<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Cerpen = Investasi</title>
	<atom:link href="http://warungfiksi.net/cerpen-investasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://warungfiksi.net/cerpen-investasi/</link>
	<description>fictions and facts from Indonesia, as a raw material to make Indonesia-based story</description>
	<lastBuildDate>Sat, 13 Mar 2010 09:11:08 +0700</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Does A Writer Need to Write on Newspaper before Start the Writing Career? - Warung Fiksi</title>
		<link>http://warungfiksi.net/cerpen-investasi/comment-page-1/#comment-3662</link>
		<dc:creator>Does A Writer Need to Write on Newspaper before Start the Writing Career? - Warung Fiksi</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 Oct 2009 11:28:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://warungfiksi.wordpress.com/2008/01/16/cerpen-investasi/#comment-3662</guid>
		<description>[...] ini tentu sudah tidak asing lagi bagi Anda. Inilah sastra-sastra yang biasa tampil di koran. Bisa cerpen, puisi, kritik sastra, atau esai. Umumnya, para penulis memulai karir mereka dari sini. Saya pernah [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] ini tentu sudah tidak asing lagi bagi Anda. Inilah sastra-sastra yang biasa tampil di koran. Bisa cerpen, puisi, kritik sastra, atau esai. Umumnya, para penulis memulai karir mereka dari sini. Saya pernah [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: fitria</title>
		<link>http://warungfiksi.net/cerpen-investasi/comment-page-1/#comment-3178</link>
		<dc:creator>fitria</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 15 Aug 2009 22:48:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://warungfiksi.wordpress.com/2008/01/16/cerpen-investasi/#comment-3178</guid>
		<description>sebenarnya ketika gw menciptakan cerpen gw gak butuh nobel..karena ketika karya gw dimuat dan disuka ama khalayak itu semua udah jadi nobel yang berharga dalam hidup gw...
.-= fitria&#180;s last blog ..&lt;a href=&quot;http://fitrianirahayu.multiply.com/calendar/item/10002/hari_ini_ujian_pidana&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;hari ini ujian pidana&lt;/a&gt; =-.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>sebenarnya ketika gw menciptakan cerpen gw gak butuh nobel..karena ketika karya gw dimuat dan disuka ama khalayak itu semua udah jadi nobel yang berharga dalam hidup gw&#8230;<br />
<span class="cluv"> fitria&#180;s last blog ..<a href="http://fitrianirahayu.multiply.com/calendar/item/10002/hari_ini_ujian_pidana" rel="nofollow">hari ini ujian pidana</a> <span class="heart_tip_box"><img class="heart_tip" alt="My ComLuv Profile" border="0" width="16" height="14" src="http://warungfiksi.net/wp-content/plugins/commentluv/images/littleheart.gif"/></span></span></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Brahmanto Anindito</title>
		<link>http://warungfiksi.net/cerpen-investasi/comment-page-1/#comment-1390</link>
		<dc:creator>Brahmanto Anindito</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Nov 2008 06:24:59 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://warungfiksi.wordpress.com/2008/01/16/cerpen-investasi/#comment-1390</guid>
		<description>Wah, karyamu banyak tp yg dikirim ke Wufi kok cuma dua, hehehe .... Iya, penulis rasanya masih dipandang sebelah mata. Tp jgn hopeless lah. Krn tetanggaku yg bijak bilang, &quot;Justru perasaan hopeless itu yg menyebabkanmu tidak mujur.&quot;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Wah, karyamu banyak tp yg dikirim ke Wufi kok cuma dua, hehehe &#8230;. Iya, penulis rasanya masih dipandang sebelah mata. Tp jgn hopeless lah. Krn tetanggaku yg bijak bilang, &#8220;Justru perasaan hopeless itu yg menyebabkanmu tidak mujur.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: rie yanti</title>
		<link>http://warungfiksi.net/cerpen-investasi/comment-page-1/#comment-1374</link>
		<dc:creator>rie yanti</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 03 Nov 2008 06:44:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://warungfiksi.wordpress.com/2008/01/16/cerpen-investasi/#comment-1374</guid>
		<description>Tulisanmu memprovokasiku buat tetap semangat &amp; yakin kalo menulis adalah jalan hidupku (ck, ck, ck…). Dan dari mana aku mulai? Cerpen. Ya, cerpen, soalnya bentuknya simpel dan padat. Aku emang lebih nyaman nulis cerpen ketimbang sodara2nya, walaupun suatu hari nanti aku pengen juga bikin novel, naskah drama, skenario film, sajak. Beberapa kali nyoba nulis novel tapi nggak pernah tuntas, berhubung aku orangnya cepat bosan.

