Hm, Rupanya Begini Cara Dan Brown Menulis

June 23, 2007
By Brahmanto Anindito

Dan Brown

By: Brahmanto Anindito

Siapa tak kenal novelis Amerika satu ini? The Da Vinci Code-nya telah memantik obor pro-kontra di seantero planet, termasuk di Indonesia. Tapi saya bukan berniat mengulik-ngulik kontroversi itu. Di sini saya cuma ingin membahas teknik Dan Brown yang menurut saya mengusung cara baru dalam penulisan thriller modern. Yah, saya tahu, kalau dirunut ke belakang, Brown bukanlah yang pertama melakukan kombinasi teknik ini. Namun setidaknya dia kan yang terkenal.

Bab-bab di novel Brown kebanyakan disusun pendek-pendek. Bukan tanpa maksud. Bab-bab pendek ini akan membuat novel setebal apapun jadi mirip kue enak yang bisa dipotong di bagian manapun. Meski biasanya pembaca tidak mau segampang itu memotong bacaannya, lantaran Brown hampir selalu meletakkan kalimat-pemicu-penasaran pada akhir bab.

Dengan kalimat tersebut, secara psikologis, orang yang ingin menghentikan bacaannya, akan merasa penasaran untuk beranjak ke bab berikutnya. Di otak pembaca, ramuan ini bakal menimbulkan efek, “Teruskan dikit lagi deh. Kan babnya pendek. Satu bab lagi!”

Lalu, apa yang terjadi? Begitu pembaca meneruskan satu bab tambahan, dia akan mendarat di kalimat-pemicu-penasaran yang baru. Lalu dia kembali melanjutkan bacaannya sambil bersumpah dalam hati, “Satu bab lagi deh, suer! Satu bab pendek lagi!” Begitu seterusnya. Sampai pembaca itu tidak sadar, sudah berapa bab dia lahap sebelum benar-benar berhenti dan meletakkan novel tersebut.

Tapi permainan psikologis semacam ini tentu tidak selamanya cespleng. Di alam posmodern ini, minat konsumen adalah raja. Saya, misalnya, lebih antusias saat membaca Digital Fortress (1998), ketimbang Da Vinci Code (2003) yang bercerita tentang semiotik di balik simbol-simbol agama atau Deception Point (2001) yang menggerojoki pembaca dengan tetek bengek politik. Tak peduli beberapa bilang Digital Fortress merupakan karya Brown yang paling tidak matang (maklum, itu novel pertamanya). Tak peduli yang menjadi best seller adalah Da Vinci Code. Bahkan tak peduli Angels & Demons (2000) kata orang lebih menggigit ketimbang Da Vinci Code. Persoalannya satu, belakangan ini saya menggandrungi segala yang berbau cyber. Dan itu ada di Digital Fortress.

Dalam keempat karyanya, Brown selalu menggunakan sudut pandang orang ketiga. Dengan begini, enigma demi enigma lebih gampang diurai. Saya berani bertaruh, buku-buku Brown bakalan tambah gendut kalau menggunakan sudut pandang orang pertama.

Terlalu banyak misteri dan konspirasi. Orang pertama takkan sanggup membongkarnya sendirian. Dia perlu “menyerahkan” pekerjaan itu pada orang ketiga. Sudut pandang orang ketiga menurut Orson Scott Card (2005) terdiri dari gaya pengarang “mahatahu” dan “orang ketiga terbatas”. Semuanya memungkinkan cerita untuk dilempar-lempar dari mata satu tokoh ke mata tokoh lain.

Dalam persepsi mahatahu (atau oleh William Noble, 2006, disebut “orang ketiga obyektif”), penulis lebih bebas melakukan itu. Misalnya dalam satu bab, penulis bisa mengisahkan apa yang ada di tokoh Robert Langdon, lalu tiba-tiba melempar pembaca ke tokoh Silas, lantas ke Sophie Neveu. Terus bergulir bergantian seperti itu.

Namun lebih tepatnya, Brown memakai sudut pandang orang ketiga terbatas (oleh Noble dinamakan “orang ketiga subyektif”). Keunggulan pendekatan ini adalah keterangan tentang tokoh dapat lebih mendalam, hampir semendalam sudut pandang orang pertama. Tidak sekedar meloncat-loncat, tapi meloncat lalu diam sambil mengeruk fakta subyektif dari kepala sang tokoh, baru kemudian meloncat lagi ke tokoh lain, dan menetap lagi.

