Bagaimana Heroes Ditulis

Cast Heroes (NBC Photo, oleh Mitch Haaseth)

Ketika TransTV gencar mempromosikan Heroes season 1, saya bergeming. Walaupun saat itu saya sedikit-banyak tahu tayangan ini dinominasikan untuk dua Golden Globes. Pada ajang penghargaan lain, Heroes pun setidaknya memenangkan 11 dari 25 nominasi. Namun saya tidak tertarik, mau bagaimana lagi? Sampai akhirnya saya secara tak sengaja menonton adegan Sylar hendak memotong batok kepala Isaac Mendez dengan kemampuan telekinesisnya. Ngantuk saya langsung hilang, “Ini film superhero apa sih?”

Inilah karya terbaru Tim Kring. Di Stasiun NBC, Kring sebelumnya punya Crossing Jordan yang juga sukses. Tapi pada Heroes ini dia menciptakan tokoh-tokoh lain dari yang biasanya dia tulis. Kring biasanya membuat cerita tentang orang biasa yang menjalani kehidupan biasa. Sedangkan tokoh-tokoh dalam Heroes adalah orang biasa yang hidupnya berubah menjadi luarbiasa.

Yah, Heroes memang bertutur tentang pahlawan seperti di komik-komik. Namun tokoh-tokoh super di sini tidak lantas memutuskan berpakaian ketat dan seksi seperti Catwoman atau memakai celana dalam di luar seperti Superman. Tokoh-tokoh di sini adalah orang-orang yang berperilaku dan berbusana normal, kendati mereka sadar memunyai kemampuan istimewa.

Claire Bennett dikisahkan memiliki kemampuan regenerasi secara spontan (kalau Anda tahu Highlander, kurang lebih secepat itulah Claire menyembuhkan setiap lukanya), D.L. Hawkins mampu menembus apapun (bila Anda pernah lihat David Copperfield menembus Tembok Cina, begitulah kemampuan D.L.), Isaac Mendez bisa melukis kejadian di masa depan, Hiro Nakamura sanggup membelokkan ruang dan waktu, Matt Parkman dapat mendengarkan pikiran orang, Nathan Petrelli bisa terbang, Peter Petrelli memunyai kemampuan menyerap (dalam artian meniru secara permanen, bukan merampas) kemampuan-kemampuan heroes lainnya ketika dia dekat dengan mereka.

Menyerap kemampuan heroes yang lain? Memang, tokoh Peter seakan-akan diciptakan terlalu hebat oleh Kring. Berpotensi menjadi yang terkuat. Seperti tokoh-tokoh yang biasa diperankan Jet Li: begitu perkasa, sehingga akhirnya membuat film jadi menarik secara artistik tapi kurang menegangkan, karena jauh di lubuk hati kita tahu tokoh itu pasti menang meski dikeroyok banyak musuh.

Toh Kring memberi kelemahan juga pada Peter. Tokoh protagonis ini kurang pintar (setidaknya di season 1) dalam mengontrol kemampuan-kemampuan yang diserapnya.

Bersamaan dengan itu, Kring juga memasukkan seorang antagonis bernama Sylar alias Gabriel Gray yang kemampuannya juga terus bertambah. Sylar mulanya adalah patient zero. Tokoh ini ditengarai Profesor Chandra Suresh (tokoh yang meneliti orang-orang spesial ini) punya gen yang menyebabkan seseorang berkemampuan istimewa. Namun saat dites, eh, ternyata tidak terbukti.

Sebagai tukang reparasi arloji yang teliti, Sylar selalu mengaku mengerti bagaimana segalanya berdetik. Setelah mendapat ilham dari Profesor Suresh bahwa segala kemampuan super secara fisiologi terletak pada otak, dia pun mulai bereksperimen. Syahdan, Sylar akhirnya menemukan kemampuannya. Dia bukan lagi patient zero! Yang perlu dilakukannya ialah menyerap (dalam artian merampas) kemampuan orang-orang spesial lainnya dengan memakan otak mereka. Walaupun adegan memakan otak ini tidak pernah saya temui di filmnya.