Aku punya banyak stok cerpen. Dikirim ke media cetak nggak ada yg dimuat satu pun (atau ada tapi aku nggak tahu krn jarang beli koran… tidaaaak!!!). Paling2 cerpen &amp; tulisanku yg lainnya dipajang di beberapa web site atau blog, termasuk Wufi (makasih Brahm).

Kalau cerpen2ku dikalikan ratusan ribu rupiah, aku kaya banget! Belum lagi beberapa ide cerita masih bercokol di otak. Ternyata kepalaku adalah gudang uang! Lalu kapan semua itu berubah wujud menjadi lembar-lembar uang? I just keep fighting &amp; praying… Kalau media cetak tidak atau belum sudi memublikasikan tulisanku, media on-line-lah yg aku pilih.

Nggak ada keuntungan finansial dgn memajang tulisan di internet (ada? Di mana?). Tapi minimal, mudah2an, tulisan kita diapresiasi. Ini berguna juga buat nyari eksistensi. Para pelanggan Wufi, misalnya, pasti penasaran dgn karya2 yg dipublikasikan di sini. Masuklah mereka ke ‘Unduh Gratis’ (siapa yg nggak ngiler denger kata gratis?), terus mengunduh salah satu karya misalnya Mawar Merah Darah, terus baca nama &amp; karyaku. Nah, itulah titik awal jd terkenal (aku udah terkenal belum ya?). Lumayan kan? Ya buat langkah pertama sih, relakan saja karyanya nggak dibayar.

Masalahnya, profesi penulis (cerpenis, novelis, esais… apapun) di negara kita nggak (atau belum) setara dgn dokter atau karyawan bank, kecuali di kalangan tertentu. Aku setuju dgn posisi penulis sbg self employee atau investor. Tapi tetep aja penulis dianggap remeh, di bawah dokter bahkan guru honorer. Pendapatku mungkin terlalu personal. Harap maklum, aku tinggal di lingkungan yg awam dunia tulis-menulis. Buat orang2 di sekitarku, bekerja adalah melakukan sesuatu di dalam ruangan bernama kantor dari pagi sampai sore atau malam dan tiap bulannya nerima gaji. Aku sendiri suka bingung ngejawab pertanyaan orang2 kalo ditanya ‘kerja di mana?’. Aku bilang ‘kerja di rumah’ soalnya aku kalau nulis pasti di rumah (kalo nyari inspirasi bisa di mana aja). Eh, mereka malah ketawa, dikiranya aku becanda atau mengerjakan pekerjaan rumah biasa kayak ngepel, nyuci, tidur. Tapi sampai skrg, karya2ku memang belum menghasilkan apa-apa, jadi belum bisa ngasih bukti ke orang2 kalo aku bisa
makan dan syoping sepuasnya dgn menulis.