Disebut “terbatas” karena memang batasan antara meloncat dan menetap itu jelas. Misalnya ditandai melalui pergantian bab. Atau kalau loncatan sudut pandang itu terjadi dalam satu bab, penandanya lazimnya spasi kosong, atau tiga bintang (* * *). Bagian di atas tiga bintang itu, umpamanya, mengisahkan Susan Fletcher dan hal-hal yang terjadi di sekelilingnya, sementara bagian bawah dari tiga bintang menceritakan David Becker dan permasalahan di sekitarnya.

Tak ayal, novel-novel Brown senantiasa multialur. Namun itu tak pernah menjadikannya longgar. Novel-novel Brown bukan angkot yang acap berhenti atau kadang berjalan lambat menunggu penumpang. Novel-novel Brown adalah kereta api eksekutif yang berhenti seperlunya, dan sesebentar mungkin.

Bahkan di akhir membaca Da Vinci Code dan Digital Fortress, saya hanya melongo: Semua ribut-ribut seru itu terjadi dalam semalam saja? Novel 500 halaman lebih itu nyaris seluruhnya membicarakan kejadian yang berlangsung cuma sehari?

Padahal, terus terang, saya baru bisa menghabiskan satu novel setebal itu dalam beberapa hari (saya pembaca yang lambat). Ini artinya, kejadian-kejadian yang diciptakan Brown mengalahkan realtime saya. Alurnya berjalan di atas waktu pembaca (dalam hal ini saya) di dunia riil, saking rapatnya.

Konflik reda, hadir aksi. Aksi antiklimaks, eh, konflik malah meruncing. Saya pribadi lebih suka novel tak kenal basa-basi seperti ini. Tak ada alur yang diulur-ulur. Tak ada kalimat puitis yang bertele-tele. Tak ada halaman novel yang bisa dilompati tanpa kehilangan keutuhan cerita.

Banyak lho novel yang membacanya saya merasa rugi waktu, sebab aliran cerita sengaja diperlambat. Biar tampak tebal, kali! Padahal novelis-novelisnya kelas atas lho. Ada juga novel yang alurnya tak maju-maju. Ketika tokoh utama melihat mobil, dia mendeskripsikan mobil itu sampai sehalaman. Berjalan sedikit lagi dan mata sang tokoh tertumbuk pada sebuah gedung, dia cerita lagi sepanjang dua halaman, kali ini mengenai sejarah perpolitikan gedung tersebut. Lantas memandang cewek di jalan, sang tokoh tiba-tiba merenung, sebanyak tiga halaman dia flashback ke memori tentang mantan pacarnya. Capek deeeh ….

Novel-novel Brown jelas bukan seperti itu.

Alur padat dan cepat ala Brown bisa jadi karena terlalu banyak materi yang ingin disampaikan pengarang. Sehingga materi-materi itu berjejal rapat dalam ruang yang “hanya” 500-an halaman tersebut. Lantas darimana materi itu? Dalam dunia kepenulisan, tertuduh utamanya hanya dua: Imajinasi yang kaya (seperti J.K. Rowling), atau riset yang mendalam.

Untuk Brown, saya menebak yang kedua lebih dominan. Deskripsi-deskripsinya untuk mengomunikasikan teka-teki agar tampak detail dan ilmiah mustahil dibangun lewat imajinasi belaka. Di sini, imajinasi hanya berfungsi untuk menghubung-hubungkan fakta supaya bisa disajikan dengan sedap. Kadang imajinasi juga dipakai untuk sedikit menggerus fakta, agar cerita tampil kinclong. Selama itu dalam koridor fiksi, selama di novel itu tidak ada tulisan “based on true story”, sah-sah saja kan?

Tapi siapapun yang pernah membaca pasti setuju, novel-novel Brown digarap lewat riset yang mendalam. Berapa narasumber kompeten yang digaulinya sebelum membuat sebuah konflik cerita secara apik? Berapa banyak buku yang dibacanya hanya untuk menciptakan satu tokoh? Berapa kali survei lapangan yang dilakukannya untuk membuat satu setting yang meyakinkan?