Kelinci percobaan Sylar waktu itu adalah patient dengan kemampuan telekinesis. Langsung sukses. Karena dia tahu bagaimana segalanya berdetik. Inilah yang akhirnya menyebabkan Sylar punya kemampuan telekinesis. Dan korban-korban berikutnya pun berjatuhan. Sementara Sylar sendiri tentu kian sakti.

Jadi praktis, dalam Heroes ada dua tokoh yang kemampuannya terus bertambah: Peter dan Sylar. Menariknya, kalau Peter sering pingsan ketika tak kuasa mengendalikan penambahan kemampuannya, Sylar terlihat lebih terampil mengontrol setiap kekuatan anyarnya. Namun mereka sama-sama kuat. Peter tokoh yang cenderung protagonis, Sylar cenderung antagonis. Jadi Anda paham kan kemana arah dari semua ini?

Heroes bukan film aksi. Tokoh-tokohnya tak ada yang murni ditulis secara hitam-putih. Sylar menjadi jahat pun punya raison d’être. Dia hanya ingin menjadi orang yang penting, bukan sekedar tukang reparasi arloji yang tidak dianggap di lingkungannya. Sebenarnya dia juga tokoh abu-abu. Bahkan setelah membunuh sekian banyak orang dan sudah sedemikian mandraguna, Sylar mau-maunya “pulang kampung” untuk meminta nasehat ibunya dengan tulus.

Orang-orang dengan kemampuan khusus gara-gara mutasi gen semacam ini mengingatkan saya pada X-Men. Bedanya, kalau X-Men menonjolkan tontonan aksi, Heroes lebih mengandalkan plot, drama dan penokohan. Tidak ada tokoh yang tidak punya rahasia di sini. Namun juga tidak ada misteri utama yang besar.

Masing-masing tokoh punya misteri kecilnya sendiri. Dan misteri-misteri kecil ini di setiap episodenya terungkap satu per satu, tapi penonton tetap tak meninggalkan tempat duduknya. Alih-alih memuaskan, terungkapnya misteri-misteri kecil itu malahan menambah penasaran penonton. Masalahnya, antara satu misteri seorang tokoh berhubungan dengan misteri tokoh lainnya. Begitulah Heroes membelenggu penonton di kursinya.

Alur Heroes tidak linier, tak ada yang istimewa di sini. Namun kalau dalam drama-drama lain sineas begitu saja melompat dari satu setting waktu ke setting waktu lain, di Heroes maju-mundurnya alur memiliki sebab. Adalah tokoh Hiro Nakamura dengan kemampuan istimewanya yang membuat benang waktu menjadi berkelok-kelok seperti itu, berbalik, bahkan kadang melompat maju.

Semua ditulis dengan logika sebab-akibat yang ketat. Ini cerita yang genius, menurut saya. Namun, saya tetap tidak bisa menyembunyikan dua pertanyaan mendasar mengenai kisah ini. Semuanya berkaitan dengan ending dari season 1.

Pertama, ingat sewaktu Peter akan meledak di episode terakhir? Nathan mengorbankan diri dengan membopongnya terbang menjauhi bumi supaya ledakan nuklir dalam tubuh Peter tidak perlu menghancurkan seisi kota? Pertanyaannya, kenapa Peter tidak terbang sendiri? Peter bisa terbang, dia telah menyerap kemampuan Nathan. Dan tak ada yang perlu dikhawatirkan, toh setelah meledak Peter bisa beregenerasi, dia telah menyerap kemampuan Claire.

Yang kedua, kenapa Noah Bennet (manager di perusahaan kertas yang punya pengalaman berurusan dengan orang-orang spesial seperti putri angkatnya sendiri, Claire) tidak menyiapkan tranquilizer atau suntikan penenang, seperti ketika dia berhasil menenangkan Ted Sprague yang hendak meledak di rumahnya.