Sama kayak Linna, aku juga ngeri sama yg namanya ‘bakat’ dan ‘kemujuran’. Aku nggak tahu sebetulnya aku punya bakat nulis atau nggak. Lalu di manakah kau bersembunyi selama ini, wahai Kemujuran? Selama ini aku ngerasa kayak jauh banget dr yg namanya kemujuran. Yah… hopeless lagi deh…</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisanmu memprovokasiku buat tetap semangat &amp; yakin kalo menulis adalah jalan hidupku (ck, ck, ck…). Dan dari mana aku mulai? Cerpen. Ya, cerpen, soalnya bentuknya simpel dan padat. Aku emang lebih nyaman nulis cerpen ketimbang sodara2nya, walaupun suatu hari nanti aku pengen juga bikin novel, naskah drama, skenario film, sajak. Beberapa kali nyoba nulis novel tapi nggak pernah tuntas, berhubung aku orangnya cepat bosan.</p>
<p>Aku punya banyak stok cerpen. Dikirim ke media cetak nggak ada yg dimuat satu pun (atau ada tapi aku nggak tahu krn jarang beli koran… tidaaaak!!!). Paling2 cerpen &amp; tulisanku yg lainnya dipajang di beberapa web site atau blog, termasuk Wufi (makasih Brahm).</p>
<p>Kalau cerpen2ku dikalikan ratusan ribu rupiah, aku kaya banget! Belum lagi beberapa ide cerita masih bercokol di otak. Ternyata kepalaku adalah gudang uang! Lalu kapan semua itu berubah wujud menjadi lembar-lembar uang? I just keep fighting &amp; praying… Kalau media cetak tidak atau belum sudi memublikasikan tulisanku, media on-line-lah yg aku pilih.</p>
<p>Nggak ada keuntungan finansial dgn memajang tulisan di internet (ada? Di mana?). Tapi minimal, mudah2an, tulisan kita diapresiasi. Ini berguna juga buat nyari eksistensi. Para pelanggan Wufi, misalnya, pasti penasaran dgn karya2 yg dipublikasikan di sini. Masuklah mereka ke ‘Unduh Gratis’ (siapa yg nggak ngiler denger kata gratis?), terus mengunduh salah satu karya misalnya Mawar Merah Darah, terus baca nama &amp; karyaku. Nah, itulah titik awal jd terkenal (aku udah terkenal belum ya?). Lumayan kan? Ya buat langkah pertama sih, relakan saja karyanya nggak dibayar.</p>
<p>Masalahnya, profesi penulis (cerpenis, novelis, esais… apapun) di negara kita nggak (atau belum) setara dgn dokter atau karyawan bank, kecuali di kalangan tertentu. Aku setuju dgn posisi penulis sbg self employee atau investor. Tapi tetep aja penulis dianggap remeh, di bawah dokter bahkan guru honorer. Pendapatku mungkin terlalu personal. Harap maklum, aku tinggal di lingkungan yg awam dunia tulis-menulis. Buat orang2 di sekitarku, bekerja adalah melakukan sesuatu di dalam ruangan bernama kantor dari pagi sampai sore atau malam dan tiap bulannya nerima gaji. Aku sendiri suka bingung ngejawab pertanyaan orang2 kalo ditanya ‘kerja di mana?’. Aku bilang ‘kerja di rumah’ soalnya aku kalau nulis pasti di rumah (kalo nyari inspirasi bisa di mana aja). Eh, mereka malah ketawa, dikiranya aku becanda atau mengerjakan pekerjaan rumah biasa kayak ngepel, nyuci, tidur. Tapi sampai skrg, karya2ku memang belum menghasilkan apa-apa, jadi belum bisa ngasih bukti ke orang2 kalo aku bisa<br />
makan dan syoping sepuasnya dgn menulis.</p>
<p>Sama kayak Linna, aku juga ngeri sama yg namanya ‘bakat’ dan ‘kemujuran’. Aku nggak tahu sebetulnya aku punya bakat nulis atau nggak. Lalu di manakah kau bersembunyi selama ini, wahai Kemujuran? Selama ini aku ngerasa kayak jauh banget dr yg namanya kemujuran. Yah… hopeless lagi deh…</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Brahm</title>
		<link>http://warungfiksi.net/cerpen-investasi/comment-page-1/#comment-513</link>
		<dc:creator>Brahm</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 05 Aug 2008 07:28:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://warungfiksi.wordpress.com/2008/01/16/cerpen-investasi/#comment-513</guid>
		<description>Thx udah mampir, Fingers Lady. Salam kenal. Bingung nih, &quot;jika tidak sudi mohon bagi ilmunya&quot;, maksudnya tuh gimana?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Thx udah mampir, Fingers Lady. Salam kenal. Bingung nih, &#8220;jika tidak sudi mohon bagi ilmunya&#8221;, maksudnya tuh gimana?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