Saya tak pernah tahu. Namun saya yakin dia melakukannya. Sama seperti saya tak pernah melihat jantung saya sendiri, tapi saya yakin saya punya jantung. Terasa dari hasil kinerjanya.

Tags:

25 Responses to “ Hm, Rupanya Begini Cara Dan Brown Menulis ”

  1. dadok on June 25, 2007 at 2:34 am

    Yeah….. Dan Brown kalo gue baca dari DF sampe DVC gaya penyampaianya gitu gitu aja, AD malah mirip banget ama DVC. Tapi emang bagus dan gue gak keberatan baca cerita cerita Mr. Brown berikutnya..

  2. Ahmad Jaelani on June 26, 2007 at 3:19 pm

    Mungkin saya orang yang paling sedikit membaca novel terutama yang berkualitas apalagi karyanya Mr Brown. Namun saya yakin memang benar-benar bagus seperti yang diurai Brahmanto Anindito. Saya sering baca novel,tapi baru beberapa halaman saya lahap,sudah tidak tertarik lagi untuk melanjutkannya.Sebenarnya tidak saya fahami kenapa sering mengalami hal ini,dan baru malam ini Brahmanto memberi tahu saya bahwa hal itu karena alur cerita yang diperlambat dan banyak`halaman` mubazzir sehingga terasa seperti buang-buang waktu saja membacanya.Saya ingin sekali memakai tehnik Brown ini dalam penulisan novel pertama saya yang baru saya rangaki hampir satu halaman.

  3. Brahm on June 27, 2007 at 2:44 am

    Yeah, juga. Bang Dadok bener. Rada monoton ya. Gaya cerita di novel2 Brown emang mirip2. Tapi nggak masalah kan? Tiap penulis punya kekhasan. Kalau gaya cerita itu ganti2 tiap novel, saya malah curiga itu novelnya orang, hahaha …. Thx 4 commenting, Bang Dadok. Come again, pls.

  4. Brahm on June 27, 2007 at 2:45 am

    Terima kasih atas komentarnya, Mas Ahmad. Wah, berarti sampeyan mungkin sama dg saya, menggemari cerita-cerita beralur cepat. Tapi ngomong2, ada lho pembaca yg suka dg cerita yg lambat dan diulur2. Pembaca tipe gini mungkin akan “jantungan” kalo baca cerita-cerita Dan Brown yg ekspres, hehehe. Saya dukung novelnya, Mas. Biar sastra Indonesia semakin beragam. Semoga sukses ya ….

  5. the technokrat on July 3, 2007 at 6:25 am

    bujubune, dalem juga tuh pengamatannya. Gue salut dah. kebetulan gue juga penggila berat DanBrown. Cuma sekarang lagi kesel, lantaran 3 buku beli yang asli, trus lagi muter-muter kwitang-senen eh tukang buku yang diemperan nawarin, 30rebu mas, jelas aja gue ketarik, lha buku aslinya kan 78rebu. Dengan sedikit ngrasa berdosa, gue ketarik beli yang bajakan, eh pas udah dirumah, mau dibaca isinya acak-acakan. urutan babnya kebalik-balik. Dua minggu kemudian gue dateng ketokobuku emperan itu.Setaaan! Sipenjual pura-pura ga kenal gue. ga mau ganti. Gue langsung tobat.Gue beli buku 4 biji, tebel-tebel;serial gajah mada, gue liatin deh didepan siabang. “Neh gue baru beli buku, mahal! tapi ga pa.Gue tobat bang beli buku bajakan! Apalagi buku karya bangsa sendiri.”

    tapi….
    Emang bener kata komentator di bukunya”dan brown benar-benar menyiksa”. Cuma…gue juga kayaknya punya gaya tulis yang rada-rada mirip dikit ama mr.DB itu. padahal novel yang gue susun itu udah 1/3nya jadi, jauh sebelum gue baca Dan brown.

    salam gud-lak buat semua pecinta sastra…

  6. Brahm on July 5, 2007 at 2:54 am

    Thanks udah baca tulisan saya dan berkomentar. Iya bener, Bang Technokrat (hehehe, abis nulis namanya gitu sih). Tp kalo mau balikin yg bajakan ya jgn sampe 2 minggu lah, jelas aja orangnya udah males. Lebih baik lagi: Beli yg asli. Biar kalo novel kita ntar terbit, orang jg pada beli yg asli (nggak kena karma, hehehe). Gaya mirip2 Dan Brown? Wah, boleh jg tuh. Atau jangan2 Dan Brown yg adopt gaya Bang Technokrat ini? Hehehe. Sukses ya buat 2/3 sisa novelnya.