Ted adalah pria dengan kemampuan mengeluarkan daya nuklir secara alami dari dalam tubuhnya. Orang inilah yang kemampuannya diserap secara tak sengaja oleh Peter, sehingga Peter (yang kurang cakap dalam mengendalikan kemampuan-kemampuannya) berpotensi meledakkan seisi New York. Andai tranquilizer digunakan pada Peter, sebagaimana Noah Bennet (sebenarnya Claire) menyuntik Ted yang berkilauan lantaran akan meledak, tentu semuanya akan happy ending tanpa ada korban.

Mengapa Peter tidak terbang sendiri? Mengapa Noah tidak menyiapkan tranquilizer? Saya tidak tahu persisnya.

Tapi sengaja atau tidak, eksekusi semacam ini pasti ada alasannya. Dugaan terbaik saya, penulis ingin menunjukkan bahwa tokoh Nathan masih punya rasa peduli terhadap isu bom yang akan menamatkan New York, terhadap sesama, terutama terhadap Peter adiknya. Sehingga dialog “I love you, Nathan” “I love you too” menjadi masuk akal dan punya kekuatan ketika dilisankan.

Ini melengkapi ujung dari Heroes season 1 yang saya sebut sebagai episode melodrama. Lihat saja, suami-istri D.L. dan Niki Sanders bersatu kembali setelah sekian lama tidak pernah akur. Hiro pamitan pada kawan seperjuangannya yang dia sebut sebagai unspecial Ando (Ando yang tidak punya kemampuan istimewa apa-apa) untuk menuntaskan tugas berbahaya yang akan dihadapinya sebentar lagi.

Tak ada yang aneh. Setiap serial memang harus selalu berakhir mengesankan, bukan? Dan “mengesankan” itu bisa berarti “fantastik”, “mengharukan” sekaligus “membuat penasaran”, sebagaimana yang dirancang Kring. Apalagi Heroes rencananya akan berlanjut tidak cuma ke season 2. Jadi, membuat penonton terkesan adalah harga mati bagi seorang Kring.

Eh, saya bolak-balik mengatakan Tim Kring. Padahal tayangan ini sejatinya bukan one man show.

Secara de facto, Heroes ditulis oleh sekelompok pengarang. Biasanya beberapa episode sekaligus digarap bareng-bareng, misalnya tujuh episode sekaligus. Cerita yang kompleks tersebut dipecah-pecah ke dalam entah itu alur ceritanya, pengembangan tokoh, atau konsep yang menghubungkan satu episode dengan episode yang lain. Lalu tiap penulis menggarap dan berkonsentrasi pada satu pecahan tugas.

Semua pecahan lantas dijadikan satu oleh seorang penulis, kita namakan saja dia “penulis berikutnya”. Penulis ini bertugas menangani sisa proses. Prapoduksi dan produksi adalah tanggung jawabnya. Dia pun harus hadir mulai dari lokasi syuting sampai kamar editing. Tugas yang panjang dan pelik.

Namun begitu semua selesai, seolah-olah dialah yang menulis keseluruhan episode tersebut seorang diri. Karena hanya nama “penulis berikutnya” ini yang dipajang dalam sebuah episode (setelah tulisan “Written by”). Yah, meskipun mungkin sebenarnya dia tidak punya andil sepatah kata pun dalam penulisan naskah episode tersebut.

Lantas dimanakah peran Tim Kring? Richard Timothy Kring adalah kreator (sekaligus Executive Producer) dari keseluruhan serial Heroes. Dia komandan para penulis. Tapi Kring kadang juga menjadi “penulis berikutnya”, contohnya di episode-episode awal dan episode pamungkas Heroes season pertama.

Namun tentu saja seorang kreator tidak sekedar berpikir bagaimana membuat episode selanjutnya. Sebagai kreator, bisa dibilang Kring adalah bapak dari Heroes. Kringlah yang menciptakan, mempresentasikan ke NBC, menentukan garis besar cerita, membangun brand Heroes, termasuk memikirkan bagaimana penjualannya dari waktu ke waktu.

