A Medicine Called Writing

Write is a cureMaybe you’ve heard this before. Write is an ageless formula, cure for dementia, medication for psychological problem. I proved it many times. When you’re anxious, frustrated, broken heart, just write. It would be even better if it’s longer and more comprehensive than a diary or poem. To write certain problem (and expand or kill it within story) is the cure for the problem. Try it.

* * *

Mungkin Anda sudah pernah mendengar ini. Menulis itu obat awet muda, obat pikun, obat untuk problem-problem psikologis. Saya berkali-kali membuktikannya. Dan saya mempersilakan Anda mencobanya sendiri.

Saat resah, kecewa, patah hati, putus cinta, menulislah. Kalau bisa lebih dari sekadar diary atau puisi. Menulislah dalam bentuk yang lebih serius dan panjang. Entah nanti cuma jadi esai atau artikel, syukur-syukur bisa jadi memoar, atau mungkin novel horor. Hm, yang bilang mustahil curhatan bisa jadi karya horor, saya tantang: berani bayar berapa kalau saya berhasil membuktikannya? Hehehe….

Intinya, menulislah! Jangan malah curhat di social media. Dari pengamatan saya, sebagian besar orang-orang yang galau di social media bukannya diberi solusi oleh teman-temannya, malah dijadikan bulan-bulanan. Jujur saja, saya juga suka risih kalau timeline saya dipenuhi curhatan-curhatan atau makian-makian seseorang.

Yah, mungkin mereka tidak mampu menulis sesuatu yang lebih panjang dan runut, saya maklumi. Tapi bagi Anda yang berkemampuan menulis, keterlaluan kalau masih saja bergalau-galau ria di social media dan membuat mood orang lain ikut negatif. Menulis sajalah yang serius. Buka Word. Lalu mulai ketik. Jangan berhenti sampai jadi karya yang dapat dibanggakan. Galau hilang, karya pun mewujud!

Saya pernah punya khayalan yang begitu mendominasi benak, yaitu tentang menyatukan dua atau lebih makhluk hidup menjadi satu. Saya ingin menjadi satu tubuh dengan orang-orang terdekat saya, supaya tak pernah kesepian dan selalu terhibur. Ini terjadi sejak saya SD, dan terus berlanjut sampai SMA. Cukup mengganggu, karena waktu saya jadi tersita banyak hanya untuk melamun dan membayangkan asyiknya bila peristiwa itu benar-benar terjadi.

Namun sekarang, pikiran-pikiran itu tidak mengganggu lagi. Tahu apa yang saya lakukan? Saya menulis Pemuja Oksigen. Di novel itu, ada plot yang berkembang dari khayalan saya semasa kecil: penggabungan manusia. Tapi tentu saja, di novel, plot ini saya rasionalisasikan.

Sejak Pemuja Oksigen kelar ditulis, saya semakin jarang melamun tentang penggabungan manusia. Barangkali karena semua sudah tertuang, sehingga tak lagi menyisakan ruang untuk membahasnya kembali. Yang selalu saya yakini, menulis masalah (dan mengembangkannya atau membunuhnya dalam cerita) adalah obat bagi masalah itu.

Saya juga pernah punya pemikiran lain yang begitu mengganggu. Yakni tentang pertanyaan, “Sampai kapan manusia hidup? Katakanlah terminal akhir adalah surga, sampai kapan kita di sana? Selamanya? Apa tidak bosan? Karena di sana sudah tidak ada tantangan. Mau rumah, langsung tercipta rumah. Mau makan, langsung ada makanan, bahkan bisa saja kita sudah tidak perlu makan-minum. Pun, tak ada orang yang perlu bantuan kita di surga, karena semua serba ada. Terus, apa yang kita kerjakan? Nganggur dong. Oh ya, kita di sana tidak sekadar satu abad, satu milenium, atau bahkan trilyunan milenium lho. Kita di sana untuk selamanya, untuk waktu yang tak hingga!”

Saya tahu, itu rentetan pertanyaan konyol, tapi sampai sekarang pun saya belum menemukan jawabannya. Pemikiran ini membuat otak saya panas. Membuat saya resah dalam ketidakberdayaan sebagai makhluk ciptaan. Nah, tahu apa yang saya lakukan kemudian?

Yah, menulis! Saya menulis skenario film pendek dengan tokoh yang juga dililit pertanyaan-pertanyaan seperti saya. Setelah filmnya terealisasi, keajaiban itu datang lagi. Saya jadi tidak memikirkan pertanyaan-pertanyaan itu lagi sampai sekarang. Di kemudian hari, saya juga menulis novel dari cerita ini lantaran merasa film pendek itu kurang detail. Kalau tidak ada aral, novel ini tahun depan akan diterbitkan oleh GagasMedia.

Terbukti kan: masalah pergi, karya pun terwujud. Maka menulislah, kawan. Sebab menulis adalah obat. Bila Terapi Sinema mengobati kita sebagai penikmat, menulis akan mengobati kita sebagai kreator. [photo from media.npr.org]

5 Replies to “A Medicine Called Writing”

  1. Rie

    Aku daripada nulis2 status mendingan ngeblog. Tapi kalo tulisannya masih blm layak dimuat, ya disimpen dulu aja. Yg penting ada “pelampiasan” stres & orang2 nggak tau aku lagi galau.

    Reply
  2. Villam

    Selamat datang… semoga betah di sini.Silakan kunjungi juga rumah saya yang baru di Di sini, adalah tempat pertama saya untuk bermimpi menjadi penulis novel fantasi profesional. Terlalu keren bahasanya? Gini aja deh: ini tempat saya belajar menulis novel. Selain buat memajang karya, beberapa tips penulisan novel fiksi juga saya tempel di sini. Lumayan, kan mesti banyak belajar… Salam dari Sang Pemimpi,Villam.
    Villam´s last blog post ..No last blog posts to return.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.