  7. theFantastic4 Our on July 24, 2007 at 2:19 pm

    mr. brown?? uh, yang mana seh!! wah..wah.. kayaknya aku ketinggalan jauh nih… dengan umur segede ini aku gak kenal mr. brown. dia mang siapa seh?? mr. brahm plis!! bantu aku ‘cinta’ sama sastra donk! sebenarnya dari SMA aku seneng banget baca – baca buku… semuanya aku ‘lahap’ tapi aku gak pernah terjun langsung mencoba mmbuat tulisan-tulisan. dulu sih yang penting aku baca! gak lebih. ya, bisa dibilang aku ini cuma sebagai konsumen atau yang nonton aje… gak lebih!! tapi, sekarang-sekarang aku ngebet banget pingin bikin novel.. boleh dong aku nanya… ada gak sih hal-hal yang harus kita perhatikan dalam membuat cerita/novel? kalau ada apa saja? dari segi penulisan gimana?dari bahasa? lalu latar cerita??? pokoknya semuanya deh tentang cinta, eh, tentang cerita. kalau bisa kirim aja ke: suminta01@plasa.com. oia, semua pembaca juga boleh deh bantu aku… salam semangat buat pejuang sastra!!

  8. Brahm on July 25, 2007 at 3:55 am

    Thx, Suminta, atas komennya. Mr. Brown alias Dan Brown ya yg nongol fotonya di atas tuh. Dia yg nulis novel2 thriller macam yg kusebut di tulisan atas. Melejit sejak karyanya yg kontroversial, Da Vinci Code. Kontroversi karena di novel itu antara lain diceritakan Yesus punya anak. Brown nggak asal tulis, karena didukung data2 yg meyakinkan (valid tidaknya data itu aku nggak kompeten utk menilai). Tp itulah yg bikin umat Kristiani protes. Fiksi + fakta = fiksi. Tp mrk tetap nggak bisa menerima itu, tetep nganggep Da Vinci Code adalah novel sejarah (sehingga berpotensi menyesatkan umat). Rumus fiksi + fakta = fiksi adalah matematis. Padahal agama diserang (dlm hal ini dg novel) adalah urusan psikologis. Jadi rumus itu seolah tidak berlaku lagi. Mrk tetap menghujat Brown. Film Da Vinci Code pun direkomendasikan banyak gereja utk diboikot. Tp adalah hukum di dunia seleb bahwa semakin kontroversi, semakin terkenal dan larislah dia.

    Jd kalau mau novelmu kondang, bikinlah kontroversi, hehehe (ya jangan lah!)

    Suminta, buku cara bikin cerita banyak banget di toko buku dan perpustakaan. Kamu bisa baca untuk mengasah dan dapat inspirasi. Tapi saran yg general dan direkomendasikan hampir semua penulis beken: Banyak2lah membaca karya orang lain, sambil langsung mulai menulis ceritamu sendiri secara konsisten. Hanya itu yg bisa aku saranin. Soalnya aku termasuk yg percaya bahwa yg tahu kehebatan kita adalah diri kita sendiri. Tips orang belum tentu cocok utk diri kita. Jadi cari tahu aja kamu hebat dimana. Jgn kuatir, prosesnya menyenangkan kok ^_^.

    Bagi yg mau bantu Suminta, silakan hubungi emailnya. Ini undangan terbuka nih.

  9. Ersis Warmansyah Abbas on August 2, 2007 at 1:23 am

    Yoi, bagus bo.