Sebenarnya penciptaan tokoh Hiro Nakamura yang chubby, bertampang lugu, penyuka komik, legenda Jepang dan Star Trek pun tujuannya ke arah sana. Kring ingin jualan ke pasar Asia. Meluaskan fans Heroes hingga ke benua kuning itu.

Berhasilkah? Bagi saya secara individu berhasil sih. Tidak tahu lagi untuk orang lain di Asia, atau di Indonesia khususnya. Bayangkan, Heroes season pertama yang di Amerika Serikat ditonton lebih dari 14 juta pasang mata, ternyata di Indonesia melempem, terutama ketika ditayangkan TransTV.

Apakah orang Indonesia malas menonton drama bertempo cepat (alur cepat, dialog cepat) seperti ini? Bingung menonton tayangan yang bertokoh banyak? Tidak terbiasa dengan genre film yang mengandung banyak misteri dan keajaiban? Jawabannya bisa iya, bisa tidak. Yang jelas, faktor lain pun tak kalah berpengaruh.

Melalui Indovision dan Astro di Indonesia sebenarnya StarTV sudah terlebih dahulu menayangkan Heroes yang sama. Ditambah lagi, jam tayang di TransTV yang pukul 18 untuk tayangan sejenis ini rasanya kurang pas (saya saja masih asyik di kantor pada jam segitu).

Jadinya mubazir deh.

29 Replies to “Bagaimana Heroes Ditulis”

  1. Skylashtar

    Wuih!!! Kayaknya seru nih! Tapi sayang, aku tinggal di dormitory dengan 12 orang penghuni. Dan parahnya, 11 orang lainnya lebih suka terjebak dengan Cinta ‘Cinderella’, Cinta Bunga, Cinta Fitri, Cinta Indah, Cinta etc, atau Azizah. Lagipula, kalau shift pagi biasanya aku pulang jam 19.30 malam.
    Hhhmmm.. mungkin nggak kalau salah satu dari kita juga punya kemampuan istimewa? Bisa mengendalikan cuaca, misalnya. Who knows?

    Reply
  2. aRuL

    kan udah banyak nonton di komputer sendiri ketimbang liat di TV, jadi di pemirsa TV Indonesia kurang greget.. tapi coba tanya mahasiswa2 pada heboh deh semua

    Reply
  3. Ree

    Knp ya skrg ga nongol Heroes season berikutnya?? Pdhl filmnya serruu bgt, klo ga nonton sekali, suka binun nonton yg next episode. Emang kayak X-Men gitu, tp tokoh2 Heroes tampang/penampilannya kayak orang biasa aja, jd masih bs gabung dg masyarakat tanpa dicurigai/terkesan aneh. Yap! Pertanyaan Mas Brahm yg pertama sama dg pertanyaan sy waktu episode itu. Whyyy??!! Sayang kan, Nathan kan ganteng hehe… Lagian Claire kan baru sebentar ketemu sama ayah kandungnya itu 🙁 Oya di suatu episode si Hiro ke masa depan, di tengah2 dunia yg ancur lebur, dy ketemu sm Peter en Niki. Trus Peter manggil Niki “Sayang…”, berarti di masa depan Niki en Peter jadian gitu ^_^? Bingung d, makanya tolong doonk itu Trans TV, tayangan Heroes next season!! \(^o^)/ !!!

    Reply
  4. Rommy

    sesion ke 2 dah keluar tapi belum dimunculin di trans tv mungkin ga kuat bayar kali……..saya dah selesai nonton sesion 2 kok tapi cuma 11 episode lebih pendek dari sesion 1… download lebih enak daripada nunggu di tv hehe

    Reply
  5. Brahm

    Terima kasih banyak buat Skylashtar, Arul, Anthony Steven, Ree dan Rommy.

