Content is King

Content is kingIt’s an old saying that’s more and more proved true nowadays. But in this era of “copy-paste”, there are a lot of kings, I think. The content deluge is not beyond, it’s already here! They use content for marketing or self expression. The top companies have active blogs. Suddenly, every netizen is content writer. Spam and crap is everywhere. But do we need to worry that our king is sinking? No. As long as we focus on creating great, inline ones, we definitely don’t need to worry anything.

* * *

Di livetweet Rahasia Sunyi beberapa hari lalu, ada pertanyaan dari @naui_sesang_ tentang kendala-kendala copywriting. Mungkin OOT, tapi pertanyaannya menarik juga. Kita tahu, di era industri dan digital ini, penulis memang seharusnya tidak hanya berkutat pada novel atau skenario film. Mereka juga bisa menulis teks-teks untuk mendukung marketing, penjualan atau promosi.

Di internet, perusahaan-perusahaan besar berlomba menggelontor audiensnya dengan konten. Antara lain melalui blog atau social media.

Pertanyaannya, kenapa?

Kenapa mereka mau repot-repot begitu?

Kenapa mereka tidak mengurus penjualan atau iklan saja?

Kenapa mereka tidak fokus ke pendapatan saja? Malah membuang-buang duit untuk maintenance social media dan blog?

Jawabnya sebenarnya sederhana.

Karena mereka butuh mengedukasi target pasar sambil membentuk komunitas. Membangun kedekatan dengan konsumen tanpa berkesan jualan. Strategi yang seperti ini memang dampaknya baru dirasakan dalam jangka panjang. Tapi dampaknya pun lebih bertahan lama ketimbang strategi menggelontor publik dengan iklan-iklan.

Maka merupakan tugas kita, para penulis, untuk memoles edukasi dan pesan-pesan komersial dari para pemilik bisnis menjadi informasi yang menarik bagi segmen-segmen tertentu.

Siapapun butuh konten. Terutama di jagat maya. Cobalah survive di dunia internet dengan konten yang minim. Saya yakin berat sekali.

Content is really the king!

Banyak perusahaan yang sudah menyadari ini. Makanya, semakin banyak penulis dadakan muncul. Tidak masalah, asal mereka tahu apa yang mereka kerjakan. Yang jadi masalah, dan ini tidak bisa dihindari, akhirnya jagat internet dibanjiri dengan konten-konten sampah. Membuat persaingan antar penulis (penyedia konten) menjadi semakin ketat.

Tapi apakah kita harus khawatir? Kalau yakin konten Anda bukan tergolong sampah, tidak perlu terlalu mengkhawatirkan persaingan yang memang ketat ini. Biarlah konten-konten sampah dan spam itu yang saling bersaing dan “memakan” di bawah sana. Kita cukup melihat mereka dari atas. Apalagi dari tahun ke tahun, Google dan search engines lainnya terus memperbarui algoritmanya untuk menyingkirkan konten-konten tidak bermutu ini. [photo from sefulsocialmedia.com]

1 comment for “Content is King

  1. March 4, 2013 at 12:37

    Setujuuuuuuuuuuuu……………..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge