Breaking News: Resume Film Layar Lebar Indonesia 2007

Finis! Secara psikologis, tahun 2007 sudah habis. Kalau tak salah catat, industri perfilman kita merilis 48-an film bioskop tahun ini. Dan Tiga Besar Sementara-nya: Nagabonar Jadi 2 (film Komedi dengan 1,3 juta penonton), Get Married (film Komedi dengan 1,2 juta penonton), dan Terowongan Casablanca (film Horor dengan 1,1 juta penonton). Saya sebut “sementara” karena ada film yang berpeluang menyodok ke posisi Tiga Besar, seperti Quickie Express (Komedi) dan Film Horor (Komedi). Cuma lantaran rilis mereka baru November, belum bisalah kita membandingkannya dengan film-film lain yang telah mencapai ujung lifecycle-nya pada tahun ini juga. Tapi ngomong-ngomong, dari film-film yang saya sebutkan tadi apakah Anda menangkap bahwa kilau film Horor mulai meredup?

Meskipun, yah, genre yang paling sering diproduksi tetaplah Horor. Sekitar 20 film atau 41% dari total film 2007 bernuansakan horor semua. Industri film Indonesia tampaknya masih menganggap genre ini adalah jimat bagi kelarisan film. Dalam tahun-tahun belakangan memang “jimat” tersebut terbukti keampuhannya. Dan selain peluang larisnya lebih besar, membuat film Horor jatuhnya lebih murah. Salah satu sebabnya, film Horor tidak membutuhkan bintang top, cukup pendatang baru. Sebagai perbandingan film dari sutradara yang sama (Hanung Bramantyo), bujet Get Married adalah sekitar 4,5 milyar, sementara Legenda Sundel Bolong hanya perlu dana di kisaran 2,5 milyar.

Tapi setelah berada di penghabisan 2007 ini, sebuah pergeseran terlihat. Yang laris dan berjaya di festival-festival film adalah genre Komedi, dalam hal ini diwakili Get Married, Nagabonar Jadi 2, Mengejar Mas-Mas, dan Maaf, Saya Menghamili Istri Anda. Tengok saja, Nagabonar Jadi 2 memperoleh penghargaan Film Terpilih, Film Terlaris, Penulis Naskah Terpilih dan Pemeran Pembantu Pria Terpilih pada Festival Film Jakarta. Film besutan Deddy Mizwar itu juga merajalela di Festival Film Indonesia 2007.

Syukurlah, ternyata mencari sesuap nasi tak perlu dengan terus-terusan mengeksploitasi tahayul dan tuyul. Komedi pun bisa keren.

Lantas apakah film Komedi yang akan menjadi primadona di tahun 2008? Entahlah. Satu yang pasti, film-film Komedi yang saya maksud di sini bukan komedi-komedi slapstik dan klise seperti yang masih banyak dipertahankan stasiun-stasiun TV kita. Ini adalah komedi-komedi yang dikemas secara elegan dan cerdas. Di sinilah saya menatap perfilman Indonesia 2008 dengan optimis (terlepas dari tuntutan Masyarakat Film Indonesia terhadap transparansi penyelenggaraan festival dan industri film Indonesia yang belum memenuhi titik terang).

Nah, sekedar untuk menyegarkan ingatan Anda tentang film-film layar lebar apa saja yang dirilis pada tahun 2007, siapa nama-nama di balik ke-49 film itu, silakan mengunduh catatannya di sini. Resume perfilman Indonesia 2007 ini merupakan revisi dari resume Wufi yang diedarkan pada Oktober silam.

10 Replies to “Breaking News: Resume Film Layar Lebar Indonesia 2007”

  1. Skylashtar

    Pertama kali ada, genre film horor memang memukau dari berbagai segi. Jelangkung misalnya, sebagai orang awam, aku tetap ngerasa kalau film itu bagus.Masalahnya, sineas Inodonesia tuh suka kayak tukang gorengan di pasar prambanan. Mentang-mentang laku, makin hari gorengannya makin kecil, sayurnya cuma kol ama toge, tahu isi yang isinya harusnya toge malah diisi soun. Rasanyapun jadi aneh, waktu pertama kali ada, rasanya bikin ketagihan.Nah, sekarang, rasanya malah nyekik kerongkongan. Btw, kok jadi curhat ttg gorengan? Pokoknyamah, pembuat film kadang suka kayak gitu, deh.Persis kayak tukang gorengan.AKu masih inget waktu nonton ‘suster ngesot’. Udah bela-belain begadang, walau besoknya kerja, CD nya minjem, trus harus ngelobi anak-anak satu dorm buat ikut nonton. Hasilnya? Kalau nonton film kayak gituan kan harusnya serem, jantung deg-deg plas. Aku? Perutku kejang karena kebanyakan ketawa. Adegan dua anak muda yang bercinta di bawah pohon pisang, trus si cewek tiba-tiba perutnya jadi buncit, si cowok anunya jadi bengkak. Mengingatkan aku sama film-filmnya suzanna. Basi! Yah, mudah-mudahan tahun depan dunia perfilm-an indonesia makin ‘berpendidikan’.Nggak kayak sinetron-sinetron yang selalu mengusung tema ‘membodohi anak bangsa’.