    SKYLASHTAR: Heroes emang seru! Coba cari deh DVD-nya, biar bisa ditonton kapan aja “semau gue”. Season 1 cuma 23 episode kok. Ya ada lah, aku yakin pasti ada orang2 berkemampuan aneh seperti itu. Dunia ini penuh keajaiban, itulah basis pemikiran pembuatan Heroes. Tp mungkin orang2 istimewa di kehidupan riil tersebar ke seluruh dunia, nggak ngumpul di Amerika spt yg diceritakan dlm Heroes. Dan kisahnya nggak sedramatis di film. Juga, nggak ada agenda “save the world” 😛

    ARUL: Iya, bener jg. Setelah periode penayangan TransTV aku jd tertarik berburu DVD-nya (bukan beli, tp cari pinjemannya, hehehe …). Timing di TransTV ngaco sih. Film gituan diputer Maghrib, emang segmennya siapa? Tp kalau dipikir2, TransTV emang nggak punya waktu lain. Jam 19 ada FTV, sinteron atau show2 komedi. Jam 21 ke atas ada Bioskop TransTV. Meski film2 yg diputer di sini jarang banget ada yg menarik minatku, Bioskop TransTV ini andalan mereka, jd nggak mungkin digeser kayaknya. Terpaksa deh Heroes ditaruh jam 18. Jd jangan salahkan kalau aku (dan orang2 seperti aku) nggak nonton Heroes via TransTV.

    ANTHONYSTEVEN: Setuju! Penjelasan bahwa Peter saat itu bnr2 kehilangan kontrol emang masuk akal, menurutku. Tp kenapa tdk ada tranquilizer yg disiapkan Mr. Bennet?

    REE: Aku udah nanya ke TransTV apa mrk berencana menayangkan Heroes season 2, Ree. Tp nggak ada jawaban tuh sampai detik ini :(. Soal Peter & Niki berpasangan itu kan kejadian masa depan ketika bom yg diramalkan Isaac bnr2 meluluhlantakkan New York. Micah dan D.L. mati krn bom itu, Niki yg jd janda tanpa anak pun pacaran dg Peter. Tp kan para penulis Heroes menggunakan logika “future isn’t written in stone” (ungkapan yg diucapkan melalui tokoh Claire dan kemudian Nathan). Setelah Hiro (dari masa depan) berhasil mengubah masa sekarang lewat pesan “Save cheerleader, save the world” pd Peter, bom tdk jd menghancurkan New York (tetap meledak, tp jauh di atas bumi, berkat Nathan). Jd kemungkinan besar, apa yg terjadi di season 2 tdk lg seperti masa depan yg pernah dikunjungi Hiro dan Ando itu. Inilah geniusnya tim penulis Heroes. Season 2 tdk bisa begitu saja ditebak berdasarkan season 1. Tetap misteri.

    ROMMY: Kuat bayar sih aku yakin kuat. Kayaknya TransTV trauma aja deh. Beli hak tayang Heroes kan pasti mahal, eh, rating dan iklannya ternyata melempem. Hm, season 2 cuma 11 episode ya? Aku tunggu DVD-nya ada aja deh.

    Reply
  6. Skylashtar

    Mau….!!!! Tapi di mana cari DVD-nya? Tahu nggak sih kalian kalau aku tinggal in the middle of no where? Supernova aja harus dipesan lewat internet, apalagi DVD hero? Ke Batam? Selain biaya transport mahal, aku nggak bisa on leave, en sebelnya lagi, belum tentu di Batam ada.
    Hhhh… padahal aku selalu merasa kalau diriku ini mutant, karena seluruh sel-selku beregenarasi tak terkendali. Tapi, cari DVD aja nggak sanggup. Hehe.. jangan pada ngeri gitu, dong! Becanda, kok!
    Brahm, punya kemampuan seperti itu nggak gampang. Jangankan mau menyelamatkan dunia, mengukuhkan eksistensi diri sebagai manusia saja susahnya minta ampun.
    Menurutku Heroes lebih dari sekedar tontonan yang menghibur, ia juga sebagai sosialisasi kepada masyarakat bahwa orang-orang seperti itu kemungkinan besar ada. Jadi kalau suatu hari ketemu, nggak bakalan merasa aneh, bahkan takut. Memang sih, nggak se’amazing’ tokoh-tokoh Heroes yang bisa terbang, melepaskan daya nuklir, atau membelokan ruang dan waktu. Yah, paling-paling selalu menang kalau main monopoli, karena bisa mengendalikan dadu. Tapi seringnya sih mencelakakan diri sendiri seperti Peter.