  10. dayvan on November 15, 2007 at 3:34 pm

    aneh kali si Brown tuh…..
    napain pula buat buat novel bawa2 nama Tuhannya orang Kristen
    kalo mo buat novel gak usah buat2 kontroversial gitulah ntar yang ada orang yang belon beriman malah makin goyah
    Buat novel kayak LOTR ato Harry Potter lebih menarik because it is really2 a science fiction n we can read it more comfortable tanpa harus pusing2 mikirin benar ato tidak soalnya semua benar2 boongan………
    Pokoknya yang buat si Brown itu terkenal bukan karena dia pande buat alur ceritanya btw krn orang penasaran aja……….
    Da Vinci Code gak bermutu……….

  11. anti-atheis on December 22, 2007 at 5:18 am

    Menurut saya Da Vinci Code sangat tak bagus,
    Menurunkan image KRISTEN

    Apa penulisnya itu atheis yah ?

    Dan yang terpenting itu semua booooooooong ………….

  12. vio on March 1, 2008 at 4:53 am

    idem deh ma brahm,,,

    mengenai kontroversi mah terserah persepsi masing-masing, tapi klo mengenai novelnya, Mr. Brown itu emang T.O.P BGT. kebanyakan novel yang vio baca emang suka dipanjang-panjangin gitu deh,, gajebo banget,,!! lebih banyak jelasin hal-hal yang kagak ada kaitannya ama alur cerita, cuma mau nambahin halaman doank,trus biar tambah mahal harganya klo udah dicetak and diterbitin,,,hehe

    vio pengen banget bikin novel yang punya alur kayak novelnya Mr. Brown ini, gimana sich caranya? tolong jelasin donk..!!! thx b4

  13. Brahm on March 1, 2008 at 5:48 am

    Thx buat Dayvan, Anti-atheis dan Vio. Semua memang kembali ke kuat-tidaknya apa yg kita yakini.

    Vio, udah bukan rahasia bikin novel tipe gini hrs kuat di riset, dan punya imajinasi untuk berspekulasi membuat alur. Gampangannya sih try and error aja. Tulis langsung. Nanti kalau udah jd, dibaca ulang. Diperbaiki. Tulis lg. Dikoreksi lagi. Gitu terus. Lama2 kan novel itu sesuai dg mau kita.

  14. Calvin Michel Sidjaja on April 2, 2008 at 9:19 am

    saya juga terkagum2 dengan teknik penulisan dan brown, beliau bisa membuat tulisan yang memang bikin penasaran seperti itu. DVC saya baca di komputer dan selesai dalam dua hari. hahaha.

    terlepas dari segala kontroversi DVC, tapi harus diakui, Dan Brown adalah pencerita yang brillian. Kecuali deception point yang gak saya lanjutin, ketiga karya lainnya memang oke.

  15. Brahm on April 3, 2008 at 4:11 am

    Thanks, Calvin. Menarik emang lihat fakta bahwa novel best seller bisa lahir dari bermacam genre. Ada yg best seller karena imajinatif, ada yg krn bikin bulu kuduk merinding, krn menegangkan, menyedihkan, kontroversi, dsb. Kita jd belajar banyak di situ (baik tentang teksnya, maupun konteksnya).

    Satu pertanyaan, Dan Brown kok nggak bikin novel baru? Udah lumayan lama vakum nih.

  16. rini on July 16, 2008 at 10:48 am

    buku lo mang keren banget fakta 2 nya juga

  17. Pradna on October 10, 2008 at 3:56 pm

    hemm, ada beberapa alasan kenapa Dan (dan..brati dia org Indonesia, kalo orang Londo pasti “And Brown”) Brown lagi vakum:
    1. Dia sudah kaya, dan pensiun menikmati royalti,
    2. Sedang meriset secara mendalam karya barunya,
    3. Sedang terlibat konspirasi secara aktif,
    4. Beralih jadi blogger,
    5. Teracuni plurk,
    6. …..

    Ah, sebaiknya jangan diteruskan.

    Untunglah, keempat karya Dan Brown dah baca semua, walo pinjem semuah. Dan yg aku sukai adalah fakta2nya,intrik2nya, dan speed alur ceritanya (bikin sewa bukunya jadi ga mahal, karna terlalu lama).
    Pelipur lara, setelah karya2 Michael Crichton lama ga diterjemahin ke Indonesia.

  18. Brahm on October 13, 2008 at 2:54 am

    Oh, tidak dong, Kang Pradna. Dan Brown pasti blasteran Indonesia-Londo. Soalnya kalau total Indonesia namanya pasti Dan Coklat. Hehehe ….

