya pernah bilang, jadi penulis skenario (cerita) di Indonesia (umumnya) kaga dianggep sama produser ato PH. Kedudukan penulis jauh lebih lemah daripada PH. Katanya sih…

    Reply
  11. sandeq

    Sebenarnya bukan hanya di Indonesia. Di negara semapan AS pun, profesi penulis (barangkali) juga bukan profesi yang setara dengan–katakanlah–pengacara. Soalnya, hak-hak penulis juga bisa kurang diperhatikan. Misalnya waktu para penulis naskah berdemo, menuntut pembagian keuntungan yang lebih baik dll. Sampai2 Oscar waktu itu terancam batal.

    Untuk Pasha sayang… Kalau menulis alamat blog jangan salah2 melulu. Kalau kamu masih di wufi dan melihat pesan ini, buka FB-mu sekarang.

    Terima kasih Wufi….

    Reply
  12. Brahmanto Anindito Post author

    Tentu setara, Rie. Itu yg aku alami sendiri sih. Tp, memang kalau mau dilihat scr obyektif, rata2 penulis dibayar lbh rendah. Meski perannya vital.

    Lihat kasus Writer’s Guild Amerika. Serikat penulis menuntut hak2nya ditambah krn karyanya laku pula di media lain (spt DVD atau lwt internet). Gitu ya, Sandeq? Sampai2 perhelatan Oscar terancam batal, gara2 pemboikotan penulis ini.

    Ternyata banyak aktor/aktris sono yg mendukung demo itu. Solidaritas, katanya. Tp sekaligus kekahawatiran. Krn, bagaimanapun, toh lama2 mrk nggak bakal bisa makan kalau nggak ada suplai naskah dari penulis.

    Aku pernah tahu, entah di Oscar atau Golden Globe ya, sebelum ada ribut2 itu, aktris sekelas Nicole Kidman memuji profesi ini, “Yg kalian lakukan itu fantastis. Ayo, ciptakan cerita2 hebat lagi buat kami.” Pd intinya, siapapun sadar fungsi penulis.

    Di sana pun jd penulis (industri, bukan seniman) bisa makmur. Di sini? PH dan produser nggak nganggep penulis ya, Pasha? Nggak heran lah. Lihat aja akibatnya. Lihat aja kualitas cerita sinetron dan film kita. Ada harga ada rupa.

    Kalau boleh menyarankan, Rie. Seseorang menulis (fiksi) itu kan lewat dua cara: industri dan seniman. Nah, jgn pilih salah satunya. Lakukan dua2nya! Krn yg satu kasih kepastian income. Yg satu kasih harapan (bahwa suatu saat karya kita akan meledak).

    Ngopi omongannya Pradna: perut & hati. Dua2nya memang kejar2an. Tp mrk bisa rukun kok. Perut dan hati tidak saling meniadakan. Tp saling mendukung. *ay, ay, ay, sok bijak lagi*

    Anyway, thanks semuanya!

    Reply
  13. rie

    Thanks juga buat semuanya… Satu pertanyaan kecil ternyata bisa bikin keramaian kayak di pasar, ya? Ck, ck, ck… Ya udah kalo gitu. Kita stop ngoceh. Kerja. Berkarya!

    Reply
  14. Dini

    Met kenal sblmnya mas Brahm…..
    Ikutan dong…….hehehe….ikutan ngintip inf2nya….bloe kan…?… kebetulan saya lg coba2 nulis cerita fiksi….tapi g tau mo coba dikirim kmana y…? bs dapet inf g…..thx…sbelumnya

    Dini

    Reply
  15. n-Ry

    baru tau ada ghostwriting 😀
    Saya pengen jd penulis n menerbitkan karya saya.
    skrg lg belajar menulis n terus bljr.
    kunjungi blog saya ya n liat karya2 saya.
    thx. nice article 🙂

    Reply
  16. Kristin

    Mas Brahm, senang sekali membaca konsep konsep tulisanmu,warung fiksi ini menambah wawasan saya. Saya oma-oma yang nggak mau ketinggalan dengan anak muda. saya juga pingin jadi penulis fiksi, boleh kan nimbrung nimbrung di warung fiksi ini.
    Barangkali,karena untuk menulis fiksi referensinya sedikit, kayanya kalau ngikut resek disini banyak hal unt jadi referensi,

    Reply
  17. Brahmanto Anindito Post author

    Terima kasih, Bu Kristin. Tentu boleh, menulis kan pekerjaan yg tak pandang usia. Anak umur 10 th bisa menjadi kompetitor penulis umur 50 th. Penulis 70 th bisa memecundangi penulis 30 th. Dunia tulis memang berbasis kualitas produk, nggak spt di dunia showbiz atau (mungkin) olahraga. Saya tunggu gebrakannya, Bu Kristin 🙂

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.