    Reply
  7. Brahm

    Wuaduh, Batam? Nggak tahu ya. Aku sendiri pernah ke Nagoya, Batam Centro, Barelang, Sekupang, dan mengambil kesimpulan … sulit setengah mampus cari film2 di sana (kecuali tentu saja film2 bioskop yg pasaran). Pdhl dulu aku sempet nganggep, Batam kan deket ama Singapura, masa’ sih sana ketinggalan. Ternyata, yah, emang ketinggalan. Kalau gitu satu2nya cara ya download. Aku nggak tahu dimana orang2 biasanya download. Tp googling aja, pasti dapet deh, soalnya Heroes kan barang populer.

    Reply
  8. Imponk

    Setidaknya, televisi nasional sudah mencoba –entah apakah nanti akan ada lanjutannya?

    Saya sendiri, sebelum tayang di Trans TV, sudah menyaksikannya lewat DVD. Ceritanya memang khayal –sebagaimana cerita kepahlawanan dalam komik– tetapi vondasinya saya rasa cukup kukuh, sehingga bagaimana pun khayalnya tetap menarik untuk diikuti. Sekarang, sudah mulai musim 3 berjudul “Viliant”, di mana kekuatan Syler bangkit lagi setelah disuntik darah Claire.

    Sebelumnya, Aulia Muhammad juga pernah menulis tayangan Heroes ini. Dengan penalaran yang menarik. Dia sanggup mengaitkan cerita Heroes dengan realitas di Barat saat ini. Menurutnya, tayangan produksi Tim Kring itu bukan sekadar serial. Melainkan mempunyai makna berkaitan dengan realitas kalau mau jeli menelaahnya.

    Reply
  9. Brahm

    Wah, wah, wah. Akhir2 ini banyak yg mengiming2i aku Heroes season2 berikutnya ya. Tp alternatif utamaku tetep nunggu TransTV. Supaya nggak perlu sampai melibatkan barang bajakan, hehehe. Writer’s Guild di Hollywood sana demo krn hak2 ekonomi mrk dilangkahi (melalui penjualan LEGAL dari show atau film mrk lewat DVD atau internet). Tim Kring sampai kewalahan pas mengawali Heroes season 2 gara2 mogok kerja para penulis itu. Lha kalau tahu di Indonesia karya2 mrk mlh dijual ILEGAL, apa nggak tambah sakit hati? Bisa tambah lama tuh demonya :P. Jd sebisa mungkin nonton di TV aja. Masa’ sih nggak ada yg mau beli hak tayang Heroes season 2? Kalau nggak TransTV, Trans 7 deh. Heroes ditayangkan jam 21 kan bagus jg tuh.

    Iya, banyak memang yg mengulas Heroes dari ilmu2 tafsir dan hasil yg beragam. Dg semiotik misalnya, sebuah karya bisa dianalisis bahkan jauh dari maksud si pengarang sebenarnya, bisa dlm arah yg positif, bisa negatif. Dlm kajian interpretif semacam ini, peneliti berjaya. Ngomong kasarnya, dia bisa mengarahkan obyek penelitiannya ke mana aja semau dia.