    Enaknya jd penulis novel ya gitu. Sekali pukul. Hits. Lalu nyantai. Passive income. Yg susah, nulis nggak hit-hit, kapan nyantainya, hahahaha ….

  19. Acep on December 16, 2008 at 3:27 pm

    Ada juga novel yang alurnya tak maju-maju. Ketika tokoh utama melihat mobil, dia mendeskripsikan mobil itu sampai sehalaman. Berjalan sedikit lagi dan mata sang tokoh tertumbuk pada sebuah gedung, dia cerita lagi sepanjang dua halaman, kali ini mengenai sejarah perpolitikan gedung tersebut. Lantas memandang cewek di jalan, sang tokoh tiba-tiba merenung, sebanyak tiga halaman dia flashback ke memori tentang mantan pacarnya. Capek deeeh ….

    Tulisan mas Brahm yang bercerita tentang kebagusan karya-karya Dan Brown sungguh bagus. Tapi, punten, saya pikir Mas tidak perlu men-Capek Deh-kan karya-karya lain yang mendeskripsi hal-hal biasa/sederhana dengan detil (dan mungkin melebar). Dan tentu saja penulis-penulis yang menulis dengan tempo lambat itu tidak berarti tidak lebih bagus dari karya-karya bertempo tinggi. Karena bagi saya sendiri (dan mungkin bagi beberapa orang selain saya)karya-karya bertempo lambat dan ‘bertele’tele’ malah sering menjadi semacam media untuk merenung. Nuhun.

  20. Brahm on December 16, 2008 at 5:22 pm

    Oh ya, Kang Acep, tentu saja kita punya selera masing2. Film bertipe lambat dan diulur2 pun banyak yg suka, meski sebagian besar tidak. Saya hanya mengekspresikan ke-capek-an saya membaca karya2 renungan spt itu.

    Sama kyk membaca karya2 Gibran yg mahsyur itu. Indah, tapi, jujur saja saya lelah setelah baca beberapa bab.

    Maaf kalau ungkapan “capek deh” itu menyinggung Anda (dan para penikmat karya2 bertempo lambat). Sori kalau udah menohok selera Anda. Saya nggak bermaksud begitu lho. Itu cuma ekspresi apa adanya dari seorang Brahm.

    Nuhun, Kang udah mampir. No hard feeling ya.

  21. Acep on December 30, 2008 at 10:23 am

    Muhun dan nuhun, Mas. Santai wae saya mah.

  22. Anto on July 4, 2009 at 7:50 pm

    artikel yg menarik mas..
    anda menguliti satu persatu karya Dan Brown. bukti bahwa anda memiliki referensi yg lebih dr cukup untuk setiap artikel yg anda tulis. jd kami pembaca merasa ‘harus terjebak’ di site ini utk membacax sampai tuntas.
    trima kasih banyak…
    salam salut…

  23. Brahmanto Anindito on July 6, 2009 at 9:32 am

    Terima kasih, Anto, sudah mau “terjebak” di sini, hehehe. Aku cuma penikmat dari karya2 Dan Brown ini. Film2nya pun aku suka.

  24. yuki on April 23, 2010 at 8:10 pm

    Jujur aja karya Dan Brown yg ku baca hanya “The Davinci Code”, itupun berdasarkan rekomendasi teman. DVC emang sebuah karya luar biasa yang sebagaimana mas Brahm yakin, q juga yakin bahwa karya ini melalui riset sehingga data2nya juga gak asal-asalan. Bisa jadi ini adalah perenungan Mr. Brown akan kekurangan/kejanggalan yg ditemukan dalam “sesuatu” yg pernah diyakininya sehingga melakukan riset dalam rangka ingin menemukan kebenaran. Semoga Mr. Brown mendapatkan hidayahNYA. Aamiin.
    yuki´s last blog ..Selamat Jalan Mbak Rina, kakakku, sahabatku, inspirasiku… My ComLuv Profile

  25. Brahmanto Anindito on April 26, 2010 at 8:54 am

    Kalau aku disuruh nulis novel kyk gini, perlu berapa tahun ya selesainya? Hehehe.

Leave a Reply

CommentLuv Enabled