    Reply
  2. Brahm

    Trims komennya, Skylashtar. Tukang gorengan? Analoginya kok “sadis” gitu, hahaha …. Nggak bisa kubayangkan deh kalau udah ngerayu temen2 utk nonton, terus, ternyata filmnya mengecewakan … Eh! Tp menghibur jg gitu lho. Buktinya bisa ngocok perut kan. Blessing in disguise! Pasti besoknya kerja dg pikiran fresh. 😛

    Reply
  3. Imponk

    Kemarin, dalam rangka menyambut tahun baru, sctv menayangkan nagabonar menjadi 2. “Lumayan, nggak usah nonton di biskop,” kataku dalam hati. Film yang dinominasikan itu ternyata tidak sanggup membawaku untuk menikmatinya. Entahlah, kala aku nonton sejenak bau sinetron masih terasa kental. Gaya akting Deddy Mizwar dan Tora Sudiro –dengan pemain lain tentunya– menurutku kurang natural. Karena televisi lain juga menarik, akhirnya Nagabonar jadi 2 harus tereliminasi dengan trilogi X man di starmovies. Dalam hati aku heran, “Ternyata begini to yang namanya film bagus yang memperoleh banyak penghargaan!”

    Reply
  4. Brahm

    Wah, wah, wah. Jangan pesimis gitu dong, Mas Imponk ^_^. Emang, menurutku Tora di situ aktingnya nggak sebaik di Arisan! dulu. Deddy Mizwar kurang natural? Well, tiap orang bebas berkomentar. Tp aku sih optimis2 aja, jk menilik statistik tema dan eksekusi film2 Indonesia lainnya. Kalau mau bersikap pragmatis sbg konsumen ya nonton aja film2 luar negeri (Hollywood, misalnya), pasti lebih banyak pilihan yg sesuai selera. Tp kan film Indonesia butuh dukungan. Kalau bukan kita sendiri, siapa lg yg dukung perfilman Indonesia. Nanti, apa kata dunia ….?!

    Reply
  5. anton

    kabarnya, joko anwar telah menyiapkan sebuah film fantasi tentang super hero. juga dua film thriller yang dia bilang ‘berdarah-darah’.
    joko anwar memang sutradara-penulis skeneraio paling bisa memberikan harapan tentang masa depan film indonesia.
    walaupun arisan yang sangat realis sukses besar, quickie express dengan guyonan dewasa dan sedikit slapatik laku keras, dia tidak memilih jalan aman dan membiarkan diri terjebak dalam tema yang itu-itu saja.
    dan walaupun film KALA yang so-f**king-complicated baik soal cerita maupun teknis (yang banyak disebut2 kritikus film sebagi lompatan tertinggi dalam sejarah perfilman indonesia) jeblok di pasaran, dia tidak kapok untuk kembali memberikan wacana baru ke tengah penonton yang lebih suka diharu biru dan ditakut-takuti.
    so, hajar jok… kita selalu mendukung!!!!
    semoga film indonesia 2008 lebih kaya warna

    Reply
  6. Brahm

    Trims, Ton. Td malam aku nonton Silat Lidah Anteve (menurutku kok lbh meriah & lucu begitu panelisnya diganti cowok semua ya), ada Joko Anwar di sana. Orangnya “gila” jg, ternyata. Yah, semoga di tangan sutradara2 spt itu, film Indonesia 2008 bs lebih kaya warna. Tidak berfalsafat “me too” seperti yg ada selama ini.

    Eh, btw, itu partner fotografimu, Ton? Kelihatannya kok someone special-mu yg lain ya. Sampai ngetik link sendiri aja keliru2 gitu, hehehe.

    Reply
  7. Mahbub Mohammad Kadri

    film layar lebar GET MERRIED 1 , merupakan film yang sangat CERDAS dan BERMUTU. MUlai dari SOSIAL – KOMEDY – The Ruling Class

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.