    Tulisanku nggak (mampu) sejauh itu. Soalnya sejak awal tujuannya sederhana. Seperti Sylar, aku ingin “membedah” otak para penulis Heroes untuk melihat bagaimana segalanya berdetik di sana. Supaya kelihatan bagaimana mrk kok bisa2nya punya kemampuan spesial untuk menulis kisah sehebat ini. Yah, siapa tahu aku bisa menyerap kemampuan istimewa itu sebaik Sylar (yg awalnya tdk istimewa) menyerap kemampuan hero satu per satu. 🙂

    Matur suwun komentare, Mas Aly Imron (kok bisa jd Imponk ya?). Kapan2 mampir mampir lg ya. Salam kenal buat orang2 Jawa Pos.

    Reply
  10. anton

    kurang suka film fantasi. jd yah, nontonnya sambil lalu.
    tp dpt kbr terbaru, heroes session 2 sudah habis volume1 nya (total 11seri). dan kayaknya penggemar harus rela menerima kenyataan bahwa volume pertama ini adalah volume terakhir dari semua session heroes. alias heroes distop sampai disini.
    spekulasi utama yg dijadikan kambing hitam sebagai alasan adalah rating. dan anjlognya rating itu terkait sama cerita heroes yang semakin kesini semakin bias. katanya kisah cinta terlalu memakan porsi di volume ini. alih-alih penonton makin suka, eh malah ditinggalin.
    kalau di indonesia?

    Reply
  11. Brahm

    Oh bener, Ton. Tim Kring udah minta maaf soal “penyelewengan” ke arah cinta2an itu. Ditambah demo Writer’s Guild, tambah puyenglah dia pas itu, memperburuk kualitas naskah. Tp itu udah berlalu. Dan sebagaimana kata Mas Imponk, Heroes season 3 pun udah on the show. Seburuk2nya rating Heroes, nggak mungkin distop begitu saja. Ini kayak kereta yg melaju kencang, kalau mau ngerem ya harus dari jauh. Kalau masinisnya ngerem sekarang, kereta baru bnr2 akan berhenti setelah puluhan detik kemudian, nggak bisa langsung.

    Reply
  12. Ree

    Ooo.. jd dibilang kelanjutan season 1 jg ngga, dibilang kelanjutan ya emang lanjut…:) Dah d, drpd nunggu next seasonnya yg ga jelas kapan, mending nonton yg laen aja, tp.. apa yaaa.. ^_^? Klo DVD, susah jg ya nyarinya. Tp pantang mundur lah demi Peter hehe…;p

    Reply
  13. Brahm

    Iya, tokoh2nya yg msh hidup jg lanjut. Jgn kuatir, Ree, Nathan msh hidup kok, hehehe. DVD season 1 ada, gampang kok carinya, yg original Rp 400.000 (8 keping). Paling2 nanti season 2 ada jg.

    Reply
  14. Jeepers

    maz Bram kalo season 1 ada 8 keping Rp. 400.000 terus kalo season 2 na ada berapa keping and di banderol harga berapa yah?? Yang Original loh!! thanks atas info na

    Reply
  15. Brahm

    Kalau cuma 11 seri mestinya lebih murah. Paling2 cuma 4 keping, jd sekitar 200.000-an lah. Tp kurang tahu persisnya :P. Sepengetahuanku sih, DVD original season 2 blm edar di Indonesia. Saling kbr2 ya.

    Reply
  16. Ardhi

    mantep2
    gw dah nnton semua yg season 2 tp yg season 1 blm sm skali
    krn ya itu td sprti yg kmu bilang, sya cuek aj sm film yg drama,
    eh g tau nya film ny bgs bgt, nnti si hiro ktmu sm takezo knsei (tko yg ia kagumi) alias Adam tokoh antagonis yg nnti ny mnghasut si pter pretli yg ilang ingatn
    blm lg maya n alejandro yg sbuk d kjr2 plisi krn mmbnuh (scra tk sengaja, d mlm prnikahan alejandro), sylar nnti brtmu dgn maya dn mnghasutny, west mnyadari bhwa noah (ayh dr claire) yg mengexperiment dirinya, matt bertmu dgn ayah ny yg jg mmpu mbca pikir an org lain
    nmun sang ayah mlah mncebak matt dlm nightmare nya alias mimpi buruk matt sndri, nathan KK dr peter nnti d injeksi dgn drah dr adam yg mmpu mnymbuhkan semua luka yg di alami olh nathan sewktu mmbwa trbng sang adik, d akhir season 2 ini sylar berhasil mndpt kn kmbli kmampuan ny, pokok ny seru deh……

    gw aj yg br nnton season2 nya, trkgum-kgum, salut buat Richard Timothy Kring,
    kira2 ad ga ya d FS fan of HEROES???
    klo ada ksh saya informasi yah
    d lempok_be@yahoo.co.id

    Reply
  17. adellaidde

    Heroes bikin warna baru. Film Heroes memang mampu menyedot perhatian. Sejak langganan Indovision, heroes jd tontonan wajib. Sinetro …… kELAUT! Fave ku ada Peter Patrelli. Sayang tgl 1 april adalah penayangan terakhir season 2. Tunggu bulan september mrk muncul lg . Itu pun di As

    Reply
  18. Brahm

    Thx buat Ardhi dan Adellaidde. Wah, kok dibocorin, Dhi, hehehe. Tp nggak papa, bocor dimana2 pun Heroes pasti msh punya banyak kejutan buat penontonnya. Eh, emang kamu paham cerita season 2 tanpa nonton season 1? Utk FS aku nggak tahu persis, tp kayaknya aku pernah lihat deh.

    Baru nongol September ya, Adellaidde? Nggak kelamaan tuh? 🙁

    Reply
  19. adhi

    Aku pernah lihat (bukan nonton, karena sepotong2 kecil) di tivi mana aku juga lupa, penasaran dengan blok ini akhirnya aku coba ke glodog.

    Baru mulai sesi 1 nih
    Tapi kayaknya gak mau berhenti nonton deh…

    Biar telat yang penting dapat ceritanya utuh.
    Referensi film bagus lain:
    Journey to the center of the earth, brendan frasher

    Ada cerita ttg serial LOST ?
    Bagus ga? dibanding HEROES ?

    Reply
  20. Brahm

    Journey to the Center of the Earth yg karyanya Jules Verne itu? Wah, film fantasi. Tp orang itu emang penulis novel yg mendahului jamannya, seorang futuris yg lumayan tokcer menggambarkan keadaan di masa depan. Coba deh nanti aku tonton film adaptasi kisah itu.

    “Lost” aku nggak begitu suka. Tp kamu mungkin aja punya opini yg beda. Selamat menonton, Adhi!

    Reply
  21. Pingback: 8 Basic Steps to Write A Superhero Story | Warung Fiksi

  22. daus

    itu peter kenapa tidak terbang pas meledak karna dia memang tidak bisa, saya lupa knp tapi di season 2 peter sendiri yg jelasin. lupa

    itu noah bennet knp gk nyiapin pembius, mungkin dia tidak punya trus di perusahaan pasti ada tpi dia tidak bisa ngambil krn waktu itu dia sudah jadi buron di perusahaan itu.

    🙂

    Reply
  23. Chaidir

    Kalau mau nonton online dari mana yaa?? 🙂

    Saya tahu film ini pas pertama-tama tayang di trans TV, tapi sayang gak bisa ngikutin terus. Sekarang kepikiran pengen nonton lagi. Kayaknya seru..

    Reply
  24. Yuga

    Apakah orang Indonesia malas menonton drama bertempo cepat?
    Entahlah, tapi klo menurut saya sendiri mungkin ada sesuatu hal yg tidak terlalu dipahami oleh penonton Indonesia, akan tetapi saya suka dgn cerita seperti ini, seperti dlm anime dan manga yg berisi action, drama, plot, dan penokohan yg kadang sulit dicerna

    Reply
  25. Fabiano

    Aku nonton dari download di internet. Season 1 juga belum kelar nonton..season 2 udah kelar download. season 3 baru proses download..hehe

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.